Penulis Tanpa Nama

by - 2/14/2018 12:36:00 PM

weheartit.com

            “Pemisi!” Suara seseorang dari luar mengusikku saat sedang menyelesaikan tugas gambar mesin. Aku beranjak bangun lalu membuka pintu kost yang luasnya kira-kira hanya empat meter persegi. Dibaliknya seorang pria paruh baya berdiri dengan pakaian serba jingga sambil menenteng sebuah map bewarna coklat.

            “Benar ini Putra? Ada kiriman!” ujar pria itu sambil menyerahkan sebuah map coklat dan bukti pengiriman. Sementara aku hanya mengangguk pelan. “Tolong tanda tangani ini,” ujarnya sekali lagi sambil menunjukkan kolom tanda tangan penerima dengan ibu jarinya.

            Setelah sukses mengantarkan barang kirimannya sebagai tukang pos, pria yang lebih pantas ku sapa ‘bapak’ itu lalu pamit permisi. Meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan di otak.

            Tumben ada yang mengirimi paket siang-siang begini? Dengan hati-hati ku buka bingkisan coklat itu. Di dalamnya terdapat berlembar-lembar kertas dengan tinta hitam bekas diprint di atasnya.

            Fiuh! Aku menarik nafas perlahan. Ternyata kertas-kertas ini lagi toh? Aku tak habis pikir, hampir setiap hari aku selalu dikirimi berbagai cerita pendek. Dari mulai ber-genre horror, comedy, romance, family bahkan thriller. Awalnya aku tak berminat membacanya, selain karna aku tak hobi membaca, di amplop coklat itu pun tak ada alamat pengirimnya. Sering aku bertanya kepada tukang pos yang selalu mengantarkan amplop ini, tapi mereka hanya bilang ‘Penulis Tanpa Nama’ lalu meninggalkanku sendiri.

            Semakin hari kiriman itu tak berhenti hingga akhirnya ku putuskan untuk membaca paling tidak satu karya si Penulis Tanpa Nama tersebut. Cukup menarik dengan alur yang tak pasaran dan mudah dipahami juga ejaan yang tepat. Si Penulis Tanpa Nama ini memang benar-benar berbakat menjadi cerpenis ulung.

            Setelah menutup pintu dan memastikan tak ada orang yang menggangguku lagi, aku segera menaruh amplop coklat itu ke rak khusus cerpen si Penulis Tanpa Nama lalu melanjutkan kegiatan menggambar mesin brengsek ini.

***

            Paginya setelah sarapan, aku langsung beranjak ke luar kamar kost untuk pergi ke kampus. Empat puluh lima menit berlalu, motorku sudah terparkir manis di salah satu parkiran di universitas ternama di Jakarta. Dengan gesit aku langsung berjalan menuju fakultas teknis mesin karena sebentar lagi kelas akan masuk.

            “Hai Put!” Aku menoleh ke belakang saat seseorang memanggil namaku. Sosok perempuan berdiri sambil tersenyum manis kepadaku menampilkan satu gigi gingsul-nya yang menggemaskan.

            “Masih dapet kiriman cerpen misterius itu?” tanyanya kemudian sambil duduk di bangku sebelahku. Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya. Sungguh, aku sangat membenci orang yang misterius seperti itu. Apa maksudnya mengirimiku berbagai cerpen tanpa memberitahukan identitasnya? Pikirnya aku akan penasaran dan mencari tahu? Sayangnya aku bukan tipe orang seperti itu.

            “Udah tau gue gak suka baca!” ketusku yang membuat Jessica –gadis itu- hanya terkekeh pelan.

            “Paling tidak baca satu lah karyanya. Hargai pemberian orang!” Jessica menasihatiku mirip Rere. Yah, Rere, ia sudah lama meninggal dunia karna kanker otak yang sudah mencapai stadium akhir. Sangat mengenaskan ia meninggalkanku di saat aku sudah mencintai dia dan menerima kekurangannya.

            Aku tersenyum pahit. Aku ingat bagaimana Rere mengejarku dulu saat SMA, padahal aku tidak pernah mengubrisnya. Seperti orang yang mabuk cinta ia terus mengejarku yang tak acuh, terus menungguiku main futsal sampai sore di sekolah walau akhirnya ia harus pulang sendirian naik bis kota. Sampai hingga kejadian pada saat ia memberiku sekotak bekal, dan pada akhirnya aku melempar kotak bekal itu tepat di wajahnya.

            Aku jadi ingat bagaimana tangisannya waktu saat aku melempar kotak bekal buatannya ke wajahnya. Aku yakin hatinya sangat perih, seperih hatiku saat ia meninggalkanku selamanya. Hingga pada akhirnya setelah kejadian tersebut Rere menjadi membenciku. Ia selalu menatap mataku tajam walau aku mengetahui ia tak kan pernah membenciku, karna ia mencintaiku.

            Saat itu hari-hariku malah sepi. Tak ada pengejaran giat Rere, tak ada kata ‘selamat pagi’ yang selalu terlontar dari mulut Rere ketika ku masuk kelas. Aku sadar mulai saat itu aku menyukainya, aku mencintainya. Tapi perasaanku hancur remuk saat aku mengetahui Rere telah tiada karena penyakit yang dialaminya. Apakah ini karma bagiku yang telah menyia-nyiakannya? Entahlah, yang pasti saat itu aku benar-benar terpuruk.

            “Heh jangan bengong Put!” Aku tersentak saat Jessica menepuk pundakku pelan. “Dosennya udah masuk tuh!” ujarnya sekali lagi lalu berjalan menuju bangkunya berada.

***

            Hari ini hari yang cukup melelahkan ditambah nilai gambar mesinku hanya mendapat nilai D. Bayangkan saja aku rela tak tidur tiga hari penuh tapi hanya mendapat nilai D. Sungguh dunia tak adil.

            Dengan gontai aku berjalan menuju kamar kost-ku. Saat ku buka pintu, terlihat benda bewarna coklat tepat di atas kasurku. Hm.. amplop lagi? Aku yang sudah terbiasa dengan kiriman amplop itu langsung membukanya tanpa ada rasa penasaran. Lagi-lagi cerpen misterius itu. Kali ini dengan genre comedy. Karna iseng sekaligus melepas penat, aku tertarik untuk membaca cerpen tersebut. Cukup membuatku tertawa dan otakku kembali tenang, tapi entah kenapa aku jadi mengalami dé javu saat membacanya. Sebenarnya bukan kali ini saja, tapi setiap aku membaca cerpen-cerpen itu aku merasakannya.

            Setelah selesai membacanya, aku menyimpannya di rak khusus cerpen si Penulis Tanpa Nama itu. Rak itu khusus aku buat untuk menampung cerpen yang selalu datang ke rumahku yang kira-kira sudah mencapai puluhan. Entah mengapa aku merasa sayang jika harus membuang cerpen-cerpen itu. Hatiku selalu berkata untuk tak membuangnya. Memang aneh kedengarannya, tapi ini semua terjadi padaku.

***

            Aku terbangun dari tidurku lalu menyapukan seluruh pandangan ke pelosok tempat yang asing menurutku. Indah. Bahkan sangat indah dengan keadaan alam yang menakjubkan.

            “Terimakasih Putra. Kamu udah mau baca cerpen-cerpenku,” Samar-samar aku mendengar bisikan suara seorang gadis yang sangat taka sing lagi di telingaku. Seketika itu juga aku berbalik badan. Aku yakin di situ bersemayam gadis tersebut.

            “Re..re?” Mataku seketika membola melihat siapa gadis yang kini sedang tersenyum hangat kepadaku. Ia adalah Rere, someone-ku. Aku terpaku seketika. Ingin aku memeluknya, tapi ada daya memegangnya pun aku tak bisa. Tanganku tembus begitu saja.

            “Aku mencintaimu Re,” bisikku parau. Aku yakin sekarang di pelupuk mataku sudah terdapat gerumulan air yang akan turun saat waktunya tiba. Tapi aku tak boleh nangis, tak boleh cengeng.

            “Aku juga sangat mencintaimu, Putra,” ujarnya kemudian. Rere lagi-lagi tersenyum hangat. Senyum yang sangat ku rindukan. Semakin lama senyum itu pudar seiring dengan kepergiannya.

            “RERE!!!” Aku tersentak bangun. Keringat dingin jelas bercucuran dari pelipisku. Ternyata aku hanya bermimpi. Huhhh.. aku beberapa kali menarik nafas panjang untuk mengatur degup jantungku. Ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya. Merindukan sosok Rere yang selalu membuatku tersenyum bahkan terpuruk. Ku lirik jam weker tepat di samping ranjangku masih menunjukkan pukul dua dini hari. Masih terlalu malam rupanya, sebaiknya aku segera bergegas tidur agar tak ketinggalan kuliah pagi.

***

            “Dapet kiriman cerpen ber-genre apa kemaren?” tanya Jessica sambil menyendok baksonya.

            “Comedy. Lumayanlah hiburan gara-gara nilai gambar mesin gue jelek,” jawabku tenang sambil sesekali menyendok mi ayam yang kini di hadapanku. Jessica hanya tersenyum tipis sementara aku tetap cuek melanjutkan santapanku.

            Terimakasih Putra. Kamu udah mau baca cerpen-cerpenku.

            DEG! Aku terdiam. Tiba-tiba kalimat itu terngiang di kepalakku. Kenapa aku baru menyadari kalimat itu? Tunggu! Itu berarti apakah Rere yang mengirimnya kepadaku? Tapi tak mungkin Rere ke kantor pos, bertemu pak pos lalu memintanya mengirim ke alamatku dengan mengatas namakan Penulis Tanpa Nama. Sungguh konyol!

            “Gue tadi malem mimpi aneh,” gumam gue tapi masih terdengar oleh Jessica.

            “Apaan?”

            “Soal cerpen itu,” Seketika Jessica menghentikan makannya.

Menatapku seolah berkata ‘ayo lanjutkan ceritamu, jangan setengah-setengah!’. Aku menarik nafas lalu menceritakan semua kejadian di mimpi itu. Tak ada yang dikurangkan. Tak ada yang dilebihkan. Setelah selesai bercerita, aku menarik nafas panjang, lalu meneguk habis es teh yang berdiri manis di hadapanku. Sementara Jessica masih terdiam.

“Gue sebenarnya tau apa yang terjadi,” ujarnya pelan namun dapat membuatku mati tersendak oleh es teh itu.

“Maksud lo?”

“Rere yang lo maksud itu adalah sahabat gue. Sahabat kecil gue. Dia pernah bilang ‘kalo gue mati, gue nitip ini semua ya? Kalo bisa tolong kasih ini ke Putra, tapi rahasiakan kalo dari gue, gue takut dia ngebuang ini sama kayak gue ngasih kotak bekal itu’ sambil menyerahkan sebuah flashdisk ke gue. Sehari setelah itu, Rere meninggal dunia. Dan orang yang gue salahin pertama adalah lo. Karna lo, si Rere jadi males hidup. Dia udah gak semangat buat ngelawan penyakitnya..” Jessica menarik nafas. Jelas di matanya bercucuran air mata.

“Awalnya gue gak mau kasih barang berharga Rere ke lo. Tapi setelah gue buka-buka flashdisk-nya dia, itu semua berisi cerpen-cerpen buatan Rere. Itu semua adalah perjalanan hidupnya yang dia tulis menjadi rangkaian cerita dengan judul dan genre berbeda. Terakhir gue lihat di situ ada video dia nyanyi khusus lo. Karna gue yakin lo gak bakal baca cerpen itu semua, gue akhirnya mem-printnya satu-satu dan gue kirim setiap hari ke kost-an lo mengatas namakan Penulis Tanpa Nama. Jujur, terakhir gue pengen ngirim video pake CD, tapi ternyata si Rere udah bilang duluan,” ujar Jessica pajang lebar.

Aku tertegun, sedangkan Jessica sudah menumpahkan semua air matanya. Aku benar-benar menyesal. Menyesal karena telah melukai seorang yang mencintaiku tanpa memandang apa pun. Menyesal telah membuatnya jadi tak bersemagat untuk hidup. Dan menyesal telah membiarkannya pergi begitu saja. Aku adalah lelaki bodoh yang telah menyia-nyiakan cinta sejatiku sendiri.

***

Pagi ini aku memutuskan untuk membolos kuliah. Rencananya aku dengan ditemani Jessica akan pergi ke salah satu penerbit nasional. Tentu saja aku ingin mengajukan tulisan-tulisan Rere menjadi sebuah buku kumpulan cerpen yang akan di jual di seluruh nusantara.

“Saya tertarik untuk membukukan naskah ini. Boleh saya tahu, siapakah penulis ini semua?” tanya pak redaksi yang kini berdiri di hadapanku. Aku dan Jessica saling pandang lalu dengan kompak kami menjawab, “Penulis Tanpa Nama, Rere Ni Putri Ayu.”

“Baiklah. Nama yang kreativ. Tunggu kabarnya ya mas, mbak.” ucap pak redaksi lalu mengsilahkan kami untuk keluar ruangan. Sungguh aku tak percaya ini. Aku bahkan tak percaya kalau Rere memiliki bakat menulis. Ternyata selama ini ia memendam bakat menulisnya ini. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Jess, gue mau nonton video Rere dong!” ujarku ketika kita berada di parkiran motor. Jessica hanya mengangguk pelan lalu menyuruhku untuk datang kerumahnya nanti malam.

***

Seperti yang sudah dijanjikan Jessica, aku datang ke rumahnya. Sejenak aku terdiam, mempersiapkan diri untuk melihat video Rere. Takut-takut aku akan menjadi lelaki lemah di matanya.

“Ayo masuk!” Jessica mempersilahkanku masuk ke rumahnya yang cukup sederhana ini.

“Duduk di situ dulu! Gue mau buat minum sama makan,” ujarnya member aba-aba lalu masuk ke dalam dapur. Dengan sigap aku duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Sesekali aku melirik ke dalam. Sungguh, aku tak sabar untuk menyaksikan video tersebut.

Tak lama Jessica datang sambil menenteng nampan berisi dua gelas yang masing-masing berisi jus melon dan se-toples pop corn. Ia kemudian mangambil CD yang sudah ku duga di dalamnya ada sosok Rere. Di masukkannya CD tersebut lalu menekan tombol play.

Aku menatap serius sosok Rere yang dengan lincah memainkan tuts-tuts piano dengan rambut yang hampir botak. Ia sungguh cantik. Tanpa sadar air mataku berjatuhan membentuk aliran sungai kecil begitu pula Jessica yang sedari tadi sibuk mengambil tissue.

Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Kuharus memilikimu

Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa

Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku
(Dewa 19-Risalah Hati)

Pertunjukkan telah usai dengan di akhiri ucapan ‘Aku selalu mencintaimu Putra’ oleh Rere. Aku terdiam. Penyesalan memang tak ada hentinya. Rere benar, ia dapat membuatku mencintainya walau sekarang cinta itu sudah semu. Aku tak dapat memaafkan diriku sendiri. Aku begitu bodoh! Bodoh karena keangkuhanku kepadanya. Dan sekarang aku harus hidup tanpa dirinya. Apakah aku mampu? Sampai saat ini aku masih mampu tapi nanti? Entahlah.

***

Sudah sebulan semenjak aku dan Jessica mengajukan tulisan-tulisan Rere ke meja penerbit tak ada kabar. Bahkan aku sudah mulai putus asa hingga pada akhirnya Jessica menelponku dan memberi kabar bahwa kini buku Rere sudah tersedia di toko buku seluruh Indonesia dan menjadi salah satu buku the best seller karena jumlahnya permintaan yang meningkat tajam.

Aku terduduk di bawah pohon rindang di sudut taman kota. Menikmati sepoi-sepoi angin yang menerpa halus kulitku sambil membaca sebuah buku berwarna abu-abu berjudul ‘Dunia Abu-Abu’. Aku tersenyum tipis. Ya, pantas saja aku selalu merasakan Dé Javu setiap membaca cerita-ceritanya. Setelah ku cocokkan satu cerpen dengan cerpen lainnya membentuk sebuah cerita dengan alur baru, aku menemukan jawabannya. Ternyata Rere membuat ini semua berdasarkan kisah nyata yang ia angkat dari kehidupannya sendiri semasa SMA dulu, semasa ia masih memakai seragam putih abu-abu.

Terimakasih banyak Putra…

Aku tersenyum tipis saat melihat sosok bayangan Rere di seberang sana sambil tersenyum hangat. Ia masih tetap cantik dengan muka yang lebih segar dari biasanya. Tak lama bayangan itu musnah bagai tertelan bumi.

“Aku tak kan melupakanmu,” gumamku pelan. Hanya sepotong kalimat itu-lah yang dapat ku ucapkan sekarang.



-fin

You May Also Like

0 comments