Malaikat Penjaga Rei

by - 2/14/2018 10:11:00 PM

weheartit.com

Malam ini begitu sepi. Angin sepoi-sepoi menusuk lembut kulit mulus Rei yang sudah dibalut sweater biru. Rei memandang kosong pohon akasia yang berada tepat di depannya. Bibir mungilnya bergetar hebat seiring meluncurnya bulir hangat itu lagi dari ujung matanya. Tangannya bergerak hendak menggapai bayangan putih yang sedang tersenyum manis di depannya.
“Sudah malam Rei, pulanglah!” Dion –bayangan putih itu- melambaikan tangan seiring melebarnya sepasang sayap di punggungnya. Rei terdiam membisu. Ia segera mengelap pipinya yang basah oleh air matanya dengan punggung tangannya cepat.
“Aku tak kan melupakanmu Dion!” ujar Rei lantang masih dengan nafas sesegukan. Ia tersenyum kecut menatap lurus pohon akasia yang sudah di tinggal sang empu-nya. Sedetik kemudian, Rein menghembuskan nafas berat. Mengatur degup jantungnya yang bergerak tak beraturan dan mengeluarkan penat di dada yang terus menumpuk seiring kepergian Dion.
***
Malaikat penjaga itu datang lagi…
Dion aku memanggilnya…
Kegelapan malam selalu menemaninya…
Tapi aku, aku-lah cahaya dalam kegelapan itu…
Rei terbangun tiba-tiba dari tidurnya. Terlihat jelas keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Jantungnya berdegup kencang bak irama drum dalam musik rock. Sejenak ia berkali-kali menarik nafas berat. Terasa olehnya aliran oksigen segar itu mengalir dari saluran pernafasannya.
Setelah dirinya merasa tenang, dengan enggan Rei berjalan ke kamar mandi. Diguyurnya seluruh anggota badan untuk merileks-an badannya. Bagai anak panah melesat cepat, Rei mengingat mimpi itu. Dion, dirinya dan pohon akasia berada dalam satu bidang horizontal.
“Kangen Dion,” lirihnya kemudian. Ia tertegun lalu dengan tiba-tiba ia menepuk dahinya pelan. Mengapa aku selalu memimpikannya? Pertanyaan itulah yang selalu berkelebat hebat di otaknya.
Sudah dua tahun semenjak malam itu, saat Dion ijin pamit meninggalkan Rei. Dion merupakan malaikat penjaga Rei yang dikirim Guardian untuk menjaganya. Namun, kelalaian Dion yang menyebabkan Rei jatuh hati padanya, sehingga Dion harus dicabut hak-nya untuk menjaga Rei. Karena kalau tidak, keseimbangan alam antara bangsa malaikat dan bangsa manusia akan terganggu.
Rei menarik lagi nafas beratnya. Di sapukan pandangannya ke seluruh ruangan bernuansa jingga ini. Sesaat pandangan matanya jatuh pada sebuah foto yang berdiri tegak di atas meja riasnya. Terpampang wajah sosok pemuda-pemudi yang sedang asyik bersenandung ria. Memamerkan sederetan gigi rapih nan putih di balik layar kaca.
Dion dan dirinya tersenyum cerah, tak ada beban di hati. Rei terdiam. Lagi dan lagi bulir hangat menyerupai kristal itu jatuh lagi. Memebentuk aliran sungai kecil di pipi mulus Rei.
“Aku gak boleh nangis terus,” gumamnya sembari menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangannya. Samar-samar ia mendengar bisikan malaikat penjaganya masuk melalui telinga kanan. Bisikan berupa untaian kata yang dapat mendinginkan ulu hatinya.
Aku akan menjagamu Rei. Aku sangat mencintaimu.
Kalimat yang berhasil masuk ke dalam saluran telinga Rei masih terngiang di kepalanya. Ia sangat yakin bahwa kalimat tersebut adalah bisikan dari Dion, malaikat penjaganya.
***
Rei berjalan-jalan menelusuri komplek rumahnya. Tak lama tatapannya jatuh pada sebuah pohon dimana semua kenangan lalu tersimpan di dalamnya. Semakin lama pohon akasia itu semakin gugur daunnya. Rei menarik nafas berat lalu beranjak mendekatinya. Disenderkan punggunya pada batang pohon tersebut.
Merem melek Rei menikmati teduhnya pohon dan desiran sepoi-sepoi angin. Dilihatnya jam yang asyik bertengger di tangan kirinya menunjukkan pukul empat sore. Rupanya ia sudah terlelap selama tiga jam di sana.
Rei beranjak bangun, lalu segera membersihkan dirinya yang kotor akan daun-daun akasia. Belum sempat Rei melangkah, bayangan itu muncul lagi. Bukan! Bukan bayangan, melainkan seperti sosok manusia.
“Dion?” Rei tak percaya pada sosok di depannya. Dilihatnya Dion dari bawah ke atas , hingga tatapan kedua matanya bertabrakan.
“Kau benar Dion?” tanyanya lagi mendelik heran. Sosok pemuda tampan di hadapannya tersenyum manis. Senyum yang dapat meluluhkan hati Rei. Tak ada sayap di punggungnya, bahkan ia memakai pakaian santai biasa, tak ada baju putih menjijikan itu lagi.
“Rei, masih ingat aku?” Dion balik bertanya. Ia menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya.
“Tentu,” jawab Rei seraya merangkul dan memeluk Dion. Hatinya sangat senang saat pemuda yang dicintainya dapat kembali lagi. Walau mash terbayang kepergian Dion setelah ini, Rei tak peduli. Yang ada dipikirannya saat ini adalah melepas rindu dengan Dion. Rei melepas pelukannya, lalu mengusap air mata yang sudah berjatuhan di pipinya. Dirabanya wajah Dion, melihat lekuk-lekuk tampan wajahnya.
“Tenang aku bukan kloni-nya Dion,” ujar Dion tenang. Mata teduhnya menunjuk bahwa ia tak berbohong. Ia tersenyum tipis lalu menunjuk rumput ber-atap rimbunnya pohon akasia, mengisyaratkan agar Rei duduk di situ. “Ayo duduk!”
“Kau tak kan pergi lagi kan?” tanya Rei saat dirinya sudah duduk di bawah pohon akasia. Ia menatap sendu wajah Dion. Manik matanya menangkap tepat bayangan dirinya di manik mata Dion. Dion tertawa renyah melihat wajah polos dan lugu Rei, sedangkan Rei memandangnya heran.
“Tak usah cengeng seperti bayi. Aku sudah menjadi manusia,” ujar Dion masih dalam tertawa renyah. Seketika mata Rei membola dan mulutnya ternganga lebar mendengar penuturan Dion.
“Kau tak bercanda kan?” Kini tawaan Dion tambah menggema mendengar pertanyaan bodoh Rei, sedangkan Rei masih manyun dibuatnya. Tiba-tiba Dion mendekap tubuh Rei kedalam pelukannya. Hangat, itulah yang dirasakan Rei saat ini. Sedetik kemudian Rei membalas pelukan Dion sama eratnya. Menikmati bau khas badan bercampur parfum yang Dion pakai yang masuk tanpa permisi melewati salura pernafasannya.
“Aku mencintaimu,” bisik Dion tepat di telinga Rei. Rei tertegun mencerna kata-kata yang keluar lembut dari mulut Dion. Sedetik kemudian ia menarik kedua sudut bibirnya sehingga membentuk sebuah lengkungan cekung. “Terimakasih,” gumam Ken kecil sambil tersenyum tipis.


-fin

You May Also Like

0 comments