Mysterious Box
![]() |
| weheartit.com |
Sudut ibukota
Jakarta ini masih terlihat ramai, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh
malam. Dengan wajah bingung ia memutari sudut kota Jakarta tersebut. Satu per
satu toko perbelanjaan ia masuki tapi tak mendapatkan satu barang yang sesuai dengan
kebutuhannya.
Pemuda berpostur
tinggi tegap ini tak menyerah begitu saja. Bagi Aldy ini adalah kesempatan
berharga yang tak boleh dilewatkan. Ya, ia berencana untuk mengusili kekasihnya
sekaligus memberinya surprise dengan
melamarnya esok hari, tepat perayaan April Mop dilaksanakan.
Sekitar satu jam
ia berkeliling mencari barang yang tepat, tapi tak satupun cocok dengan tujuannya
itu. Aldy merasa kini badannya mulai pegal. Kemudian untuk melepas lelah ia
parkirkan motornya di daerah pinggiran Jakarta, lalu ia rebahkan tubuhnya di
bangku umum yang terdapat di dekat situ. Aldy menyapukan pandangannya ke
sekitar daerah itu. Sepi. Tak biasanya keadaan menjadi sepi begini, tapi ia
bersyukur karena dengan suasana yang sepi, ia dapat berpikir benda apa yang
mencakup keusilan sekaligus menjadi surprise
untuk kekasihnya, Nindy.
Aldy menarik nafas
dalam-dalam, kemudian dikeluarkannya sisa-sisa pernafasan dengan perlahan.
Setelah tubuhnya mulai rileks kembali, ia mulai berpikir benda apa yang cocok untuk
diberikan kekasihnya esok hari. Disela-sela berpikirnya, ekor matanya menangkap
sesuatu. Toko di sebelah gang kecil tepat diseberang sana menyita perhatiannya.
Aldy mulai berjalan mendekati toko tersebut dengan bermandikan lampu-lampu
pinngir jalan yang redup.
Kini posisinya
berada tepat di depan toko tersebut. The crazy toys Aldy membaca tulisan
yang terukir tepat di pintu masuk toko tersebut. Dengan dua buah kera meringkuk
di pintu masuk ditambah arsitekturnya yang terkesan kuno namun artistik. Aldy
menatap toko itu dengan antusias, lekuk-lekuk toko itu pun dilihatnya dengan
seksama. Setelah mendapati tulisan bertuliskan ‘Buka’, ia mulai membuka knop
pintu dengan tangan kanannya dan melangkah masuk ke dalamnya.
“Selamat datang!”
Aldy tersenyum kecil menjawab sapaan ramah lelaki penjaga toko tersebut.
Mata Aldy tak
henti-hentinya membola melihat berbagai macam benda aneh yang berada di sekitarnya.
Ia tak habis pikir ada saja benda asing yang dijual di toko ini. Sejenak ia
teringat ukiran di depan pintu masuk tersebut.
“The crazy toys
sama dengan mainan-mainan gila. Hahaha pantas!” gumamnya pelan.
Dengan rasa
penasaran dan ketertarikan yang cukup tinggi Aldy mulai berkeliling memilih
benda apa yang pantas ia berikan untuk Nindy. Setiap benda diberi label
tersendiri, sehingga ia tahu akan kegunaan benda-benda tersebut. Disaat yang
sama, ekor mata Aldy menangkap sesuatu yang membuatnya tertarik untuk
membukanya. Sebuah box persegi berukuran kecil, bewarna merah dan berhiaskan
pita putih diatasnya. Tak ada label di bawah benda tersebut. Aldy rasa ini
adalah benda istimewa baginya, selain benda satu-satunya yang tak berlabel, box
merah ini juga seperti mengeluarkan secercah cahaya walau redup. Dengan sedikit
keraguan Aldy mengambil box tersebut dan mulai membukanya.
“AARRGGGGHHHH!!!” Aldy
berteriak kencang sampai terpelanting jatuh saat mendapati sosok boneka badut
menyeramkan dengan mata sabit mengerling sinis dan senyum mengembang keluar
meluncat dari dalam box merah itu.
“Ada apa mas? Kok
ribut banget?” suara berat menghampirinya. Melihat posisi Aldy yang terjungkal
dengan badan terlentang sambil terus memegang box merah yang masih mengeluarkan
boneka badut itu, si penjaga toko terkekeh geli.
“Untung itu boneka
ada per-nya mas! Coba kalau tidak? Pasti itu boneka udah kemana-mana, terus
ilang. Rugi saya!” penjaga toko itu mengelus dada sambil terus bersyukur.
Aldy terdiam
memperhatikan boneka tersebut yang masih menempel pada per box merah itu. Sekilas
ia bergidik ngeri memperhatikan lekuk-lekuk dari boneka itu. Tiba-tiba matanya
menangkap benda berkilau yang sangat indah. Sebuah cincin putih berhiaskan
berlian kini berada di tangan Aldy, setelah sebelumnya ia berusaha payah
melepaskannya dari tangan boneka badut tersebut. Ia berpikir sejenak, lalu
semburat kegembiraan terlukis di wajahnya yang kini menjadi mengembang.
Akhirnya, ia sudah berhasil mendapatkan apa yang ia butuhkan.
“Berapa mas ini
harganya?” Aldy bangun dari posisinya sambil merapikan bajunya yang berantakan.
“Cuma seratus lima
puluh ribu saja kok mas!” ujar si penjaga toko sambil memamerkan deretan gigi
putihnya. Dengan tetap stay cool walau masih dalam suasana insiden
memalukan tadi, Aldy menyerahkan tiga lembar uang lima puluh ribuan dan
beranjak pergi meninggalkan toko tersebut.
Kini posisinya
kembali lagi di bangku umum yang terletak di pinggir jalan tadi. Masih sepi.
Itulah keadaan yang nampak sekarang ini. Dilihatnya jam yang bertengger manis
di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan gontai Aldy menaiki
motor Ninjanya yang masih anteng menunggu sang empu-nya. Sebelum menjalankan
motornya Aldy sempat melirik toko antik tadi, sedetik kemudian seluruh
kepalanya serentak mengarah ke toko tersebut bersamaan dengan matanya yang
membola. Aldy tak percaya toko yang barusan di masukinya tiba-tiba hilang entah
kemana. Adapun yang menggantikannya hanyalah bangunan reot seperti gubuk tua
yang rapuh. Aldy merasa kini bulu kuduknya mulai berdiri. Dengan bergidik ngeri
ia mulai menjalankan mesin motornya dan mengegasnya sekencang mungkin.
***
Saat ini Aldy
berada disalah satu Coffe Café
terkenal di pinggiran Jakarta Pusat untuk menenangkan hatinya yang masih shock
dengan kejadian aneh tadi. Jujur, hati Aldy merasa sangat penasaran tentang
bangunan toko tersebut tapi disisi lain ia sendiri tak berani berbuat lebih
jauh lagi. Sambil menyedot Cappucino ketiganya, ia memperhatikan box merah yang
kini berada dihadapannya dengan seksama.
“Kali ini lo buat
gue gila! Mungkin besok lo buat calon istri gue autis!” gumamnya geram sambil
menunjuk-nunjuk box merah tersebut.
Rasa bosan kini
menyelimuti hati Aldy. Ia tengadahkan kepalanya menghadap keluar jendela yang
berada di sampingnya, melihat miniatur air terjun yang dapat dilihat dibelakang
kaca transparan. Sedetik kemudian pandangannya teralihkan oleh kedatangan dua
sosok pemuda pemudi yang sangat ia kenal sedang memasuki Coffe Café, tempat Aldy berkunjung sekarang.
“Nindy, ngapain
kamu kesini sama Roy? Bukannya kamu pergi?” tanya Aldy curiga. Ia beku
ditempat, tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ditambah dengan waktu
yang sudah menunjukkan tengah malam.
“Ehmm.. ini.. kita
mau ke..” belum sempat Nindy melanjutkan omongannya Aldi beranjak pergi dari
tempat itu. Wajahnya panas. Mungkin nanti ia akan menangis. Calon istrinya
berselingkuh dengan sahabatnya adalah hal yang paling ia tidak inginkan.
“Makasih surprise-nya di April Mop tahun ini!”
ucapnya datar ketika melewati Nindy dan Roy.
“Ta..tapi Dy, lo
salah paham!” terka Roy sambil sedikit teriak.
Aldy terus
berjalan menuju motornya yang terparkir manis di parkiran. Tak lupa ia juga
membawa box merah yang tadi dibelinya. Mungkin akan menjadi kenangan terakhir
untuknya. Aldy menyalakan mesin motor Ninja kesayangannya tanpa menghiraukan
teriakan Roy dan Nindy yang sedari tadi menyebut dua kata, ‘Salah paham’.
Baginya melihat dengan mata sendiri adalah bukti yang nyata, apalagi ditambah
situasi waktu yang kini sudah tengah malam.
Disisi lain Nindy
menjadi merasa bersalah terhadap Aldy, begitu pula dengan Roy, ia tak habis
pikir ia akan bertemu dengan Aldy di tempat ini. Nindy menghela nafas berat
kemudian ia keluarkan secara perlahan. Ia sudah pasrah apa yang akan terjadi
besok. Rencana yang ia susun dengan matang bersama Roy berantakan sudah. Ditambah
kini Aldy yang menjadi objeknya kecewa dan marah hanya karena sebuah kesalah
pahaman. Sekitar sepuluh menit kini diantara Roy dan Nindy hening. Keadaan
memaksa mereka untuk membisu sampai Roy tersenyum sumringah lalu memanggil
Nindy.
“Nin!” panggil Roy
dengan secercah senyum yang mulai mengembang di wajahnya.
“Apa sih?” Nindy
dengan malas menjawab pertanyaan Roy.
“Gue punya ide!”
“Apa lagi ide lo?
Hancur deh rencana kita buat kasih kejutan ke Aldy!” ujar Nindy dengan perasaan
kecewa.
“Sini dulu!” Roy
mengibaskan tangannya tepat di depan muka Nindy. Dengan malas Nindy mendekat
dan mendengarkan ide-ide Roy. Sedetik kemudian kecerian di wajahnya mulai
nampak.
“Bisa juga ide
lo!”
***
Secercah sinar
matahari datang menyilaukan menembus jendela kamar Aldy. Ia merutuki dirinya
yang terbangun lebih awal dari biasanya. Mendengar suara bisik-bisik, Aldy
dengan malas membuka matanya secara perlahan. Ia langsung membuang muka
layaknya seorang anak kecil yang ngambek karena tidak dibelikan permen oleh
ibunya ketika melihat siapa sosok yang kini berada dihadapannya itu.
“Surprise! April
mop! Dan Selamat Ulang Tahun Aldy!” Roy dan Nindy sekarang berada di hadapan
Aldy sambil membawa kue ulang tahun dan sebuah box kuning mirip dengan punya
Aldy. Aldy heran apa yang dimaksud oleh kekasih dan sahabatnya ini. Kemudian ia
mengecek kalender yang berada di atas meja samping ranjangnya. Benar ini adalah
hari ulang tahunnya! Ia bahkan baru ingat kalau ini hari ulang tahunnya.
“Masih
inget lo ini ultah gue?” ketus Aldy. Jujur, ia sangat bahagia melihat kekasih
dan sahabatnya memberikan surprise
yang spesial ini, tapi segera ditepisnya mengingat kejadian memuakkan tadi
malam.
“Aishh
Aldy, jahat banget! Dibilang salah paham juga! Tadi malem itu kita nyari hadiah
sama kue ulang tahun buat kamu,” terka Nindy
sambil mengerucutkan bibir. Aldy terdiam sejenak mencerna kata-kata yang
dikeluarkan dari mulut Nindy. Mungkin benar ia telah salah paham.
“Ini
bukan alasan kamu doang kan?” tanya Aldy memastikan.
“Ya
bukanlah! Lagian gantengan kamu daripada Roy” puji Nindy tulus sambil duduk
ditepi ranjang Aldy sedangkan Roy hanya bisa berkata ‘Amin’ menanggapi omongan
Nindy.
“Kue
ulang tahunnya tiup dulu dong!” lanjut Nindy menyodorkan kue ulang tahunnya ke arah
Aldi. Fiuhh.. Aldy segera meniup kue
tersebut setelah sebelumnya ia sempatkan untuk berdoa.
“Sekarang
lo buka ini!” Aldy menatap sinis ke arah sahabatnya sedangkan Roy mengerling
nakal membalas tatapan Aldy. Ia menghela nafas berat lalu dibukanya box kuning
yang diberikan Roy kepadanya.
Jeduakk!
Sesuatu
yang besar dan keras menghantam wajahnya dan sukses mendarat di hidung mancung
Aldy, membuat dirinya jatuh dari posisi duduknya. Melihat kelucuan ekspresi
yang diperlihatkan Aldy, Nindy dan Roy terkekeh geli.
“Aww!”
ringisnya kesakitan. Dipegangnya hidung mancungnya yang memerah dengan erat.
Lalu dilihatnya box kuning yang kini mengeluarkan kepalan tangan bewarna merah
yang sukses menghantam hidungnya ini.
“Ini
buat yang salah paham! Hahaha” tertawa kemenangan kini terukir di wajah Nindy
dan Roy. Akhirnya rencana yang telah mereka susun sejak dua minggu lalu
berjalan dengan sukses.
“Makasih
ya sayang kuenya sama TINJUNYA!” ucap Aldy sambil menekankan kata terakhirnya.
Nindy dan Roy kembali lagi terkekeh geli. Tiba-tiba Aldy mengingat sesuatu yang
sempat ia lupakan. Diambilnya box merah yang dibelinya di toko aneh tadi malam
lalu diberikannya box itu ke Nindy.
“Aku
juga ada hadiah buat kamu sayang. Ini dibuka ya!” Nindy menatap Aldy heran,
begitu pula dengan Roy sementara Aldy tersenyum nakal. Tak biasanya Aldy
berbuat seperti ini, kecuali hari-hari special Nindy. Dengan ragu-ragu Nindy
membuka box merah tersebut setelah sebelumnya sempat mengintip box tersebut.
“Apaan
ini? Arghhhhhhhhhhhh!!” Aldy terkekeh geli ketika mendapati kekasihnya shock ketika mendapati boneka badut
menyeramkan keluar dari dalam box merah tersebut.
“Dasar!
Bales dendam sama aku!” ujar Nindy mengerucutkan bibir. Aldy terdiam.
Diambilnya cincin putih berkilau dari tangan boneka badut itu. Sejenak Roy
mulai mengerti apa yang akan dilakukan sahabatnya ini.
“Will
you marry me?” tanya Aldy serius sambil menunjukkan cincin putih tersebut.
“Yes!”
jawab Nindy matang. Seketika itu pula Aldy langsung memeluk kekasihnya ini dan
memakaikan cincin putih tersebut ke jari manis Nindy. Kebahagian terpancar
jelas dari raut wajah Aldy dan Nindy. Sama dengan Aldy dan Nindy, Roy sebagai
sahabatnya juga sangat bahagia. Baginya ini adalah April Mop dan ulang tahun
Aldy terindah.
-fin



0 comments