Malaikat Penjaga Rei
Malam ini begitu
sepi. Angin sepoi-sepoi menusuk lembut kulit mulus Rei yang sudah dibalut
sweater biru. Rei memandang kosong pohon akasia yang berada tepat di depannya.
Bibir mungilnya bergetar hebat seiring meluncurnya bulir hangat itu lagi dari
ujung matanya. Tangannya bergerak hendak menggapai bayangan putih yang sedang
tersenyum manis di depannya.
“Sudah malam Rei,
pulanglah!” Dion –bayangan putih itu- melambaikan tangan seiring melebarnya
sepasang sayap di punggungnya. Rei terdiam membisu. Ia segera mengelap pipinya
yang basah oleh air matanya dengan punggung tangannya cepat.
“Aku tak kan
melupakanmu Dion!” ujar Rei lantang masih dengan nafas sesegukan. Ia tersenyum
kecut menatap lurus pohon akasia yang sudah di tinggal sang empu-nya. Sedetik
kemudian, Rein menghembuskan nafas berat. Mengatur degup jantungnya yang
bergerak tak beraturan dan mengeluarkan penat di dada yang terus menumpuk
seiring kepergian Dion.
***
Malaikat penjaga itu datang lagi…
Dion aku memanggilnya…
Kegelapan malam selalu menemaninya…
Tapi aku, aku-lah cahaya dalam kegelapan itu…
Rei terbangun
tiba-tiba dari tidurnya. Terlihat jelas keringat dingin bercucuran dari
pelipisnya. Jantungnya berdegup kencang bak irama drum dalam musik rock.
Sejenak ia berkali-kali menarik nafas berat. Terasa olehnya aliran oksigen
segar itu mengalir dari saluran pernafasannya.
Setelah dirinya
merasa tenang, dengan enggan Rei berjalan ke kamar mandi. Diguyurnya seluruh
anggota badan untuk merileks-an badannya. Bagai anak panah melesat cepat, Rei
mengingat mimpi itu. Dion, dirinya dan pohon akasia berada dalam satu bidang
horizontal.
“Kangen Dion,”
lirihnya kemudian. Ia tertegun lalu dengan tiba-tiba ia menepuk dahinya pelan. Mengapa
aku selalu memimpikannya? Pertanyaan itulah yang selalu berkelebat hebat di
otaknya.
Sudah dua tahun
semenjak malam itu, saat Dion ijin pamit meninggalkan Rei. Dion merupakan
malaikat penjaga Rei yang dikirim Guardian untuk menjaganya. Namun, kelalaian
Dion yang menyebabkan Rei jatuh hati padanya, sehingga Dion harus dicabut
hak-nya untuk menjaga Rei. Karena kalau tidak, keseimbangan alam antara bangsa
malaikat dan bangsa manusia akan terganggu.
Rei menarik lagi
nafas beratnya. Di sapukan pandangannya ke seluruh ruangan bernuansa jingga
ini. Sesaat pandangan matanya jatuh pada sebuah foto yang berdiri tegak di atas
meja riasnya. Terpampang wajah sosok pemuda-pemudi yang sedang asyik
bersenandung ria. Memamerkan sederetan gigi rapih nan putih di balik layar
kaca.
Dion dan dirinya
tersenyum cerah, tak ada beban di hati. Rei terdiam. Lagi dan lagi bulir hangat
menyerupai kristal itu jatuh lagi. Memebentuk aliran sungai kecil di pipi mulus
Rei.
“Aku gak boleh
nangis terus,” gumamnya sembari menghapus sisa air mata di pipinya dengan
punggung tangannya. Samar-samar ia mendengar bisikan malaikat penjaganya masuk
melalui telinga kanan. Bisikan berupa untaian kata yang dapat mendinginkan ulu
hatinya.
Aku akan menjagamu Rei. Aku sangat mencintaimu.
Kalimat yang
berhasil masuk ke dalam saluran telinga Rei masih terngiang di kepalanya. Ia
sangat yakin bahwa kalimat tersebut adalah bisikan dari Dion, malaikat
penjaganya.
***
Rei berjalan-jalan
menelusuri komplek rumahnya. Tak lama tatapannya jatuh pada sebuah pohon dimana
semua kenangan lalu tersimpan di dalamnya. Semakin lama pohon akasia itu
semakin gugur daunnya. Rei menarik nafas berat lalu beranjak mendekatinya.
Disenderkan punggunya pada batang pohon tersebut.
Merem melek Rei
menikmati teduhnya pohon dan desiran sepoi-sepoi angin. Dilihatnya jam yang
asyik bertengger di tangan kirinya menunjukkan pukul empat sore. Rupanya ia
sudah terlelap selama tiga jam di sana.
Rei beranjak
bangun, lalu segera membersihkan dirinya yang kotor akan daun-daun akasia.
Belum sempat Rei melangkah, bayangan itu muncul lagi. Bukan! Bukan bayangan,
melainkan seperti sosok manusia.
“Dion?” Rei tak
percaya pada sosok di depannya. Dilihatnya Dion dari bawah ke atas , hingga
tatapan kedua matanya bertabrakan.
“Kau benar Dion?”
tanyanya lagi mendelik heran. Sosok pemuda tampan di hadapannya tersenyum
manis. Senyum yang dapat meluluhkan hati Rei. Tak ada sayap di punggungnya,
bahkan ia memakai pakaian santai biasa, tak ada baju putih menjijikan itu lagi.
“Rei, masih ingat
aku?” Dion balik bertanya. Ia menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya.
“Tentu,” jawab Rei
seraya merangkul dan memeluk Dion. Hatinya sangat senang saat pemuda yang
dicintainya dapat kembali lagi. Walau mash terbayang kepergian Dion setelah
ini, Rei tak peduli. Yang ada dipikirannya saat ini adalah melepas rindu dengan
Dion. Rei melepas pelukannya, lalu mengusap air mata yang sudah berjatuhan di
pipinya. Dirabanya wajah Dion, melihat lekuk-lekuk tampan wajahnya.
“Tenang aku bukan
kloni-nya Dion,” ujar Dion tenang. Mata teduhnya menunjuk bahwa ia tak
berbohong. Ia tersenyum tipis lalu menunjuk rumput ber-atap rimbunnya pohon
akasia, mengisyaratkan agar Rei duduk di situ. “Ayo duduk!”
“Kau tak kan pergi
lagi kan?” tanya Rei saat dirinya sudah duduk di bawah pohon akasia. Ia menatap
sendu wajah Dion. Manik matanya menangkap tepat bayangan dirinya di manik mata
Dion. Dion tertawa renyah melihat wajah polos dan lugu Rei, sedangkan Rei
memandangnya heran.
“Tak usah cengeng
seperti bayi. Aku sudah menjadi manusia,” ujar Dion masih dalam tertawa renyah.
Seketika mata Rei membola dan mulutnya ternganga lebar mendengar penuturan
Dion.
“Kau tak bercanda
kan?” Kini tawaan Dion tambah menggema mendengar pertanyaan bodoh Rei,
sedangkan Rei masih manyun dibuatnya. Tiba-tiba Dion mendekap tubuh Rei kedalam
pelukannya. Hangat, itulah yang dirasakan Rei saat ini. Sedetik kemudian Rei
membalas pelukan Dion sama eratnya. Menikmati bau khas badan bercampur parfum
yang Dion pakai yang masuk tanpa permisi melewati salura pernafasannya.
“Aku mencintaimu,”
bisik Dion tepat di telinga Rei. Rei tertegun mencerna kata-kata yang keluar
lembut dari mulut Dion. Sedetik kemudian ia menarik kedua sudut bibirnya
sehingga membentuk sebuah lengkungan cekung. “Terimakasih,” gumam Ken kecil
sambil tersenyum tipis.
-fin



0 comments