Bayang-Bayang Cinta Pertama

by - 2/14/2018 01:11:00 PM

weheartit.com

     “Devi, ayo cepetan! Kejal aku cekalang!” Masih dengan nafas terngah-engah Devi mencoba mengejar anak laki-laki yang berlari mendahuluinya. Sebenarnya ia sudah capai sedaritadi mengejar Wildan, sahabatnya ini, tapi rasa kepuasan bermain masih menggenang di dalam raganya dan mengalahkan rasa letih yang sedaritadi sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.

         “Wildan, tunggu Devi dong! Devi capek nih dalitadi kejal-kejalan mulu!” Devi terduduk di hamparan permadani hijau yang luas. Dengan memandangi sosok laki-laki berumur 5 tahun yang masih berdiri di seberang sana, gadis manis ini segera melepas lelah. Tak lama Wildan menghampiri sahabatnya ini. Ia duduk di samping Devi sambil meneguk sebotol air minum yang sudah dibawanya dari rumah.

       “Mau gak?” tawar Wildan sembari menyodorkan botol minumnya ke arah gadis yang umurnya lebih muda satu tahun darinya. Sedetik kemudian, gadis berambut panjang ini menggelengkan kepala.

       “Gak ah! Itu kan bekas bibil kamu, jolok tau!”Wildan menggeleng pelan mendengar celotehan cadel keluar dari bibir mungil Devi. Ia menarik nafas pelan.

        “Aku yakin kamu udah haus Dev. Lagian aku tadi udah cikat gigi, jadi gak kotol. Liat nih!” ujar Wildan bangga sambil memamerkan sederetan gigi ompongnya. Devi terkekeh geli melihat kelakuan Wildan. Kemudian, ia segera mengambil botol air minum Wildan dan meneguknya sampai habis.

        “Tuh kan kamu haus sampai-sampai minumku dihabisin!”ujar Wildan dengan senyum kemenangan.

       “Iya aku haus banget!” Devi tertawa pelan mengakui keadaannya. Sedetik kemudian Wildan pun ikut tertawa bersamanya.

***

    Devi tersenyum-senyum sendiri membayangi putaran-putaran memori yang terus melesat di pikirannya. Ia tak habis pikir akan mencintai sosok sahabatnya sendiri. Devi berjalan-jalan sendiri di sekitar komplek rumahnya. Sambil menenteng foto Wildan, ia bersenandung ria. Tak peduli bisikan-bisikan orang yang sudah menganggapnya gila. Di sampingnya bi Siti mengikuti dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah gadis berumur 16 tahun ini.

       “Non, ayo kita pulang! Pak Guntur sudah menunggumu sedari tadi” ujar bi Siti sopan sambil menggandeng tangan Devi. Devi menoleh ke samping kirinya, melihat bi Siti yang sudah menggandeng tangannya. Ia tersenyum simpul, lalu balik menggandeng tangan bi Siti.

       “Ayo bi!” ujar Devi masih dengan tersenyum. Bi Siti dengan semangat mengantar Devi pulang ke rumahnya.

***

       “Devi.. Devi.. Devi janji kan gak lupa sama aku?” semburat kesedihan nampak di wajah Wildan saat berlari mengejar Devi yang hendak naik ke dalam mobil hitamnya.

     “Aku janji gak akan lupa sama kamu, Wil!” Gadis berumur 10 tahun ini mengusap pipinya yang sudah basah oleh airmatanya. Devi menangis sesegukan sejak mengetahui ayahnya  akan memindahkan dirinya ke New York.

        “Ini buat kamu! Aku harap kamu suka! Kamu tahu, kamu adalah cinta pertamaku” ucap Wildan sembari memberikan gelang putih dengan liontin hati kepada Devi. Devi tertegun sejenak. Sedetik kemudian ia mengambil gelang pemberian Wildan dan memakainya di tangan kanannya. Dengan gesit Devi memeluk Wildan. Wildan tersentak kaget, baru kali ini ia mendapat pelukan Devi. Ia mempererat pelukan gadis yang disayanginya ini. Takut akan kehilangan sahabatnya sekaligus cinta pertamanya ini.

    “Makasih Wildan! Kamu juga cinta pertamaku” ucap Devi sambil melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah tampan Wildan dengan sendu. Semburat kesedihan terukir jelas di mata elang Wildan. Ia mengangguk membalas perkataan Devi.

     “Devi, ayo nak! Kita mau berangkat!” Di seberang sana Tante Wina, mama Devi, memanggil putri semata wayangnya ini dengan senyum manis. Devi menoleh sebentar ke arah ibundanya tercinta lalu kembali menjatuhkan pandangannya pada Wildan.

        “Aku pergi!” ujarnya di sela kepergiannya. Devi berlari menuju mamanya dan menaiki mobil hitamnya. Tak lama mobil itupun melaju seiring dengan tangis pecah Wildan. Segera Wildan mengejar mobil tersebut dengan sepedanya.

     “DEVI!! JANGAN LUPAIN AKU!!” teriaknya disela melajunya sepeda yang dikendarainya itu. Kini mobil yang ditumpangi Devi telah hilang dari pandangan seiring dengan berbeloknya mobil tersebut di tikungan. Wildan berhenti sejenak, mengusap air mata dengan kaus sepak bola yang ia pakai sekarang.

         “Devi, aku gak akan lupain kamu!” lirih Wildan lagi kali ini sambil menangis tersedu-sedu.

***

         “Papah, Devi pulang! Pah, ada Wildan nih! Hahaha, Wildan ganteng kan pah?” Devi berlari menemui ayahnya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Ia bergelayut manja di lengan ayahnya. Om Guntur, ayah Devi, menatap putri semata wayangnya ini dengan nanar.

       “Nak, Wildan udah tenang di alam sana. Kamu jangan sedih ya?” ujar Om Guntur sembari mengusap lembut rambut panjang Devi. Semburat kesedihan terpancar jelas di wajah Om Guntur. Ya, Devi mempunyai penyakit jiwa yang merenggut masa depannya ini semenjak kepergian Wildan satu tahun silam.

     “Tapi pah, Wildan ada di situ tuh! Lagi duduk. Hahaha. Ayo Wildan kesini!” Devi menunjuk-nunjuk bangku kosong yang terletak di sudut ruangan tersebut sekali lagi. Ia ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa Wildan sedang duduk manis sambil terus mengulum senyum kearahnya. Melihat tingkah laku putrinya ini, Om Guntur segera merengkuhnya ke dalam dekapan hangatnya.

       “Dev, papah omongin lagi ya! Wildan itu udah enggak ada sayang. Dia udah tenang di alam sana. Ingat! Kamu masih punya papah dan mamah saying.” Masih dengan sabar, Om Guntur menjelaskan keadaan sebenarnya.

     “Gak! Papah itu bohong! Papah jahat sama Devi! Jahat! Jahat!” terka Devi marah. Mukanya merah padam mendengar penjelasan ayahnya. Didorongnya tubuh om Guntur dengan kasar, lalu lari sekuat tenaga menuju keluar rumah diiringi tangisnya yang pecah.

         Hati Devi hancur berkeping-keping mendengar penuturan ayahnya. Ia terus memeluk foto Wildan yang sedari tadi masih berada di genggamannya. Sedetik kemudian ia tersenyum sinis.

      “Wildan, kamu gak boleh jahat sama aku! Kita kan sahabatan, aku juga suka sama kamu. Kamu itu cinta pertamaku. Kamu juga pernah bilang kan, kalau aku cinta pertamamu? Bener kan?” tanyanya sambil menunjuk-nunjuk foto Wildan. Ia tak peduli dengan olokan-olokan tetangganya yang sudah menganggapnya gila. Karna dia memang sudah gila!

        “Hahahah!” tawanya keras. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sesuatu. Pohon mangga di taman komplek rumahnya menyita perhatiannya. Devi kemudian berjalan menuju pohon tersebut. Dilihatnya ukiran yang mengukir indah di pohon tersebut. Mangga kita berdua. D&W.

         Devi tertegun melihatnya. Memori otaknya kini mulai memutar kembali peristiwa yang dulu sempat terekam olehnya. Saat-saat ia sedang bersama sahabatnya dan cinta pertamanya ini. Mengambil mangga hingga lomba kecepatan memanjat pohon ia lakukan di sini bersama Wildan. Tak terasa sebutir kristal mengucur lewat ujung kelopak matanya. Sambil mendekap foto Wildan ia duduk di bawah pohon mangga tersebut. Dipeluknya foto Wildan hangat seiring dengan terpejamnya mata bulatnya.

***

      Saat ini Devi tengah berada di kerumunan orang-orang yang berhamburan di sekitar burung besi terbang. Senyum mengembang terus terukir manis di bibir mungilnya.

     “Pasti Wildan sangat senang dengan kedatanganku! Semoga dia gak lupa sama aku” gumamnya pelan. Terdengar suara nyaring yang keluar dari tenggorokan Tante Wina yang sedari tadi memanggil nama putrinya tersebut.

    “Devi, janganlah lambat! Bisa-bisa kamu nanti hilang di bandara ini!” Tante Wina berkacak pinggang melihat tingkah laku putrinya ini.

     “Iya mah!” ujar Devi sembari menenteng koper hitam miliknya. Senyum itu. Senyum bahagia itu masih terukir jelas di bibir Devi. Tak sabar rasanya bertemu sahabat kecilnya serta cinta pertamanya itu.

        Satu setengah jam berlalu, kini taksi yang ditumpangi Devi, Tante Wina dan Om Guntur telah terparkir di salah satu rumah yang terletak di sudut komplek Rahayu Indah. Devi tertegun melihat bendera kuning yang tertancap kokoh di pagar hitam sang empunya rumah. Sama seperti Devi, Tante Wina dan Om Guntur pun tak kalah bingungnya. Ditengah kebingungan Devi dan kedua orang tuanya tersebut, beberapa orang mengenakan baju serba hitam keluar dari dalam rumah tersebut.

      “Maaf pak, yang meninggal siapa ya?” tanya Devi segan kepada lelaki paruh baya yang kini berdiri di hadapannya. Kini perasaannya gelisah, takut-takut nama Wildan-lah yang keluar dari mulut orang itu.

      “Nak Wildan yang meninggal dunia. Sudah lama ia punya penyakit kanker hati.” ujar lelaki paruh baya itu yang kemudian pamit beranjak pergi meninggalkan Devi yang berdiri membeku. Seperti tersambar petir, hatinya kini hancur berkeping-keping. Butiran bening itu sudah bergerumul di kelopak mata Devi, menunggu waktunya turun. Badannya lemas seiring dengan merosotnya tubuh Devi menuju tanah berbatu. Beruntung kedua orang tua Devi langsung memegangi tubuh anaknya dan langsung membopongnya masuk ke dalam rumah.

***

      Devi mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih enggan untuk terbuka. Sebentang siluet jingga menyilaukan pandangannya. Langit sudah sore ternyata. Benang-benang jingga pun sudah memenuhi menutupi langit nan biru. Sedangkan rimbunan daun pohon masih setia menjaga Devi dari terik sinar matahari. Samar-samar ia melihat bayangan putih membentuk sesosok manusia berperawakan tinggi sedang tersenyum padanya.

        “Wildan?” masih dengan mengerjap-ngerjapkan matanya Devi menganga tak percaya.

     “Wildan kamu disini? Kamu Wildan kan? Hahaha, kamu tambah ganteng yah!” Devi berdiri berjingkrak-jingkrak saking senangnya. Tapi tiba-tiba lompatannya terhenti melihat bagian tubuh Wildan yang aneh.

      “Kok kamu punya sayap?” Devi bertanya memasang muka bingung. Disisi lain Wildan tersenyum hangat. Senyum yang dirindukan seorang Devi.

      “Jangan sedih karna gak ada aku. Aku selalu mencintaimu di syurga Dev! Aku yakin penyakit jiwamu akan sembuh. Berjanjilah padaku, kamu akan menjadi gadis yang tegar seperti dulu. Menjadi Devi yang periang dan manja. Aku bahagia jika lihat kamu tersenyum Dev! Tersenyumlah untukku! Cinta itu keajaiban, keajaiban pasti datang untukmu. Aku pergi!” ucap Wildan seraya mengepakkan sayapnya yang sudah membentang.

       “Wildan mau kemana? Wildan jangan pergi! Aku cinta kamu Wildan!” Untuk kesekian kalinya Devi menangis karena Wildan. Senyum hangat terpancar jelas di wajahnya seiring dengan kepergiannya. Devi menangis menjerit melihat Wildan yang kini menghilang dari pandangan mata.

         “Wildan.. jangan tinggalin aku!!” lirihnya disela tangisannya.

      Tanpa ia sadari dua pasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Melihat putri semata wayangnya yang kini sudah lemas bersender tersangga pohon, Om Guntur dan Tante Wina segera membopongnya ke rumahnya. Terlihat semburat khawatir dari raut wajah Om Guntur dan Tante Wina akan kondisi putrinya.

***

       Siluet-siluet sinar matahari masuk ke kamar Devi lewat celah jendela kamarnya. Bunyi burung-burung berkicau terdengar jelas di telinganya, manandakan bahwa hari telah pagi. Dengan malas Devi berjalan menuju ruang makan, tempat dimana biasanya keluarganya kumpul pada pagi hari.

     “Hai pah! Hai mah!” sapanya pada kedua orang tuanya. Om Guntur dan Tante Wina saling berpandangan. Keduanya tak percaya akan perubahan sikap dan psikis Devi semenjak berteriak-teriak memanggil nama Wildan kemarin.

        “Udah baikan sayang?” tanya Om Guntur kepada anaknya ini.

       “Udah! Aku makan ya?” Om Guntur dan Tante Wina sesegera mungkin mempersilahkan putri kesayangannya ikut makan bersamanya. Terpancar jelas semburat kesenangan dan kebahagian di wajah Om Guntur dan Tante Wina akan kondisi anaknya yang semakin baik. Bahkan kini Devi bisa dinyatakan sembuh dari gangguan jiwa. Hening untuk beberapa saat. Mungkin keadaan yang mengharuskan mereka untuk diam sampai Om Guntur yang segera memecah kesunyian itu.

      “Hm.. gimana kalo kita ke makam Wildan sehabis makan nanti? Kamu kan sudah lama tidak ke sana?” tanya Om Guntur hati-hati kepada Devi. Devi melirik ayahnya sebentar lalu tersenyum.

      “Boleh!” jawabnya yang mampu membuat sunggingan senyum di wajah Om Guntur dan Tante Dewi.

***

     Mobil hitam Devi kini sudah terparkir manis di salah satu pemakaman terkenal di kotanya. Sesegera Devi turun dari mobilnya dan segera menyapukan pandangannya ke seluruh area pemakaman tersebut. Sepi.

       Tersenyumlah untukku! Cinta itu keajaiban, keajaiban pasti datang untukmu.

    Kata-kata terakhir Wildan kemarin sore masih terngiang di benak Devi. Benar, cinta adalah keajaiban. Keajaiban adalah cinta. Semua tersusun seperti sebuah rencana. Menyatu menjadi satu bagai piramida yang kokoh diantara bukit pasir dan hancur ditelan bumi.

    Nisan bertuliskan Wildan Ridwan Nugraha sekarang berada di depan tubuhnya. Di seberang sana ada Om Guntur dan Tante Wina yang tak mau mengganggu kegiatan Devi, mereka memilih menunggu dekat mobil. Sedetik kemudian Devi mengubah posisi berdirinya menjadi jongkok mendekati nisan tersebut. Dibelainya lembut batu nisan tersebut. Tak terasa sebutir air mata turun dari ujung matanya. Semakin lama semakin deras butiran-butiran air mata tersebut turun dari mata bulat Devi.

      “Hai Wildan..! Aku kangen kamu disini, aku pengen cepet-cepet ketemu kamu,” lirih Devi sendu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sesegera mungkin ia mengambil gelang yang berada di saku celananya. Kemudian ditaruhnya gelang berliontin hati tersebut di atas makam Wildan.

      “Dev..Devi..” Samar-samar Devi mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Ia hafal betul suara tersebut. Kemudian Devi segera menengadahkan kepalanya.

     “Wildan?” tanyanya ketika melihat sosok Wildan tersenyum dan lagi-lagi dengan sayap yang dikepakkan. Semakin lama bayangan Wildan semakin pudar seiring dengan sayap yang terus mengepak.

      “Wildan mau kemana lagi? Jangan pergi Wildan! Jangan pergi!” suara Devi menggema di seluruh area pemakaman tersebut seiring dengan kepergian Wildan.

       Bruk! Devi tersungkur ke tanah. Ia pingsan di tempat. Om Guntur dan Tante Wina yang melihat keadaan anaknya langsung panik. Dibopongnya tubuh Devi ke dalam mobil. Tiba-tiba ekor mata Tante Wina menemukan sesuatu di atas kepala Devi. Bulu sayap?, pikirnya sambil memegang bulu tersebut. Om Guntur yang melihat bulu tersebut langsung merebutnya dari Tante Wina dan meneliti bulu tersebut. Seketika Om Guntur dan Tante Wina saling bepandangan heran.

End!

You May Also Like

0 comments