Pusaran Cinta di Tengah Gelombang

by - 2/14/2018 01:48:00 PM

Weheartit.com

       Aku berjalan meniti rumah mewah ini. Sepi dan sunyi. Satu persatu ruangan ku telusuri hingga kakiku jatuh pada satu ruangan yang paling ramai di rumah ini.

     “Kau ini kurang ajar sekali padaku! Berani berbohong!” gertak Roy kepada gadis manis yang sekarang sedang menangis menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, terlihat jelas ia sangat marah kepada gadis itu. Peristiwa memang sering terjadi, tapi tak seburuk kali ini. Aku sungguh heran.

     “Bukan aku mas! Sungguh!” Lagi-lagi gadis manis itu terisak. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, mungkin gara-gara kejadian malam itu. Yah, benar gara-gara malam itu! Benar Roy bukan dia pelakunya! Aku ingin berteriak menjelaskan semuanya disini, tapi apa daya. Aku hanyalah seonggok kelabut-kelabut putih yang kadang sering mengintai mereka di rumah besar ini.

      PLAK! Hantaman keras dari tangan Roy mendarat mulus di pipi putih Diane hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Diane menjerit kesakitan.  Apa maksudmu menampar istrimu sendiri Roy? Kau ini sungguh keterlaluan! Sungguh bukan Diane-lah yang memakai barang haram itu! Aku tahu itu Roy, karna aku melihatnya dengan mata kepalaku! Ku lihat Roy menatapku tajam, lalu tatapannya beralih ke Diane. Ia mengambil bungkusan barang haram itu dan melemparkannya kearah Diane cukup keras. Aku tak bisa menahannya, tanganku tembus begitu saja saat mau menangkap bungkusan itu.

     “Kau jahat Roy! Kau tak pernah mempercayai istrimu sendiri!” Diane berteriak histeris lalu berlari menuju taman belakang rumahnya. Ia menangis sesegukan di sana dengan dipayungi hujan yang melanda cukup deras. Aku mengejarnya ingin melindunginya dan memeluknya, tapi tidak bisa. Sakit hatiku saat Diane mendapatkan perlakuan keras yang seharusnya tidak ia terima. Tapi apa daya, aku hanya seorang hantu gadis yang sudah bermukim di rumah ini beberapa tahun lalu. Ya, hanya hantu!

***

     “Ayo masuk dulu!” Diane menyuruh seorang wanita masuk ke dalam rumahnya padahal hari sudah malam. Tak lama seorang wanita masuk sembari tersenyum.

       “Duduklah dulu! Akan ku ambilkan minum!” ujar Diane seraya meninggalkan kami berdua yang terduduk di ruang tamu.

      Kelihatannya wanita ini adalah teman kerja Diane. Wajahnya cukup tak asing bagiku. Matanya tajam dengan bibir yang tipis menggambarkan sosok wanita ini merupakan sosok yang menyeramkan. Ditambah rambut ikal panjangnya yang digerai. Aku sedikit takut.

       Ku lihat ia sedang memerhatikan sekeliling ruang tamu ini. Mungkin memastikan tak ada siapa-siapa di ruangan ini. Tapi ia salah, ada aku di sini yang tak bisa terlihat.

     Kemudian ia segera membuka tas Diane yang tergeletak di samping dirinya dan memasukkan bungkusan bewarna coklat ke dalam tas itu. Apa itu? Aku berjalan mendekat kearah wanita itu. Benar, sejak kemunculan wanita ini aku merasakan hal buruk akan terjadi kepada Diane. Tak lama Diane datang dengan membawakan dua buah cangkir berisi segelas moccacino.

    “Ayo diminum dulu Carol! Aku yakin pasti kau sangat haus” ujar Diane pada wanita yang dipanggil Carol tersebut.

***

      Aku yakin yang memasukkan bungkusan itu Carol. Sungguh keterlaluan wanita bernama Carol tersebut. Apa maksudnya memfitnah Diane? Ingin menghancurkan rumah tangganya? Sungguh brengsek wanita itu! Aku harus menyusun rencana agar kedoknya ketahuan. Tapi aku hanyalah hantu yang tidak bisa berbuat apa-apa.

     KLEK! Pintu lemari terbuka lebar. Huh.. mengganggu saja kau Roy! Sesegera mungkin aku keluar dari lemari tersebut dan segera keluar menembus pintu kamar.

       Saat sedang berjalan-jalan di rumah ini, aku menemukan sosok Diane sedang melamun sendirian di balkon kamarnya. Pikirannya kosong. Aku mencoba mendekatinya dan mencoba menyentuh tubuhnya. Tak tembus? Aku mencoba sekali lagi menyentuhnya, tetap tak tembus. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Tiba-tiba aku mempunyai ide bagus. Aku mulai masuk ke raganya dan meminjam tubuhnya untuk sesaat. Mungkin raganya dapat aku gunakan.

       “Sekarang aku menjadi Diane!” ujarku senang akhirnya dapat juga memakai raga Diane.

    Sesegera mungkin aku membantunya memecahkan masalahnya dengan Roy. Dengan menggunakan sarung tangan plastik, aku mulai mencari bingkisan barang haram itu. Ketemu! Ternyata masih ia simpan di dalam lemari. Aku yakin di barang haram ini masih tersimpan sidik jari Carol. Aku mulai mengingat sesuatu, pernah kudengar bahwa Diane mempunyai paman yang merupakan seorang inspektur. Mungkin ia dapat sedikit membantuku. Dengan gesit aku mencari nomor telepon dan menelpon sang paman untuk segera datang ke rumah ini.

      KREK! Belum aku tekan tombol call di telpon tersebut, suara pintu kamar Diane terbuka. Roy menatapku bengis, membuat aku sedikit bergidik ngeri.

   “Kau mau memakai barang itu lagi Diane?!” gertaknya marah. Aku sudah kehabisan akal. Sungguh, ini salah paham!

      “STOP!! Aku bukan Diane, aku penunggu rumah ini. Sofia namaku” Aku balik menggertaknya dengan sedikit tekanan. Ia menarik napas.

   “Aku tak bisa dibodohi olehmu Diane! Kau ini sungguh keterlaluan, padahal aku sangat mencintaimu Diane!” Kali ini wajahnya benar-benar merah. Aku berani taruhan kalau Roy sedang menahan air matanya agar tidak keluar.

     “Dengarkan aku dulu, aku bukan Diane! Aku Sofia! Kau tahu, bukan Diane-lah yang memakain barang haram itu. Carol yang memfitnahnya!” Kini kesabaranku telah habis.

      “Jangan sok tahu kau! Diane jangan bercanda!”

     “Kau tak tahu apa-apa, Roy! Aku meminjam raga Diane! Lihat ini!” Aku segera keluar dari raga Diane. Tubuh Diane langsung ambruk di lantai tak dapat ku tahan. Roy berlari menghampirinya.

     “Pingsan? Jangan bercanda Diane!” Ia menggerak-gerakkan tubuh Diane hebat. Saat itu juga aku langsung masuk ke tubuhnya. Melihat tubuh Diane yang mulai bangun karenaku, ia sedikit menjauh.

    “Benar apa kataku bukan? Aku Sofia” ujarku. Ku lihat wajahnya yang shock akan kehadiranku kembali di tubuh Diane. Ia terduduk lemas, aku pun mengikutinya. Aku mengambil nafas untuk menjelaskan pada lelaki jangkung di depanku ini.

   “Aku sempat berada di samping Carol saat Carol memasukkan ganja itu ke dalam tas Diane. Sebelumnya aku tak percaya itu ganja, tapi saat aku cium baunya, aku sudah tau itu adalah ganja. Kau kenal dia?” tanyaku. Ia menatapku sebentar, lalu menundukkan kepalanya.

    “Ia mantan pacarku dulu. Aku juga sempet kaget ternyata ia adalah teman kerja istriku. Kau tidak bercanda kan?” tanyanya selidik. Aku hanya menggeleng pelan.

     “Antarkan aku ke tempat paman Diane yang seorang inspektur itu” lanjutku.

***

      Ternyata benar dugaanku, bahwa masih tersisa sidik jari Carol di bungkusan barang haram itu. Kini kami menunggu kedatangan Carol yang sudah Roy telepon sebelumnya. Aku duduk di samping tubuhnya. Ia menghela nafas berat lalu memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.

      “Kau harus meminta maaf pada Diane, ia tak bersalah apapun” ujarku memecah keheningan di antara kita berdua.

       “Pasti akan ku lakukan, aku bergitu mencintai dirinya. Sejak kapan kau berada di rumah tua ini?” tanyanya sambil mendongakkan kepala bermaksud melirikku.

      “Beberapa tahun yang lalu. Bahkan aku tahu semua konflik-konflik yang terjadi di antara kau dan Diane, dan inilah yang terparah” aku tersenyum simpul sambil terus memandang lurus ke depan.

       “Benar, inilah yang terparah!” ujarnya kemudian.

     “Apa kau tidak bosan dengan kebiasaanmu yang selalu bertengkar dengan istrimu sendiri? Aku saja yang melihatnya bosan!”

     “Kau tahu? Aku sangat mencintai dirinya, tapi mungkin aku terlalu cemburu dan salah paham padanya. Aku juga bingung ia mencintaiku atau tidak, sepertinya tidak” Ia tersenyum pahit.

       “Kau salah! Ia sangat-sangat mencintaimu. Aku pernah mendengarkan ia berbicara sendiri waktu konflikmu dua bulan lalu di balkon kamarnya. Ia menangis tersedu-sedu saat itu,” jelasku, namun ia tak bergeming. Hening di antara kita berdua hingga suara bel rumah ini menggema di seluruh ruangan. Sesegera mungkin aku menelpon anggota polisi untuk cepat datang ke rumah ini. Tak lama bunyi bel menggema di seluruh ruangan. KLEK! Wanita berpakaian hitam dengan syal berbulu membuka pintu rumah ini.

      “Kau ini sungguh keterlaluan Carol bisa-bisanya kau memfitnah istriku!” Roy bangkit berdiri saat Carol berada di ujung daun pintu. Mukanya merah padam menahan amarah.

      “Apa maksudmu Roy? Aku tak mengerti!” terka Carol tak mengerti.

    “JANGAN BERGERAK NYONYA!” Terdengar suara lantang polisi yang sebelumnya telah ku telepon. Tak lama kawanan polisi tersebut langsung memborgol erat tangan Carol setelah sebelumnya mendapat perlawanan dari wanita tersebut.

     “Coba periksa tasnya! Ia memakai tas yang sama pada malam itu. Saat saya periksa bungkusan ganjanya, saya melihat bungkusan itu sedikit berlubang. Siapa tahu ada sisa ganja yang terjatuh di tasnya sebagai tambahan barang bukti” ujarku sambil menunjuk tas yang di tenteng Carol saat ini. Para polisi tersebut segera bergerak cepat mengeluarkan isi tas Carol. Dan benar saja masih terdapat sisa-sisa ganja yang berada di tas tersebut.

     “Maksud kalian aku memfitnah Diane dengan menyelipkan ganja? Kalian salah! Aku gak pernah ngelakuin ini!” terkanya sambil berusaha melepaskan tangannya dari jeratan borgol tersebut.

      “Barang bukti sudah terkumpul semua pak! Boleh di bawa sekarang?” Roy yang sedari tadi diam pun angkat bicara. Aku berani taruhan kalau ia sudah muak dengan wanita yang ada di hadapannya ini.

     “Tapi Roy…” sergah Carol agar di beri waktu untuk menjelaskan semuanya. Namun, Roy yang sudah marah tak memperdulikannya. Ia tetap menyuruh para polisi itu segera mengangkut Carol.

      “Jaga raga ini. Aku keluar!” Setelah penangkapan Carol, sesegera mungkin aku keluar dari tubuh Diane.

***

   Empat bulan sesudah kejadian pemfitnahan Diane, hubungan Diane dan Roy pun semakin membaik. Tak ada konflik yang terjadi di antara mereka berdua. Hari ini aku ingin mengunjungi Carol yang masih mendekam di penjara.

    Satu persatu ruangan tahanan aku lewati. Dimana Carol? Aku menyapukan pandanganku ke seluruh ruangan tahanan di lantai dua ini. Tiba-tiba ekor mataku menangkap sosok wanita yang berada di dalam sel di sebelah timur laut. Itu Carol. Badannya sudah kurus kering, kelihatannya dia sedikit gila.

     “Aku gak salah! Aku gak salah Diane!!” Carol terus berteriak-teriak menyatakan bahwa dirinya tak bersalah.

     Aku tersenyum sinis lalu tertawa puas. Melihat keadaannya sekarang sungguh mengasyikkan. Ini sungguh menyenangkan! Seperti dalam drama-drama dan aku-lah sutradaranya. Ya benar! Aku-lah yang memfitnah Carol dengan Diane-lah yang menjadi korban. Aku yang telah menukar hadiah Carol untuk Diane dengan barang haram itu. Dan akulah pemenangnya di sini! Aku puas bisa membalaskan dendamku pada Carol yang telah merebut Jerry, tunanganku, dan menghabisi nyawaku. Hahahaha!

-fin

You May Also Like

0 comments