Mysterious Box

by - 2/14/2018 12:46:00 PM


weheartit.com

Sudut ibukota Jakarta ini masih terlihat ramai, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dengan wajah bingung ia memutari sudut kota Jakarta tersebut. Satu per satu toko perbelanjaan ia masuki tapi tak mendapatkan satu barang yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pemuda berpostur tinggi tegap ini tak menyerah begitu saja. Bagi Aldy ini adalah kesempatan berharga yang tak boleh dilewatkan. Ya, ia berencana untuk mengusili kekasihnya sekaligus memberinya surprise dengan melamarnya esok hari, tepat perayaan April Mop dilaksanakan.
Sekitar satu jam ia berkeliling mencari barang yang tepat, tapi tak satupun cocok dengan tujuannya itu. Aldy merasa kini badannya mulai pegal. Kemudian untuk melepas lelah ia parkirkan motornya di daerah pinggiran Jakarta, lalu ia rebahkan tubuhnya di bangku umum yang terdapat di dekat situ. Aldy menyapukan pandangannya ke sekitar daerah itu. Sepi. Tak biasanya keadaan menjadi sepi begini, tapi ia bersyukur karena dengan suasana yang sepi, ia dapat berpikir benda apa yang mencakup keusilan sekaligus menjadi surprise untuk kekasihnya, Nindy.
Aldy menarik nafas dalam-dalam, kemudian dikeluarkannya sisa-sisa pernafasan dengan perlahan. Setelah tubuhnya mulai rileks kembali, ia mulai berpikir benda apa yang cocok untuk diberikan kekasihnya esok hari. Disela-sela berpikirnya, ekor matanya menangkap sesuatu. Toko di sebelah gang kecil tepat diseberang sana menyita perhatiannya. Aldy mulai berjalan mendekati toko tersebut dengan bermandikan lampu-lampu pinngir jalan yang redup.
Kini posisinya berada tepat di depan toko tersebut. The crazy toys Aldy membaca tulisan yang terukir tepat di pintu masuk toko tersebut. Dengan dua buah kera meringkuk di pintu masuk ditambah arsitekturnya yang terkesan kuno namun artistik. Aldy menatap toko itu dengan antusias, lekuk-lekuk toko itu pun dilihatnya dengan seksama. Setelah mendapati tulisan bertuliskan ‘Buka’, ia mulai membuka knop pintu dengan tangan kanannya dan melangkah masuk ke dalamnya.
“Selamat datang!” Aldy tersenyum kecil menjawab sapaan ramah lelaki penjaga toko tersebut.
Mata Aldy tak henti-hentinya membola melihat berbagai macam benda aneh yang berada di sekitarnya. Ia tak habis pikir ada saja benda asing yang dijual di toko ini. Sejenak ia teringat ukiran di depan pintu masuk tersebut.
“The crazy toys sama dengan mainan-mainan gila. Hahaha pantas!” gumamnya pelan.
Dengan rasa penasaran dan ketertarikan yang cukup tinggi Aldy mulai berkeliling memilih benda apa yang pantas ia berikan untuk Nindy. Setiap benda diberi label tersendiri, sehingga ia tahu akan kegunaan benda-benda tersebut. Disaat yang sama, ekor mata Aldy menangkap sesuatu yang membuatnya tertarik untuk membukanya. Sebuah box persegi berukuran kecil, bewarna merah dan berhiaskan pita putih diatasnya. Tak ada label di bawah benda tersebut. Aldy rasa ini adalah benda istimewa baginya, selain benda satu-satunya yang tak berlabel, box merah ini juga seperti mengeluarkan secercah cahaya walau redup. Dengan sedikit keraguan Aldy mengambil box tersebut dan mulai membukanya.
“AARRGGGGHHHH!!!” Aldy berteriak kencang sampai terpelanting jatuh saat mendapati sosok boneka badut menyeramkan dengan mata sabit mengerling sinis dan senyum mengembang keluar meluncat dari dalam box merah itu.
“Ada apa mas? Kok ribut banget?” suara berat menghampirinya. Melihat posisi Aldy yang terjungkal dengan badan terlentang sambil terus memegang box merah yang masih mengeluarkan boneka badut itu, si penjaga toko terkekeh geli.
“Untung itu boneka ada per-nya mas! Coba kalau tidak? Pasti itu boneka udah kemana-mana, terus ilang. Rugi saya!” penjaga toko itu mengelus dada sambil terus bersyukur.
Aldy terdiam memperhatikan boneka tersebut yang masih menempel pada per box merah itu. Sekilas ia bergidik ngeri memperhatikan lekuk-lekuk dari boneka itu. Tiba-tiba matanya menangkap benda berkilau yang sangat indah. Sebuah cincin putih berhiaskan berlian kini berada di tangan Aldy, setelah sebelumnya ia berusaha payah melepaskannya dari tangan boneka badut tersebut. Ia berpikir sejenak, lalu semburat kegembiraan terlukis di wajahnya yang kini menjadi mengembang. Akhirnya, ia sudah berhasil mendapatkan apa yang ia butuhkan.
“Berapa mas ini harganya?” Aldy bangun dari posisinya sambil merapikan bajunya yang berantakan.
“Cuma seratus lima puluh ribu saja kok mas!” ujar si penjaga toko sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Dengan tetap stay cool walau masih dalam suasana insiden memalukan tadi, Aldy menyerahkan tiga lembar uang lima puluh ribuan dan beranjak pergi meninggalkan toko tersebut.
Kini posisinya kembali lagi di bangku umum yang terletak di pinggir jalan tadi. Masih sepi. Itulah keadaan yang nampak sekarang ini. Dilihatnya jam yang bertengger manis di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan gontai Aldy menaiki motor Ninjanya yang masih anteng menunggu sang empu-nya. Sebelum menjalankan motornya Aldy sempat melirik toko antik tadi, sedetik kemudian seluruh kepalanya serentak mengarah ke toko tersebut bersamaan dengan matanya yang membola. Aldy tak percaya toko yang barusan di masukinya tiba-tiba hilang entah kemana. Adapun yang menggantikannya hanyalah bangunan reot seperti gubuk tua yang rapuh. Aldy merasa kini bulu kuduknya mulai berdiri. Dengan bergidik ngeri ia mulai menjalankan mesin motornya dan mengegasnya sekencang mungkin.

***

Saat ini Aldy berada disalah satu Coffe Café terkenal di pinggiran Jakarta Pusat untuk menenangkan hatinya yang masih shock dengan kejadian aneh tadi. Jujur, hati Aldy merasa sangat penasaran tentang bangunan toko tersebut tapi disisi lain ia sendiri tak berani berbuat lebih jauh lagi. Sambil menyedot Cappucino ketiganya, ia memperhatikan box merah yang kini berada dihadapannya dengan seksama.
“Kali ini lo buat gue gila! Mungkin besok lo buat calon istri gue autis!” gumamnya geram sambil menunjuk-nunjuk box merah tersebut.
Rasa bosan kini menyelimuti hati Aldy. Ia tengadahkan kepalanya menghadap keluar jendela yang berada di sampingnya, melihat miniatur air terjun yang dapat dilihat dibelakang kaca transparan. Sedetik kemudian pandangannya teralihkan oleh kedatangan dua sosok pemuda pemudi yang sangat ia kenal sedang memasuki Coffe Café, tempat Aldy berkunjung sekarang.
“Nindy, ngapain kamu kesini sama Roy? Bukannya kamu pergi?” tanya Aldy curiga. Ia beku ditempat, tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ditambah dengan waktu yang sudah menunjukkan tengah malam.
“Ehmm.. ini.. kita mau ke..” belum sempat Nindy melanjutkan omongannya Aldi beranjak pergi dari tempat itu. Wajahnya panas. Mungkin nanti ia akan menangis. Calon istrinya berselingkuh dengan sahabatnya adalah hal yang paling ia tidak inginkan.
“Makasih surprise-nya di April Mop tahun ini!” ucapnya datar ketika melewati Nindy dan Roy.
“Ta..tapi Dy, lo salah paham!” terka Roy sambil sedikit teriak.
Aldy terus berjalan menuju motornya yang terparkir manis di parkiran. Tak lupa ia juga membawa box merah yang tadi dibelinya. Mungkin akan menjadi kenangan terakhir untuknya. Aldy menyalakan mesin motor Ninja kesayangannya tanpa menghiraukan teriakan Roy dan Nindy yang sedari tadi menyebut dua kata, ‘Salah paham’. Baginya melihat dengan mata sendiri adalah bukti yang nyata, apalagi ditambah situasi waktu yang kini sudah tengah malam.
Disisi lain Nindy menjadi merasa bersalah terhadap Aldy, begitu pula dengan Roy, ia tak habis pikir ia akan bertemu dengan Aldy di tempat ini. Nindy menghela nafas berat kemudian ia keluarkan secara perlahan. Ia sudah pasrah apa yang akan terjadi besok. Rencana yang ia susun dengan matang bersama Roy berantakan sudah. Ditambah kini Aldy yang menjadi objeknya kecewa dan marah hanya karena sebuah kesalah pahaman. Sekitar sepuluh menit kini diantara Roy dan Nindy hening. Keadaan memaksa mereka untuk membisu sampai Roy tersenyum sumringah lalu memanggil Nindy.
“Nin!” panggil Roy dengan secercah senyum yang mulai mengembang di wajahnya.
“Apa sih?” Nindy dengan malas menjawab pertanyaan Roy.
“Gue punya ide!”
“Apa lagi ide lo? Hancur deh rencana kita buat kasih kejutan ke Aldy!” ujar Nindy dengan perasaan kecewa.
“Sini dulu!” Roy mengibaskan tangannya tepat di depan muka Nindy. Dengan malas Nindy mendekat dan mendengarkan ide-ide Roy. Sedetik kemudian kecerian di wajahnya mulai nampak.
“Bisa juga ide lo!”

***

Secercah sinar matahari datang menyilaukan menembus jendela kamar Aldy. Ia merutuki dirinya yang terbangun lebih awal dari biasanya. Mendengar suara bisik-bisik, Aldy dengan malas membuka matanya secara perlahan. Ia langsung membuang muka layaknya seorang anak kecil yang ngambek karena tidak dibelikan permen oleh ibunya ketika melihat siapa sosok yang kini berada dihadapannya itu.
“Surprise! April mop! Dan Selamat Ulang Tahun Aldy!” Roy dan Nindy sekarang berada di hadapan Aldy sambil membawa kue ulang tahun dan sebuah box kuning mirip dengan punya Aldy. Aldy heran apa yang dimaksud oleh kekasih dan sahabatnya ini. Kemudian ia mengecek kalender yang berada di atas meja samping ranjangnya. Benar ini adalah hari ulang tahunnya! Ia bahkan baru ingat kalau ini hari ulang tahunnya.
“Masih inget lo ini ultah gue?” ketus Aldy. Jujur, ia sangat bahagia melihat kekasih dan sahabatnya memberikan surprise yang spesial ini, tapi segera ditepisnya mengingat kejadian memuakkan tadi malam.
“Aishh Aldy, jahat banget! Dibilang salah paham juga! Tadi malem itu kita nyari hadiah sama kue ulang tahun buat kamu,” terka Nindy sambil mengerucutkan bibir. Aldy terdiam sejenak mencerna kata-kata yang dikeluarkan dari mulut Nindy. Mungkin benar ia telah salah paham.
“Ini bukan alasan kamu doang kan?” tanya Aldy memastikan.
“Ya bukanlah! Lagian gantengan kamu daripada Roy” puji Nindy tulus sambil duduk ditepi ranjang Aldy sedangkan Roy hanya bisa berkata ‘Amin’ menanggapi omongan Nindy.
“Kue ulang tahunnya tiup dulu dong!” lanjut Nindy menyodorkan kue ulang tahunnya ke arah Aldi. Fiuhh.. Aldy segera meniup kue tersebut setelah sebelumnya ia sempatkan untuk berdoa.
“Sekarang lo buka ini!” Aldy menatap sinis ke arah sahabatnya sedangkan Roy mengerling nakal membalas tatapan Aldy. Ia menghela nafas berat lalu dibukanya box kuning yang diberikan Roy kepadanya.
Jeduakk!
Sesuatu yang besar dan keras menghantam wajahnya dan sukses mendarat di hidung mancung Aldy, membuat dirinya jatuh dari posisi duduknya. Melihat kelucuan ekspresi yang diperlihatkan Aldy, Nindy dan Roy terkekeh geli.
“Aww!” ringisnya kesakitan. Dipegangnya hidung mancungnya yang memerah dengan erat. Lalu dilihatnya box kuning yang kini mengeluarkan kepalan tangan bewarna merah yang sukses menghantam hidungnya ini.
“Ini buat yang salah paham! Hahaha” tertawa kemenangan kini terukir di wajah Nindy dan Roy. Akhirnya rencana yang telah mereka susun sejak dua minggu lalu berjalan dengan sukses.
“Makasih ya sayang kuenya sama TINJUNYA!” ucap Aldy sambil menekankan kata terakhirnya. Nindy dan Roy kembali lagi terkekeh geli. Tiba-tiba Aldy mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan. Diambilnya box merah yang dibelinya di toko aneh tadi malam lalu diberikannya box itu ke Nindy.
“Aku juga ada hadiah buat kamu sayang. Ini dibuka ya!” Nindy menatap Aldy heran, begitu pula dengan Roy sementara Aldy tersenyum nakal. Tak biasanya Aldy berbuat seperti ini, kecuali hari-hari special Nindy. Dengan ragu-ragu Nindy membuka box merah tersebut setelah sebelumnya sempat mengintip box tersebut.
“Apaan ini? Arghhhhhhhhhhhh!!” Aldy terkekeh geli ketika mendapati kekasihnya shock ketika mendapati boneka badut menyeramkan keluar dari dalam box merah tersebut.
“Dasar! Bales dendam sama aku!” ujar Nindy mengerucutkan bibir. Aldy terdiam. Diambilnya cincin putih berkilau dari tangan boneka badut itu. Sejenak Roy mulai mengerti apa yang akan dilakukan sahabatnya ini.
“Will you marry me?” tanya Aldy serius sambil menunjukkan cincin putih tersebut.

“Yes!” jawab Nindy matang. Seketika itu pula Aldy langsung memeluk kekasihnya ini dan memakaikan cincin putih tersebut ke jari manis Nindy. Kebahagian terpancar jelas dari raut wajah Aldy dan Nindy. Sama dengan Aldy dan Nindy, Roy sebagai sahabatnya juga sangat bahagia. Baginya ini adalah April Mop dan ulang tahun Aldy terindah.

-fin

You May Also Like

0 comments