Ghost Teller

by - 2/14/2018 12:23:00 PM

weheartit.com

“Katanya kamar mandi itu dulunya kamar mayat!!”
Beni menggigit jarinya kala mendengarkan cerita Yosua. Temannya yang lain tergidik. Siska menutup wajahnya dengan tangan. Di seberang tempat Beni duduk, Haris mendengarkan cerita Yosua dengan khidmat dan antusias. Istirahat jam makan siang itu mereka isi dengan cerita horor di sekolahnya.
“Kok kamu yakin itu dulunya kamar mayat?” Hasya, satu-satunya murid yang memakai jilbab di kelompok mereka bertanya tidak yakin.
“Kamu liat nggak kamar mandi kita bentuknya bilik-bilik?” tanya Yosua sementara yang lain mengangguk.
“Nah, kamar mayat pun begitu!” lanjutnya dengan percaya diri.
“Ohhh gituuu.” Mereka serempak percaya pada omongannya.
“Besok lagi aku nggak mau pipis disitu,” kata Siska yang langsung disetujui lainnya.
Yosua berdeham, lalu mulai melanjutkan ceritanya. “Terus kalian tahu nggak kalau kelas kita sampai kelas 5C itu dulunya bekas pasien-pasien yang kecelakaan terus dibawa ke sini.”
“Kok bisa?” tanya Haris.
“Karena kelas kita sampai 5C itu paling deket sama gerbang sekolah. Jadi korban kecelakaan langsung dibawa kesini karena paling cepet.”
“Oohh iya juga ya,” timpal beberapa dari mereka sembari melanjutkan obrolan masih dengan topik yang sama.
Lalu semua itu terjadi begitu saja. Tahu-tahu kabar mistis di sekolah berangsur-angsur meningkat dan cerita Yosua menjadi cerita paling menggebu-gebu di antara murid Sekolah Dasar lainnya.
***
Suasana gazebo di pinggir lapangan masih ramai karena masih tersisa 10 menit lagi sebelum jam istirahat pertama berakhir. Masih dengan kelompok yang sama, Yosua dan para pendengar setianya berkerumun. Mereka menceritakan kisah-kisah horor yang dialami teman-temannya maupun mitos yang beredar di area sekolah.
“Kemarin si Jaki ngelihat di kamar mandi. Katanya teh kaya ada yang ngintip dari ventilasi gudang, eh pas dia liat sekeliling... ada rambut ngegantung di ventilasinya,” ujar Siska membuka obrolan.
“Ih kok serem sih.” Hasya bergidik.
“Katanya di gudang sebelah WC itu emang ada yang nunggu. Pas itu temanku lihat tuyul di sana.” Haris
“Serius?” pekik Siska. Wajahnya kaget mendengar cerita Haris. Ia menggigit bibirnya mirip Beni.
Tiba-tiba Beni sendiri tersadar sesuatu. Ia melihat Yosua yang diam saja sedari tadi. Yosua yang biasanya banyak cerita, selalu memberitahu mereka cerita seram terbaru kini bahkan tidak berbicara sepatah kata pun. Beni menyikut Haris sambil menunjuk Yosua dengan dagunya.
“Yos?” Tangan Haris ia goyangkan di depan wajah Yosua, menyadari ada yang aneh pada temannya itu.
Semua perhatian mulai terpaku kepada Yosua. Bocah itu masih diam saja seolah tidak mendengar atau bahkan menyadari keberadaan siapapun.
“Yosuaaa?” panggil Siska sambil mengguncang bahu Yosua tapi anak itu tetap diam bergeming. Siska panik dan rasa paniknya menjalar kepada teman-temannya yang lain.
Beni mulai menangis. Haris yang masih bisa berpikir jernih langsung lari ke ruang guru, hendak lapor kepada siapapun orang dewasa yang berada di sana. Setibanya di tempat semula bersama seorang guru agama, Haris mendapati Yosua yang menangis hebat. Teman-temannya yang lain ikut menangis dengan jarak yang lumayan jauh.
Baik Haris maupun guru yang sedang bersamanya menyadari bahwa tangisan Yosua bukan hanya sekedar tangisan anak sekolah dasar, melainkan tangisan seorang pria dewasa yang telah kehilangan keluarganya karena berkali-kali Yosua mengucapkan “Daddy will find you...”
“Yosua kerasukan, Pak?” Siska bertanya dengan polosnya kepada sang guru.
Laki-laki dewasa yang dibawa Haris itu langsung mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya. Guru yang bersama Haris, Pak Imam, menelpon teman-teman yang bisa dimintai bantuan untuk menangani kasus ini. Yosua mulai berteriak. Beberapa kali memarahi teman-temannya sambil meminta air. Lalu tidak butuh waktu lama, ia menjadi pusat perhatian.
***
Pak Imam masih memegangi Yosua sementara dua orang lain tengah menyemburkan air ke arah Yosua sambil mendoakannya dan satu orang lainnya memijat dan mengusap leher Yosua seperti hendak mengeluarkan sesuatu.
Tidak berselang lama setelah tangisan Yosua makin menjadi-jadi, satu orang yang memijat tadi langsung meraup wajah Yosua dan seolah melemparkan sesuatu dari wajahnya. Tidak lama, Yosua mereda dan tahu-tahu terlelap.
Kabar baiknya pada saat itu adalah murid-murid pulang lebih cepat daripada biasanya
***
“Dulunya sekolah kita bukan rumah sakit tapi di daerah sana,” Yosua menunjuk area kelas dan kamar mandi sebelum melanjutkan, “itu rumah Robert dan istrinya waktu jaman penjajahan dahulu. Tapi ternyata ketika Robert tidak ada di rumah, anak istrinya dikepung dimintai pertanggung jawaban atas tindakan koloni Robert. Istirnya nggak tahu apa-apa tapi sayangnya mereka meninggal akibat ditembak saat itu juga.”
Yosua seperti tidak kapok mulai bercerita lagi, cerita yang kali ini benar nyata apa adanya karena dialami oleh dia sendiri. Sementara temannya yang lain tetap setia mengikuti cerita Yosua dengan antusiame yang tinggi.


Selesai

You May Also Like

0 comments