All Because Love
Hari ini hujan turun dengan deras. Tampak seorang gadis tengah duduk tertegun di bawah halte, menatap pancuran-pancuran air yang tengah bergerumul hebat. Pandangannya kosong. Berkali-kali ia sudah menarik nafas berat, menghilangkan penat di dada mungkin. Hujan mulai reda sekarang. Gadis itu mendengus kesal seiring kepergian rintik hujan. Pantas saja, ia begitu menyukai gerombolan-gerombolan air yang turun dari kelabut abu-abu itu.
Hujan yang membawanya kepada kebahagiaan. Hujan juga yang membuatnya merasa nyaman. Hingga hujan juga yang dapat menutupi bulir-bulir kristal yang terus bergerumul hebat di pelupuk matanya. Hanya hujan, hujan dan hujan.
“Chrysant!” Merasa seseorang memanggil namanya, gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Pandangannya jatuh pada sosok yang tengah melambaikan tangan kepadanya di seberang sana. Chrysant tersenyum simpul walau pikirannya masih tertuju pada keelokan hujan.
Seorang pemuda berbadan tegap kini sudah berada di hadapannya. Menatap wajah manis gadis di hadapannya. Lalu duduk bersender di samping kanan Chrysant. Pemuda itu menundukkan kepala lalu menarik nafas berat.
“Maaf, aku telat,” gumamnya kecil tapi masih terdengar di telinga Chrysant. Chrysant tertawa renyah lalu menatap lembut lekuk-lekuk tampan wajah pemuda di sebelahnya.
“Aku juga baru datang,” Chrysant tersenyum simpul lalu menyapukan pandangannya ke arah jalan raya yang sunyi senyap.
“Kau ini sama saja,” Bintang –pemuda itu- tertawa renyah sambil mengacak-acak rambut gadis yang berada di sampingnya. Sementara Chrysant menarik kedua ujung bibirnya membuat sebuah lengkung senyuman.
***
“Chrysant ayo sini!” Seorang pemuda berdiri tegak di area jalan raya yang sepi. Dengan bermandikan guyuran hujan, ia mengajak gadis yang disayanginya mendekat ke arahnya. Chrysant tersenyum simpul lalu menggeleng sopan. Tampak semburat kekecewaan di wajah tampan pemuda tersebut.
“Ayolah Chrysant! Hanya hujan saja kau tak berani! Payah!” Pemuda itu berjalan menuju arah Chrysant. Dibawanya Chrysant di tengah rintik-rintik air itu.
“Bintang, nanti aku bisa sakit,” protes Chrysant sambil memanyunkan bibirnya, sementara Bintang hanya terkekeh geli. Di tariknya tangan Chrysant paksa ke arah trotoar di pinggir jalan. Chrysant tak bergeming. Diikutinya setiap langkah kaki Bintang hingga keduanya sekarang duduk di trotoar tersebut.
“Dinginnya,” Chrysant menggigil kedinginan. Diliriknya wajah tampan Bintang yang tidak mau tahu tentang keadaan dirinya. Baru kali ini ia menemukan sosok laki-laki yang tak pernah melindunginya dari guyura hujan.
“Bintang aku serius, aku kedinginan,” Kali ini Chrysant berusaha meyakinkan kekasihnya. Berharap Bintang akan melindungi dan memelukny erat. Tapi semua di luar dugaan. Nihil. Bintang hanya meliriknya sekilas lalu tersenyum meremehkan.
“Jangan lemah! Hujan sangat baik bagi kita. Aku yaki kau tak kedinginan. Lihat, bibirmu saja tak pucat. Ayolah ini sangat menyenangkan!” Seperti anak kecil yang asyik bermain hujan, Bintang menarik tangan Chrysant, mengajaknya berdiri.
“Aku mau kita foto!” Chrysant membolakan matanya. Tak biasanya Bintang menjadi childish seperti ini. Sedetik kemudian ia tersenyum kecil. Entah apa yang merasukinya, Chrysant ingin terus membuat Bintang tersenyum kali ini. “Ayo, siapa takut?” ujarnya mendelik nakal sambil merangkul pundak Bintang.
Bintang segera mengeluarkan kameranya dan meminta tolong salah seorang pejalan kaki yang sedang asyik berteduh. Ia merangkul erat Chrysant dan berfoto ria di tengah guyuran hujan.
Beberapa kali hasil foto cukup memuaskan keduanya. Bintang segera berjalan menuju trotoar yang tadi menjadi singgah sananya disusul Chrysant. Chrysant duduk tepat di samping kanan Bintang, menatap wajahnya lekat-lekat. Dan meniti setiap lekuk-lekuk pahatan indah wajah Bintang. Merasa diperhatikan oleh Chrysant, Bintang lantas menoleh ke arah Chrysant. Sedetik kemudian ia tersenyum sapi, sementara Chrysant hanya terkekeh geli menyaksikan kekasihnya yang bersikap tak seperti biasanya ini.
“Kau ini kenapa sih?” tanya Chrysant yang bingung akan perubahan sifat makhluk yang ada di sampingnya ini. Saat itu juga mimic muka Bintang berubah. Pandangannya kosong, menerawang jalan raya yang sepi senyap.
Saat itu juga ia berdiri, berjalan ke tengah jalan raya. Ia meyapukan pandangannya ke seluruh pelosok jalan. Sepi. Keadaan itulah yang tercipta di seluruh ruas jalan. Bintang tersenyum pahit, meniti setiap lekuk indah wajah Chrysant.
“Liat ini aku gak apa-apa kan?” tanyanya mendelik yakin, sementara Chrysant hanya tersenyum masam. Entah apa yang mengusiknya, Chrysant merasakan sesuatu yang tak enak di batinnya. Seperti gelagak buruk atau entahlah ia juga tak tahu.
BRUAK!!
Chrysant seketika histeris melihat Bintang terkapar di jalan dengan berlumuran darah. Secara tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan danlangsung menabrak Bintang yang sedang berdiri di tengah jalan. Bau anyir nan amis itu kini menyeruak hebat di saluran pernafasannya. Chrysant seketika menghampiri Bintang, memegang tangannya lalu berteriak minta tolong.
Mata Bintang buram. Seperti ada seribu gerombolan semut bermukim di matanya. Ia merasa badannya melayang. Ringan. Matanya kini mulai berat, telinganya mulai berdengung. Tapi ia mash dapat mendengar dan melihat siapa seseorang yang menangis histeris di depannya sambil menyebut namanya. Chrysant, cinta sejatinya.
“Bintang bangun!” jerit Chrysant sambil terus menjatuhkan air mata.
***
Bintang mengerjap-ngerjapkan matanya. Sebenang siluet putih muai memasuki sela-sela kamar bernuansa putih itu. Ia bangun dari tidurnya, menyapukan pandangan ke pelosok kamar yang asing baginya. Rumah sakit?, pikirnya.
KREK!
Mendengar kenop pintu terbuka, seketika Bintang menjatuhkan pandangannya kepada gadis manis di balik pintu tersebut.
“Chrysant!” Bintang tersenyum merekah. Ia kemudian beringsut dari kasurnya hendak menuju Chrysant. BRUK! Seketika ia jatuh ke tanah. Chrysant yang meihatnya langsun menghampiri dan membantunya berdiri. Bintang tertegun, matanya berkaca-kaca melihat keadaannya sekarang.
“Kakiku satunya mana?” tanya Bintang menatap nanar manik mata Chrysant. Chrysant terdiam, mengalihkan pandangan lalu menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.
“Kakimu diamputasi, Bin,” lirihnya pelan. Bintang terdiam sambil terus memandangi kaki kanannya yang hanya setengah. Ia kemudian dibantu Chrysant untuk duduk di tepi ranjang.
“Jangan nangis! Yang penting aku selamat bukan?” Seketika putaran-putaran film jadul itu memenuhi otaknya, menggerayangi ubun-ubunnya. Ia sangat ingat bagaimana kecelakaan yang menimpa dirinya di tengah guyuran hujan.
“Iya,” jawab Chrysant lemah disertai anggukan kecil dari kepalanya. Ia tak menyangka Bintang akan setegar itu menghadapi semuanya. Ditatapnya wajah sendu Bintang, lalu dipeluknya pemuda itu erat-erat seakan takut kehilangannya.
“Jangan pernah tinggalin aku,” lirihnya terisak disela-sela pelukannya. Bintang yang mendengarnya balik memeluknya sama eratnya dengan Chrysant lalu tersenyum tipis.
***
Dengan hati-hati Bintang duduk di sebelah Chrysant, menarik nafas sebentar lalu mengeluarkannya perlahan.
“Sudah tiga bulan semenjak ku kehilangan kakiku, aku selalu merepotkanmu. Kau masih betah? Tak cari saja yang lebih baik dariku?” tanyanya sambil memandang ke seberang jalan, tepatnya di trotoar. Trotoar yang mampu menghilangkan satu kakinya dan juga trotoar tempat kenangan indah Chrysant dan dirinya.
Chrysant yang mendengar ucapan Bintang langsung mendengus kesal. “Sudah berapa kali kau bicara seperti itu? Apa tak bosan? Aku cinta padamu, tak mau yang lain. Sudah jangan bahas itu! Katanya kita mau makan?” kata Chrysant ngambek sambil mengerucutkan bibirnya. Bintang terkekeh geli. Ia bahkan tak tahu sudah berapa kali ia melontarkan pertanyaan bodoh itu pada Chrysant.
“Kau tahu? Bagaimana wujudmu, aku tetap mencintaimu. All Because Love,” gumam Chrysant kecil, tapi masih dapat terdengar di telinga Bintang. Bintang tertegun lalu memeluk erat gadis di sampingnya ini seakan tak mau meninggalkannya.
Hujan kini berhenti, Bintang segera melepaskan pelukannya. Diajaknya gadis ini ke restaurant café di seberang jalan. Terlihat jelas pelangi yang nampak muncul di langit biru laut. Dengan semangat, Chrysant dan Bintang berjalan menyebrangi jalan maut itu. Namun dari arah kanan lagi-lagi sebuah mobil sedan tengah melaju kencang.
BRUAK!!
Kecelakaan bermandikan warna pelangi itupun tak dapat dicegah.
-fin



0 comments