Rinduku Menuai Benih Cinta
![]() |
| weheartit.com |
Aku menengadahkan
kepalaku dengan pelan. Malam ini tampak berkabut, sang dewi malam pun
bersembunyi malu-malu di balik selimut kabut tersebut. Aku mengelus-elus pelan
bingkai foto yang sudah ku bawa sedari tadi. Terpampang jelas sosok manis
seorang pemuda pemudi di foto tersebut. Itu adalah Kazuha. Gadis manis teman
masa kecilku ketika ku singgah di Osaka dulu. Disampingnya adalah aku dengan
posisi berdiri sambil meragkul pundaknya erat.
Huh! Aku selalu
saja ingat masa-masa ketika aku masih di Sekolah Menengah Pertama dulu,
tentunya dengan Kazuha. Entah apa yang merasuki diriku, aku tak bisa melupakan
masa-masa indah itu.
Dengan malas aku
menengok jam yang asyik bertengger ria di dinding kamarku. 10.35 PM. Sudah
malam rupanya. Aku harus segera tidur sekarang, supaya esok tak telat ke
sekolah.
Aku berjalan
gontai ke ranjangku di ujung sana. Tapi tiba-tiba pandanganku jatuh ke meja
yang berada tepat di sampingnya. Bukan! Bukan meja, melainkan laptop yang bertengger di atasnya.
Iseng, ku buka laptopku dan segera
menelusuri dunia maya. Dengan gesit aku segera membuka aku email-ku. Inilah yang selalu ku lakukan setiap aku merasa rindu
kepada sosok Kazuha. Mengiriminya sebuah email
lalu chatting bersama di dunia maya.
“Udah tidur?”
Itulah kalimat yang pantas ku ketik untuk saat ini. Lima menit berlalu, sepuluh
menit berlalu, lima belas menit berlalu. Pasti dia sudah tidur. Sedikit rasa
kecewa di hatiku saat ia tak membalas emailku.
Segera ku sign out akun emailku, tapi tunggu! Ada email yang masuk. Dengan mata berbinar
aku langsung membuka email masuk
tersebut. Dari Kazuha ternyata.
“Belum. Kau
sendiri tak tidur?” Sederet kalimat itu muncul di kotak masuk emailku. Aku sangat merindukan kata-kata
itu. Tidak! Aku sangat merindukan Kazuha. Sudah tiga tahun kami tak pernah
bertemu. Ia di Osaka sana dan aku di sini, Yogyakarta. Kami berpisah saat
kelulusan SMP. Ibuku lebih memilih menyekolahkanku di Indonesia daripada di
Osaka. Urusan bisnis katanya.
“Tidak, aku tak
merasa kantuk. Aku sangat meridukanmu Kazuha!” Spontan aku menulis sederet
kalimat ini untuk melambangkan perasaanku sekarang.
“Aku juga
merindukanmu, Yoga!” Deg! Ada apa denganku? Balasan email Kazuha seperti telah membuat aku merasa di perhatikan. Aku
gugup saat ini. Apakah aku mencintai Kazuha, teman masa kecilku sendiri?
Entahlah! Mungkin kerinduanku padanya sudah menghasilkan benih cinta di hatiku.
“Kapan kau ke
Indonesia? Sudah lama kita tak berjumpa. Kau bilang kelulusan SMA nanti kau
akan mengunjungiku?” Sederet pertanyaan sudah ku tuliskan untuknya.
“Tenang saja aku
pasti akan mengunjungimu,” Pernyataannya kali ini benar-benar buatku mabuk
kepayang.
“Kau janji?”
“Janji! Aku
berangkat tiga hari lagi. Sudah malam, aku tidur. Jaga dirimu baik-baik!”
“Aku pegang
janjimu. Aku juga akan tidur,” Kalimat terakhir ini akhirnya berhasil ku ketik
di antara gejolak api kesenanganku saat ini. Aku masih tak menyangka. Apakah
ini hanya mimpi? Tiga hari lagi Kazuha akan ke Indonesia? Argh! Aku sangat
senang. Dengan senyum mengembang, ku matikan laptopku dan bergegas tidur.
***
Hari ini adalah
hari kedatangan Kazuha. Hari yang sangat ku tunggu-tunggu. Dengan perasaan
gugup aku mulai melajukan mobil sport milikku untuk menjemputnya di bandara.
Tujuh puluh menit
berlalu. Kini aku sudah menginjakkan kaki di bandara Adi Sucipto. Huh! Aku
melupakan suatu hal. Seharusnya aku meminta foto dirinya untuk memudahkan
mencari di bandara ini. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, mungkin Kazuha
sudah banyak perubahan.
“Yoga ya?” Aku
tersentak saat seseorang memanggil namaku dari belakang.
“Kazuha?” tanyaku
saat menemukan sosok gadis cantik bergaya Harajuku tersenyum manis berada di
depanku. Sontak aku langsung memeluknya erat, melepaskan segala kerinduanku padanya.
Ia sempat tersentak, tapi sedetik kemudian ia membalas pelukanku sama eratnya.
“Kazuha, kau
tampak berbeda dengan tiga tahun lalu,” ujarku sambil melepas pelukannya.
“Kau juga tampak
berbeda Yoga. Postur tubuhmu lebih tegap dan tinggi,” katanya sambil melihat
badanku dari bawah ke atas. Aku tak percaya ini. Ini benar-benar Kazuha-ku. Dia
terlihat sangat cantik. Aku pun makin cinta padanya.
***
Bayang-bayang
Kazuha sering kali muncul di benakku. Padahal ia sekarang tinggal di rumah
pamannya, satu komplek denganku. Sungguh sosok Kazuha merupakan sosok yang
masuk dalam kriteria wanita idamanku. Huh! Sepertinya aku benar-benar
mencintainya.
Malam ini
merupakan malam minggu, cocok untuk para pemuda menghabiskan waktu dengan
pasangannya atau hanya sekedar berkumpul bersama teman-teman. Begitu juga
denganku, malam kali ini aku sudah janji akan mengajak Kazuha untuk berkeliling
Malioboro bersama.
“Sudah menunggu
lama?” tanyanya kepadaku saat ku menunggu di ruang tamu rumahnya.
“Tidak. Baru juga
datang!” balasku. Benarkah ini Kazuha? Ia lebih feminim dari tiga tahun lalu.
Dengan dress selutut bewarna hitam putih dan rambut di kuncir dua rendah
menambah keanggunannya. Ia benar-benar sempurna.
“Ayo, kita
berangkat sekarang!” Aku mengangguk membalas ajakannya. Sungguh aku tak percaya
ini kenyataan.
***
Setelah puas
berkeliling Malioboro, aku dan Kazuha mampir ke sebuah café yang cukup terkenal
di Yogyakarta. Café ini memang tak semewah café-café lainnya, tapi cukup
membuat aku dan Kazuha merasa nyaman berada di sini. Setelah pesanan dua gelas
wedang ronde datang, Kazuha terlihat sangat antusias. Aku yakin ia tak sabar
untuk mencicipinya. Kira-kira lima belas menit sudah keheningan berlangsung.
“Hm.. Kazuha,”
ujarku memecah keheningan. Merasa namanya dipanggil ia mendongakkan kepala,
menghentikan aktivitas meminum wedang rondenya.
“Ada apa?”
tanyanya dengan tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuatku mabuk
kepayang.
“A..aku
mencintaimu,” ujarku spontan. Seketika itu juga aku menutup mulutku dengan
kedua tanganku. Ya Tuhan, apa yang aku ucapkan tadi? Tanpa persiapan yang
matang, tanpa bunga dan coklat, tak ada romantisnya dan hanya ditemani wedang
ronde aku menyatakan cinta padanya? Ini sungguh kesalahan yang fatal!
“Entah sejak aku
pindah dari Osaka, aku selalu merindukanmu. Mungkin ini memang aneh, tapi
rinduku berujung cinta padamu. Aku juga sempat menganggap itu hal sepele, tapi
semakin menambah rasa rinduku, semakin menambah pula rasa cintaku,” jelasku
begitu saja. Entah darimana aku mendapatkan kata-kata yang sebenarnya aku
sendiri tak mengerti maksudnya. Ia tersenyum, senyum manis seperti biasanya.
Tapi aku dapat merasakan pertanda buruk keluar dari senyuman mautnya itu.
“Aku hargai
perasaanmu Yoga. Aku juga sempat mencintaimu, tapi dulu ketika kita SMP. Untuk
saat ini maaf, aku sudah mempunyai tunangan. Pria itu adalah Mitsuhiko, anak
rekan bisnis ayahku. Aku harap kau mengerti,” ujarnya seraya memperlihatkan
cincin di jari manisnya. Seperti di sambar petir, hatiku hancur
berkeping-keping. Tak ada sisa, tak ada bekas. Habis termakan oleh rasa sakit.
***
Sudah empat tahun
aku dan Kazuha tak bertemu setelah insiden di malam minggu di Malioboro itu.
Jujur, aku sangat merindukannya. Tapi rasa rindu ini berbeda, bukan rasa rindu
antara seseorang dengan kekasihnya. Melainkan rasa rindu seseorang dengan
saudaranya sendiri. Ya, Kazuha merupakan saudara tiriku sendiri. Hasil
pernikahan antara ayah dengan istri pertamanya yang sudah cerai.
Pelan-pelan aku
mulai melepasnya. Aku pun kini sudah mempunyai seorang istri dan lagi-lagi dari
keturunan Jepang. Haruno namanya. Cantik persisi Kazuha. Sekarang ialah yang
aku cintai saat ini, sama persis cintaku dengan Kazuha waktu dulu.
“Pah, ada email masuk dari Kazuha kepadaku! Ia
bilang esok akan menikah, ai berharap kita datang esok,” seru istriku dari arah
kamarnya. Aku tersenyum kecil.
“Yaudah! Nanti
kita beli baju yah mah!” ujarku sambil tersenyum manis kearah istri yang sangat
ku cintai ini.
-FIN



0 comments