Ghost Teller
![]() |
| weheartit.com |
“Katanya
kamar mandi itu dulunya kamar mayat!!”
Beni
menggigit jarinya kala mendengarkan cerita Yosua. Temannya yang lain tergidik.
Siska menutup wajahnya dengan tangan. Di seberang tempat Beni duduk, Haris
mendengarkan cerita Yosua dengan khidmat dan antusias. Istirahat jam makan
siang itu mereka isi dengan cerita horor di sekolahnya.
“Kok
kamu yakin itu dulunya kamar mayat?” Hasya, satu-satunya murid yang memakai
jilbab di kelompok mereka bertanya tidak yakin.
“Kamu
liat nggak kamar mandi kita bentuknya bilik-bilik?” tanya Yosua sementara yang
lain mengangguk.
“Nah,
kamar mayat pun begitu!” lanjutnya dengan percaya diri.
“Ohhh
gituuu.” Mereka serempak percaya pada omongannya.
“Besok
lagi aku nggak mau pipis disitu,” kata Siska yang langsung disetujui lainnya.
Yosua
berdeham, lalu mulai melanjutkan ceritanya. “Terus kalian tahu nggak kalau
kelas kita sampai kelas 5C itu dulunya bekas pasien-pasien yang kecelakaan
terus dibawa ke sini.”
“Kok
bisa?” tanya Haris.
“Karena
kelas kita sampai 5C itu paling deket sama gerbang sekolah. Jadi korban
kecelakaan langsung dibawa kesini karena paling cepet.”
“Oohh
iya juga ya,” timpal beberapa dari mereka sembari melanjutkan obrolan masih
dengan topik yang sama.
Lalu
semua itu terjadi begitu saja. Tahu-tahu kabar mistis di sekolah
berangsur-angsur meningkat dan cerita Yosua menjadi cerita paling menggebu-gebu
di antara murid Sekolah Dasar lainnya.
***
Suasana
gazebo di pinggir lapangan masih ramai karena masih tersisa 10 menit lagi
sebelum jam istirahat pertama berakhir. Masih dengan kelompok yang sama, Yosua
dan para pendengar setianya berkerumun. Mereka menceritakan kisah-kisah horor
yang dialami teman-temannya maupun mitos yang beredar di area sekolah.
“Kemarin
si Jaki ngelihat di kamar mandi. Katanya teh kaya ada yang ngintip dari
ventilasi gudang, eh pas dia liat sekeliling... ada rambut ngegantung di
ventilasinya,” ujar Siska membuka obrolan.
“Ih
kok serem sih.” Hasya bergidik.
“Katanya
di gudang sebelah WC itu emang ada yang nunggu. Pas itu temanku lihat tuyul di
sana.” Haris
“Serius?”
pekik Siska. Wajahnya kaget mendengar cerita Haris. Ia menggigit bibirnya mirip
Beni.
Tiba-tiba
Beni sendiri tersadar sesuatu. Ia melihat Yosua yang diam saja sedari tadi. Yosua
yang biasanya banyak cerita, selalu memberitahu mereka cerita seram terbaru
kini bahkan tidak berbicara sepatah kata pun. Beni menyikut Haris sambil
menunjuk Yosua dengan dagunya.
“Yos?”
Tangan Haris ia goyangkan di depan wajah Yosua, menyadari ada yang aneh pada
temannya itu.
Semua
perhatian mulai terpaku kepada Yosua. Bocah itu masih diam saja seolah tidak
mendengar atau bahkan menyadari keberadaan siapapun.
“Yosuaaa?”
panggil Siska sambil mengguncang bahu Yosua tapi anak itu tetap diam bergeming.
Siska panik dan rasa paniknya menjalar kepada teman-temannya yang lain.
Beni
mulai menangis. Haris yang masih bisa berpikir jernih langsung lari ke ruang
guru, hendak lapor kepada siapapun orang dewasa yang berada di sana. Setibanya
di tempat semula bersama seorang guru agama, Haris mendapati Yosua yang
menangis hebat. Teman-temannya yang lain ikut menangis dengan jarak yang
lumayan jauh.
Baik
Haris maupun guru yang sedang bersamanya menyadari bahwa tangisan Yosua bukan
hanya sekedar tangisan anak sekolah dasar, melainkan tangisan seorang pria
dewasa yang telah kehilangan keluarganya karena berkali-kali Yosua mengucapkan
“Daddy will find you...”
“Yosua
kerasukan, Pak?” Siska bertanya dengan polosnya kepada sang guru.
Laki-laki
dewasa yang dibawa Haris itu langsung mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya.
Guru yang bersama Haris, Pak Imam, menelpon teman-teman yang bisa dimintai
bantuan untuk menangani kasus ini. Yosua mulai berteriak. Beberapa kali
memarahi teman-temannya sambil meminta air. Lalu tidak butuh waktu lama, ia
menjadi pusat perhatian.
***
Pak
Imam masih memegangi Yosua sementara dua orang lain tengah menyemburkan air ke
arah Yosua sambil mendoakannya dan satu orang lainnya memijat dan mengusap
leher Yosua seperti hendak mengeluarkan sesuatu.
Tidak
berselang lama setelah tangisan Yosua makin menjadi-jadi, satu orang yang
memijat tadi langsung meraup wajah Yosua dan seolah melemparkan sesuatu dari
wajahnya. Tidak lama, Yosua mereda dan tahu-tahu terlelap.
Kabar
baiknya pada saat itu adalah murid-murid pulang lebih cepat daripada biasanya
***
“Dulunya
sekolah kita bukan rumah sakit tapi di daerah sana,” Yosua menunjuk area kelas
dan kamar mandi sebelum melanjutkan, “itu rumah Robert dan istrinya waktu jaman
penjajahan dahulu. Tapi ternyata ketika Robert tidak ada di rumah, anak
istrinya dikepung dimintai pertanggung jawaban atas tindakan koloni Robert.
Istirnya nggak tahu apa-apa tapi sayangnya mereka meninggal akibat ditembak
saat itu juga.”
Yosua
seperti tidak kapok mulai bercerita lagi, cerita yang kali ini benar nyata apa
adanya karena dialami oleh dia sendiri. Sementara temannya yang lain tetap
setia mengikuti cerita Yosua dengan antusiame yang tinggi.
Selesai



0 comments