Penulis Tanpa Nama
![]() |
| weheartit.com |
“Pemisi!” Suara seseorang dari luar mengusikku saat
sedang menyelesaikan tugas gambar mesin. Aku beranjak bangun lalu membuka pintu
kost yang luasnya kira-kira hanya empat meter persegi. Dibaliknya seorang pria
paruh baya berdiri dengan pakaian serba jingga sambil menenteng sebuah map
bewarna coklat.
“Benar
ini Putra? Ada kiriman!” ujar pria itu sambil menyerahkan sebuah map coklat dan
bukti pengiriman. Sementara aku hanya mengangguk pelan. “Tolong tanda tangani
ini,” ujarnya sekali lagi sambil menunjukkan kolom tanda tangan penerima dengan
ibu jarinya.
Setelah
sukses mengantarkan barang kirimannya sebagai tukang pos, pria yang lebih
pantas ku sapa ‘bapak’ itu lalu pamit permisi. Meninggalkanku dengan berbagai
pertanyaan di otak.
Tumben
ada yang mengirimi paket siang-siang begini? Dengan hati-hati ku buka bingkisan
coklat itu. Di dalamnya terdapat berlembar-lembar kertas dengan tinta hitam
bekas diprint di atasnya.
Fiuh!
Aku menarik nafas perlahan. Ternyata kertas-kertas ini lagi toh? Aku tak habis
pikir, hampir setiap hari aku selalu dikirimi berbagai cerita pendek. Dari
mulai ber-genre horror, comedy, romance,
family bahkan thriller. Awalnya
aku tak berminat membacanya, selain karna aku tak hobi membaca, di amplop
coklat itu pun tak ada alamat pengirimnya. Sering aku bertanya kepada tukang
pos yang selalu mengantarkan amplop ini, tapi mereka hanya bilang ‘Penulis
Tanpa Nama’ lalu meninggalkanku sendiri.
Semakin
hari kiriman itu tak berhenti hingga akhirnya ku putuskan untuk membaca paling
tidak satu karya si Penulis Tanpa Nama tersebut. Cukup menarik dengan alur yang
tak pasaran dan mudah dipahami juga ejaan yang tepat. Si Penulis Tanpa Nama ini
memang benar-benar berbakat menjadi cerpenis ulung.
Setelah
menutup pintu dan memastikan tak ada orang yang menggangguku lagi, aku segera
menaruh amplop coklat itu ke rak khusus cerpen si Penulis Tanpa Nama lalu
melanjutkan kegiatan menggambar mesin brengsek ini.
***
Paginya
setelah sarapan, aku langsung beranjak ke luar kamar kost untuk pergi ke
kampus. Empat puluh lima menit berlalu, motorku sudah terparkir manis di salah
satu parkiran di universitas ternama di Jakarta. Dengan gesit aku langsung
berjalan menuju fakultas teknis mesin karena sebentar lagi kelas akan masuk.
“Hai
Put!” Aku menoleh ke belakang saat seseorang memanggil namaku. Sosok perempuan
berdiri sambil tersenyum manis kepadaku menampilkan satu gigi gingsul-nya yang
menggemaskan.
“Masih
dapet kiriman cerpen misterius itu?” tanyanya kemudian sambil duduk di bangku
sebelahku. Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya. Sungguh, aku sangat
membenci orang yang misterius seperti itu. Apa maksudnya mengirimiku berbagai
cerpen tanpa memberitahukan identitasnya? Pikirnya aku akan penasaran dan
mencari tahu? Sayangnya aku bukan tipe orang seperti itu.
“Udah
tau gue gak suka baca!” ketusku yang membuat Jessica –gadis itu- hanya terkekeh
pelan.
“Paling
tidak baca satu lah karyanya. Hargai pemberian orang!” Jessica menasihatiku mirip
Rere. Yah, Rere, ia sudah lama meninggal dunia karna kanker otak yang sudah
mencapai stadium akhir. Sangat mengenaskan ia meninggalkanku di saat aku sudah
mencintai dia dan menerima kekurangannya.
Aku
tersenyum pahit. Aku ingat bagaimana Rere mengejarku dulu saat SMA, padahal aku
tidak pernah mengubrisnya. Seperti orang yang mabuk cinta ia terus mengejarku
yang tak acuh, terus menungguiku main futsal sampai sore di sekolah walau
akhirnya ia harus pulang sendirian naik bis kota. Sampai hingga kejadian pada
saat ia memberiku sekotak bekal, dan pada akhirnya aku melempar kotak bekal itu
tepat di wajahnya.
Aku
jadi ingat bagaimana tangisannya waktu saat aku melempar kotak bekal buatannya
ke wajahnya. Aku yakin hatinya sangat perih, seperih hatiku saat ia
meninggalkanku selamanya. Hingga pada akhirnya setelah kejadian tersebut Rere
menjadi membenciku. Ia selalu menatap mataku tajam walau aku mengetahui ia tak
kan pernah membenciku, karna ia mencintaiku.
Saat
itu hari-hariku malah sepi. Tak ada pengejaran giat Rere, tak ada kata ‘selamat
pagi’ yang selalu terlontar dari mulut Rere ketika ku masuk kelas. Aku sadar
mulai saat itu aku menyukainya, aku mencintainya. Tapi perasaanku hancur remuk
saat aku mengetahui Rere telah tiada karena penyakit yang dialaminya. Apakah
ini karma bagiku yang telah menyia-nyiakannya? Entahlah, yang pasti saat itu
aku benar-benar terpuruk.
“Heh
jangan bengong Put!” Aku tersentak saat Jessica menepuk pundakku pelan.
“Dosennya udah masuk tuh!” ujarnya sekali lagi lalu berjalan menuju bangkunya
berada.
***
Hari
ini hari yang cukup melelahkan ditambah nilai gambar mesinku hanya mendapat
nilai D. Bayangkan saja aku rela tak tidur tiga hari penuh tapi hanya mendapat
nilai D. Sungguh dunia tak adil.
Dengan
gontai aku berjalan menuju kamar kost-ku. Saat ku buka pintu, terlihat benda
bewarna coklat tepat di atas kasurku. Hm.. amplop lagi? Aku yang sudah terbiasa
dengan kiriman amplop itu langsung membukanya tanpa ada rasa penasaran.
Lagi-lagi cerpen misterius itu. Kali ini dengan genre comedy. Karna iseng sekaligus melepas penat, aku tertarik untuk
membaca cerpen tersebut. Cukup membuatku tertawa dan otakku kembali tenang,
tapi entah kenapa aku jadi mengalami dé
javu saat membacanya. Sebenarnya bukan kali ini saja, tapi setiap aku
membaca cerpen-cerpen itu aku merasakannya.
Setelah
selesai membacanya, aku menyimpannya di rak khusus cerpen si Penulis Tanpa Nama
itu. Rak itu khusus aku buat untuk menampung cerpen yang selalu datang ke
rumahku yang kira-kira sudah mencapai puluhan. Entah mengapa aku merasa sayang
jika harus membuang cerpen-cerpen itu. Hatiku selalu berkata untuk tak
membuangnya. Memang aneh kedengarannya, tapi ini semua terjadi padaku.
***
Aku terbangun dari tidurku lalu
menyapukan seluruh pandangan ke pelosok tempat yang asing menurutku. Indah.
Bahkan sangat indah dengan keadaan alam yang menakjubkan.
“Terimakasih
Putra. Kamu udah mau baca cerpen-cerpenku,” Samar-samar aku mendengar bisikan
suara seorang gadis yang sangat taka sing lagi di telingaku. Seketika itu juga
aku berbalik badan. Aku yakin di situ bersemayam gadis tersebut.
“Re..re?” Mataku seketika membola
melihat siapa gadis yang kini sedang tersenyum hangat kepadaku. Ia adalah Rere,
someone-ku. Aku terpaku seketika. Ingin aku memeluknya, tapi ada daya memegangnya
pun aku tak bisa. Tanganku tembus begitu saja.
“Aku mencintaimu Re,” bisikku parau.
Aku yakin sekarang di pelupuk mataku sudah terdapat gerumulan air yang akan
turun saat waktunya tiba. Tapi aku tak boleh nangis, tak boleh cengeng.
“Aku juga sangat mencintaimu,
Putra,” ujarnya kemudian. Rere lagi-lagi tersenyum hangat. Senyum yang sangat
ku rindukan. Semakin lama senyum itu pudar seiring dengan kepergiannya.
“RERE!!!”
Aku tersentak bangun. Keringat dingin jelas bercucuran dari pelipisku. Ternyata
aku hanya bermimpi. Huhhh.. aku beberapa kali menarik nafas panjang untuk
mengatur degup jantungku. Ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya. Merindukan
sosok Rere yang selalu membuatku tersenyum bahkan terpuruk. Ku lirik jam weker
tepat di samping ranjangku masih menunjukkan pukul dua dini hari. Masih terlalu
malam rupanya, sebaiknya aku segera bergegas tidur agar tak ketinggalan kuliah
pagi.
***
“Dapet
kiriman cerpen ber-genre apa kemaren?”
tanya Jessica sambil menyendok baksonya.
“Comedy. Lumayanlah hiburan gara-gara nilai
gambar mesin gue jelek,” jawabku tenang sambil sesekali menyendok mi ayam yang
kini di hadapanku. Jessica hanya tersenyum tipis sementara aku tetap cuek
melanjutkan santapanku.
Terimakasih Putra. Kamu udah mau
baca cerpen-cerpenku.
DEG!
Aku terdiam. Tiba-tiba kalimat itu terngiang di kepalakku. Kenapa aku baru
menyadari kalimat itu? Tunggu! Itu berarti apakah Rere yang mengirimnya
kepadaku? Tapi tak mungkin Rere ke kantor pos, bertemu pak pos lalu memintanya
mengirim ke alamatku dengan mengatas namakan Penulis Tanpa Nama. Sungguh
konyol!
“Gue
tadi malem mimpi aneh,” gumam gue tapi masih terdengar oleh Jessica.
“Apaan?”
“Soal
cerpen itu,” Seketika Jessica menghentikan makannya.
Menatapku seolah berkata
‘ayo lanjutkan ceritamu, jangan setengah-setengah!’. Aku menarik nafas lalu
menceritakan semua kejadian di mimpi itu. Tak ada yang dikurangkan. Tak ada
yang dilebihkan. Setelah selesai bercerita, aku menarik nafas panjang, lalu
meneguk habis es teh yang berdiri manis di hadapanku. Sementara Jessica masih
terdiam.
“Gue sebenarnya tau apa
yang terjadi,” ujarnya pelan namun dapat membuatku mati tersendak oleh es teh
itu.
“Maksud lo?”
“Rere yang lo maksud itu
adalah sahabat gue. Sahabat kecil gue. Dia pernah bilang ‘kalo gue mati, gue nitip
ini semua ya? Kalo bisa tolong kasih ini ke Putra, tapi rahasiakan kalo dari
gue, gue takut dia ngebuang ini sama kayak gue ngasih kotak bekal itu’ sambil
menyerahkan sebuah flashdisk ke gue.
Sehari setelah itu, Rere meninggal dunia. Dan orang yang gue salahin pertama
adalah lo. Karna lo, si Rere jadi males hidup. Dia udah gak semangat buat
ngelawan penyakitnya..” Jessica menarik nafas. Jelas di matanya bercucuran air
mata.
“Awalnya gue gak mau
kasih barang berharga Rere ke lo. Tapi setelah gue buka-buka flashdisk-nya dia, itu semua berisi
cerpen-cerpen buatan Rere. Itu semua adalah perjalanan hidupnya yang dia tulis
menjadi rangkaian cerita dengan judul dan genre
berbeda. Terakhir gue lihat di situ ada video dia nyanyi khusus lo. Karna gue
yakin lo gak bakal baca cerpen itu semua, gue akhirnya mem-printnya satu-satu
dan gue kirim setiap hari ke kost-an lo mengatas namakan Penulis Tanpa Nama.
Jujur, terakhir gue pengen ngirim video pake CD, tapi ternyata si Rere udah
bilang duluan,” ujar Jessica pajang lebar.
Aku tertegun, sedangkan
Jessica sudah menumpahkan semua air matanya. Aku benar-benar menyesal. Menyesal
karena telah melukai seorang yang mencintaiku tanpa memandang apa pun. Menyesal
telah membuatnya jadi tak bersemagat untuk hidup. Dan menyesal telah
membiarkannya pergi begitu saja. Aku adalah lelaki bodoh yang telah
menyia-nyiakan cinta sejatiku sendiri.
***
Pagi ini aku memutuskan
untuk membolos kuliah. Rencananya aku dengan ditemani Jessica akan pergi ke
salah satu penerbit nasional. Tentu saja aku ingin mengajukan tulisan-tulisan
Rere menjadi sebuah buku kumpulan cerpen yang akan di jual di seluruh
nusantara.
“Saya tertarik untuk
membukukan naskah ini. Boleh saya tahu, siapakah penulis ini semua?” tanya pak
redaksi yang kini berdiri di hadapanku. Aku dan Jessica saling pandang lalu
dengan kompak kami menjawab, “Penulis Tanpa Nama, Rere Ni Putri Ayu.”
“Baiklah. Nama yang
kreativ. Tunggu kabarnya ya mas, mbak.” ucap pak redaksi lalu mengsilahkan kami
untuk keluar ruangan. Sungguh aku tak percaya ini. Aku bahkan tak percaya kalau
Rere memiliki bakat menulis. Ternyata selama ini ia memendam bakat menulisnya
ini. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Jess, gue mau nonton
video Rere dong!” ujarku ketika kita berada di parkiran motor. Jessica hanya
mengangguk pelan lalu menyuruhku untuk datang kerumahnya nanti malam.
***
Seperti yang sudah
dijanjikan Jessica, aku datang ke rumahnya. Sejenak aku terdiam, mempersiapkan
diri untuk melihat video Rere. Takut-takut aku akan menjadi lelaki lemah di
matanya.
“Ayo masuk!” Jessica
mempersilahkanku masuk ke rumahnya yang cukup sederhana ini.
“Duduk di situ dulu! Gue
mau buat minum sama makan,” ujarnya member aba-aba lalu masuk ke dalam dapur.
Dengan sigap aku duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Sesekali aku melirik ke
dalam. Sungguh, aku tak sabar untuk menyaksikan video tersebut.
Tak lama Jessica datang
sambil menenteng nampan berisi dua gelas yang masing-masing berisi jus melon
dan se-toples pop corn. Ia kemudian mangambil CD yang sudah ku duga di dalamnya
ada sosok Rere. Di masukkannya CD tersebut lalu menekan tombol play.
Aku menatap serius sosok
Rere yang dengan lincah memainkan tuts-tuts
piano dengan rambut yang hampir botak. Ia sungguh cantik. Tanpa sadar air
mataku berjatuhan membentuk aliran sungai kecil begitu pula Jessica yang sedari
tadi sibuk mengambil tissue.
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Kuharus memilikimu
Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku (Dewa 19-Risalah Hati)
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Kuharus memilikimu
Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku (Dewa 19-Risalah Hati)
Pertunjukkan telah usai
dengan di akhiri ucapan ‘Aku selalu mencintaimu Putra’ oleh Rere. Aku terdiam.
Penyesalan memang tak ada hentinya. Rere benar, ia dapat membuatku mencintainya
walau sekarang cinta itu sudah semu. Aku tak dapat memaafkan diriku sendiri.
Aku begitu bodoh! Bodoh karena keangkuhanku kepadanya. Dan sekarang aku harus
hidup tanpa dirinya. Apakah aku mampu? Sampai saat ini aku masih mampu tapi
nanti? Entahlah.
***
Sudah sebulan semenjak
aku dan Jessica mengajukan tulisan-tulisan Rere ke meja penerbit tak ada kabar.
Bahkan aku sudah mulai putus asa hingga pada akhirnya Jessica menelponku dan
memberi kabar bahwa kini buku Rere sudah tersedia di toko buku seluruh
Indonesia dan menjadi salah satu buku the
best seller karena jumlahnya permintaan yang meningkat tajam.
Aku terduduk di bawah
pohon rindang di sudut taman kota. Menikmati sepoi-sepoi angin yang menerpa
halus kulitku sambil membaca sebuah buku berwarna abu-abu berjudul ‘Dunia
Abu-Abu’. Aku tersenyum tipis. Ya, pantas saja aku selalu merasakan Dé Javu setiap membaca cerita-ceritanya.
Setelah ku cocokkan satu cerpen dengan cerpen lainnya membentuk sebuah cerita
dengan alur baru, aku menemukan jawabannya. Ternyata Rere membuat ini semua
berdasarkan kisah nyata yang ia angkat dari kehidupannya sendiri semasa SMA
dulu, semasa ia masih memakai seragam putih abu-abu.
Terimakasih
banyak Putra…
Aku tersenyum tipis saat
melihat sosok bayangan Rere di seberang sana sambil tersenyum hangat. Ia masih
tetap cantik dengan muka yang lebih segar dari biasanya. Tak lama bayangan itu
musnah bagai tertelan bumi.
“Aku tak kan
melupakanmu,” gumamku pelan. Hanya sepotong kalimat itu-lah yang dapat ku
ucapkan sekarang.
-fin



0 comments