Rinduku Menuai Benih Cinta

by - 2/14/2018 11:35:00 PM

weheartit.com

Aku menengadahkan kepalaku dengan pelan. Malam ini tampak berkabut, sang dewi malam pun bersembunyi malu-malu di balik selimut kabut tersebut. Aku mengelus-elus pelan bingkai foto yang sudah ku bawa sedari tadi. Terpampang jelas sosok manis seorang pemuda pemudi di foto tersebut. Itu adalah Kazuha. Gadis manis teman masa kecilku ketika ku singgah di Osaka dulu. Disampingnya adalah aku dengan posisi berdiri sambil meragkul pundaknya erat.
Huh! Aku selalu saja ingat masa-masa ketika aku masih di Sekolah Menengah Pertama dulu, tentunya dengan Kazuha. Entah apa yang merasuki diriku, aku tak bisa melupakan masa-masa indah itu.
Dengan malas aku menengok jam yang asyik bertengger ria di dinding kamarku. 10.35 PM. Sudah malam rupanya. Aku harus segera tidur sekarang, supaya esok tak telat ke sekolah.
Aku berjalan gontai ke ranjangku di ujung sana. Tapi tiba-tiba pandanganku jatuh ke meja yang berada tepat di sampingnya. Bukan! Bukan meja, melainkan laptop yang bertengger di atasnya. Iseng, ku buka laptopku dan segera menelusuri dunia maya. Dengan gesit aku segera membuka aku email-ku. Inilah yang selalu ku lakukan setiap aku merasa rindu kepada sosok Kazuha. Mengiriminya sebuah email lalu chatting bersama di dunia maya.
“Udah tidur?” Itulah kalimat yang pantas ku ketik untuk saat ini. Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu, lima belas menit berlalu. Pasti dia sudah tidur. Sedikit rasa kecewa di hatiku saat ia tak membalas emailku. Segera ku sign out akun emailku, tapi tunggu! Ada email yang masuk. Dengan mata berbinar aku langsung membuka email masuk tersebut. Dari Kazuha ternyata.
“Belum. Kau sendiri tak tidur?” Sederet kalimat itu muncul di kotak masuk emailku. Aku sangat merindukan kata-kata itu. Tidak! Aku sangat merindukan Kazuha. Sudah tiga tahun kami tak pernah bertemu. Ia di Osaka sana dan aku di sini, Yogyakarta. Kami berpisah saat kelulusan SMP. Ibuku lebih memilih menyekolahkanku di Indonesia daripada di Osaka. Urusan bisnis katanya.
“Tidak, aku tak merasa kantuk. Aku sangat meridukanmu Kazuha!” Spontan aku menulis sederet kalimat ini untuk melambangkan perasaanku sekarang.
“Aku juga merindukanmu, Yoga!” Deg! Ada apa denganku? Balasan email Kazuha seperti telah membuat aku merasa di perhatikan. Aku gugup saat ini. Apakah aku mencintai Kazuha, teman masa kecilku sendiri? Entahlah! Mungkin kerinduanku padanya sudah menghasilkan benih cinta di hatiku.
“Kapan kau ke Indonesia? Sudah lama kita tak berjumpa. Kau bilang kelulusan SMA nanti kau akan mengunjungiku?” Sederet pertanyaan sudah ku tuliskan untuknya.
“Tenang saja aku pasti akan mengunjungimu,” Pernyataannya kali ini benar-benar buatku mabuk kepayang.
“Kau janji?”
“Janji! Aku berangkat tiga hari lagi. Sudah malam, aku tidur. Jaga dirimu baik-baik!”
“Aku pegang janjimu. Aku juga akan tidur,” Kalimat terakhir ini akhirnya berhasil ku ketik di antara gejolak api kesenanganku saat ini. Aku masih tak menyangka. Apakah ini hanya mimpi? Tiga hari lagi Kazuha akan ke Indonesia? Argh! Aku sangat senang. Dengan senyum mengembang, ku matikan laptopku dan bergegas tidur.
***
Hari ini adalah hari kedatangan Kazuha. Hari yang sangat ku tunggu-tunggu. Dengan perasaan gugup aku mulai melajukan mobil sport milikku untuk menjemputnya di bandara.
Tujuh puluh menit berlalu. Kini aku sudah menginjakkan kaki di bandara Adi Sucipto. Huh! Aku melupakan suatu hal. Seharusnya aku meminta foto dirinya untuk memudahkan mencari di bandara ini. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar, mungkin Kazuha sudah banyak perubahan.
“Yoga ya?” Aku tersentak saat seseorang memanggil namaku dari belakang.
“Kazuha?” tanyaku saat menemukan sosok gadis cantik bergaya Harajuku tersenyum manis berada di depanku. Sontak aku langsung memeluknya erat, melepaskan segala kerinduanku padanya. Ia sempat tersentak, tapi sedetik kemudian ia membalas pelukanku sama eratnya.
“Kazuha, kau tampak berbeda dengan tiga tahun lalu,” ujarku sambil melepas pelukannya.
“Kau juga tampak berbeda Yoga. Postur tubuhmu lebih tegap dan tinggi,” katanya sambil melihat badanku dari bawah ke atas. Aku tak percaya ini. Ini benar-benar Kazuha-ku. Dia terlihat sangat cantik. Aku pun makin cinta padanya.
***
Bayang-bayang Kazuha sering kali muncul di benakku. Padahal ia sekarang tinggal di rumah pamannya, satu komplek denganku. Sungguh sosok Kazuha merupakan sosok yang masuk dalam kriteria wanita idamanku. Huh! Sepertinya aku benar-benar mencintainya.
Malam ini merupakan malam minggu, cocok untuk para pemuda menghabiskan waktu dengan pasangannya atau hanya sekedar berkumpul bersama teman-teman. Begitu juga denganku, malam kali ini aku sudah janji akan mengajak Kazuha untuk berkeliling Malioboro bersama.
“Sudah menunggu lama?” tanyanya kepadaku saat ku menunggu di ruang tamu rumahnya.
“Tidak. Baru juga datang!” balasku. Benarkah ini Kazuha? Ia lebih feminim dari tiga tahun lalu. Dengan dress selutut bewarna hitam putih dan rambut di kuncir dua rendah menambah keanggunannya. Ia benar-benar sempurna.
“Ayo, kita berangkat sekarang!” Aku mengangguk membalas ajakannya. Sungguh aku tak percaya ini kenyataan.
***
Setelah puas berkeliling Malioboro, aku dan Kazuha mampir ke sebuah café yang cukup terkenal di Yogyakarta. Café ini memang tak semewah café-café lainnya, tapi cukup membuat aku dan Kazuha merasa nyaman berada di sini. Setelah pesanan dua gelas wedang ronde datang, Kazuha terlihat sangat antusias. Aku yakin ia tak sabar untuk mencicipinya. Kira-kira lima belas menit sudah keheningan berlangsung.
“Hm.. Kazuha,” ujarku memecah keheningan. Merasa namanya dipanggil ia mendongakkan kepala, menghentikan aktivitas meminum wedang rondenya.
“Ada apa?” tanyanya dengan tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuatku mabuk kepayang.
“A..aku mencintaimu,” ujarku spontan. Seketika itu juga aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Ya Tuhan, apa yang aku ucapkan tadi? Tanpa persiapan yang matang, tanpa bunga dan coklat, tak ada romantisnya dan hanya ditemani wedang ronde aku menyatakan cinta padanya? Ini sungguh kesalahan yang fatal!
“Entah sejak aku pindah dari Osaka, aku selalu merindukanmu. Mungkin ini memang aneh, tapi rinduku berujung cinta padamu. Aku juga sempat menganggap itu hal sepele, tapi semakin menambah rasa rinduku, semakin menambah pula rasa cintaku,” jelasku begitu saja. Entah darimana aku mendapatkan kata-kata yang sebenarnya aku sendiri tak mengerti maksudnya. Ia tersenyum, senyum manis seperti biasanya. Tapi aku dapat merasakan pertanda buruk keluar dari senyuman mautnya itu.
“Aku hargai perasaanmu Yoga. Aku juga sempat mencintaimu, tapi dulu ketika kita SMP. Untuk saat ini maaf, aku sudah mempunyai tunangan. Pria itu adalah Mitsuhiko, anak rekan bisnis ayahku. Aku harap kau mengerti,” ujarnya seraya memperlihatkan cincin di jari manisnya. Seperti di sambar petir, hatiku hancur berkeping-keping. Tak ada sisa, tak ada bekas. Habis termakan oleh rasa sakit.
***
Sudah empat tahun aku dan Kazuha tak bertemu setelah insiden di malam minggu di Malioboro itu. Jujur, aku sangat merindukannya. Tapi rasa rindu ini berbeda, bukan rasa rindu antara seseorang dengan kekasihnya. Melainkan rasa rindu seseorang dengan saudaranya sendiri. Ya, Kazuha merupakan saudara tiriku sendiri. Hasil pernikahan antara ayah dengan istri pertamanya yang sudah cerai.
Pelan-pelan aku mulai melepasnya. Aku pun kini sudah mempunyai seorang istri dan lagi-lagi dari keturunan Jepang. Haruno namanya. Cantik persisi Kazuha. Sekarang ialah yang aku cintai saat ini, sama persis cintaku dengan Kazuha waktu dulu.
“Pah, ada email masuk dari Kazuha kepadaku! Ia bilang esok akan menikah, ai berharap kita datang esok,” seru istriku dari arah kamarnya. Aku tersenyum kecil.
“Yaudah! Nanti kita beli baju yah mah!” ujarku sambil tersenyum manis kearah istri yang sangat ku cintai ini.

-FIN

You May Also Like

0 comments