Anggota ke-19
Rangga Putra Pradana : Uhuy
Bima Setya : Uhuy(2)
Yudo Manusia Piton : Danta lo pada
Hani Hanimun : Hai
Gio JL : Eh ada hani….
Gio JL : sent a sticker
Ralindya Nurmana : Kalian jangan off ya
Yudo Manusia Piton : Kangen sama gue, Lin?
A.R Elyoga : Itu dare sampe kpn, Do? Wakakaka
Yudo Manusia Piton : seminggu lagi anjir.
Nama gue jadi begini
Ralindya Nurmana : Di sini sepi hehehe, biar
hp gue ada suara notifikasinya
A.R Elyoga : tunggu aa’ dirumah kamu Lin…
Mr. Zoe : najis yoga modus
Mrs. Zie : hohoho
Bima Setya : Maklum Yoga kan jomblo. Lo
berdua mending pacaran sono, malming nih, jangan ganggu para pencari cinta lah
A.R Elyoga : tai
Giselaaaaa : hahaha
Ralin tertawa
melihat isi percakapan ia dan teman-temannya di salah satu grup chatting yang mereka beri nama XXX. Grup
tidak formal yang berisi delapan belas anggota, tujuh belas teman-teman SMAnya
dan Ralin sendiri.
Ralin
bersender pada sofa dengan ponsel di tangan yang terus berbunyi, menandakan
banyaknya pesan yang masuk. Tapi tiba-tiba satu pesan menarik perhatiannya,
membuat Ralin langsung menegakkan tubuhnya.
Ken the Lightning Thief : Nggak ada yang sadar ya….
Giselaaaaa : apa ken?
Gio JL : apaan
Bima Setya : apaan(2)
Yudo Manusia Piton : dih ngilang
Ken the Lightning Thief : Eh sorry2, abis dari wc wkwkwk
Ken the Lightning Thief : pada nyadar ngga sih tulisan read by nya 18?
Giselaaaaa : lah terus kenapa?-_-
Airin larasati : iya Ken, aneh. Aku sadar
kok
Farela : …….
Deo : jir
Bima Setya : kok gue ga ngerti
Rio.FL. :test baru nongol. Ada apa?
ARIMAta Harimau :test baru nongol. Ada apa?(2)
Nyonya Eli : jir
Abiyasa : Seharusnya read by-nya 17 kalau pada ngebaca semua, kan satu
orangnya yang ngirim pesan.
Abiyasa : Berarti ada anggota ke 19. Ada
yang invite orang ke sini?
Giselaaaaa : anjir kaga
Farela : di member masih 18 orang
Hani Hanimun : kok ramai ya._.
Farela :scroll up ni
Ken the Lightning Thief : NAH itu bi!
Yudo Manusia Piton : ken sama abi anjing emg
Rangga Putra Pradana : mungkin error
Ralindya Nurmana : ih ini serius? Gue test
ah.
Ralin
tercengang. Apa yang dikatakan Abi benar, yang membaca pesannya di grup XXX ada
delapan belas orang. Ralin sempat tak pecaya, tapi apa yang dilihatnya
benar-benar nyata.
Mungkin error, mungkin lagi error, batinnya.
Tiba-tiba
suasana rumah semakin lengang. Ia memang sering sendirian karena orang tuanya
sering pergi keluar kota dan pembantunya akan pulang pada sore hari saat
pekerjaan telah selesai, tapi yang ini terasa berbeda. Televisi yang menyala
tidak mampu menutupi kesepian yang tiba-tiba saja menghambur di rumahnya.
Ralin melihat
lagi ponselnya yang terus berbunyi.
Nyonya Eli : error kali ah
Mr. Zoe : gue lagi bareng Zie nih, uhuy
Farela : lu berdua nama kembar tapi pacaran
Mr. Zoe : jodoh berarti
Mr. Zoe : ada apa sih ribut2?
Farela : -_-pret
Rio.FL. :scroll up napa nyet
Abiyasa : iya bener, mungkin error
Giselaaaaa : pada heboh banget
Ken the Lightning Thief : kan gue takutnya
ada….. tambahan makhluk gitu.
Bima Setya : setan? Wakakak
Bima Setya : keren banget dia punya
smartphone
Ken the Lightning Thief : nggak pada pernah baca tentang sesuatu
yang ada tapi nggak dianggap ya
Yudo Manusia Piton : lo mah kebiasaan punya
pikiran liar, Ken-_-
Gio JL : yekali
Ken the Lightning Thief : hawa di sini masalahnya
nggak enak bray.
Ken benar,
Ralin juga merasakan hawa di sekitarnya berubah, menjadi lebih pengap dan
dingin. Ia merasa tak nyaman, tapi otaknya yang logis terus berkata bahwa semua
akan baik-baik saja. Ia meyakinkan dirinya bahwa hawa dingin hanya sesaat
karena langit sedang menandakan turunnya hujan.
Daripada
gelisah tidak karuan, Ralin langsung menelpon Yudo untuk ke rumahnya. Ia
meminta laki-laki itu untuk menginap semalam di rumah Ralin. Selain karena
jarak rumah mereka yang berdekatan, kegiatan menginap sudah mereka lakukan
sejak SMP. Jadi Ralin sudah seratus persen percaya pada laki-laki itu.
Tak sampai
sepuluh menit bel rumahnya berbunyi. Ralin langsung beranjak dan membuka pintu.
“Cie
ketakutan,” sahut Yudo begitu Ralin menyuruhnya masuk.
“Gara-gara Ken
nih gue jadi parno.”
Yudo berjalan
ke arah dapur, lalu kembali ke ruang keluarga dengan membawa setoples kripik
dan sekaleng minuman soda.
“Ya lagian lo
percaya aja,” kata Yudo.
Ralin duduk di
samping Yudo, menyenderkan punggungnya di sofa sambil ikut memakan kripik di
pangkuan Yudo. “Serius deh, kadang yang dia omongin itu beneran kenyataan.”
Yudo hanya
mengangkat bahu. Ia mengambil remote
tv di atas meja, mencari saluran yang dianggapnya menarik.
“EH DO!!”
Ralin berteriak tiba-tiba.
“Apaan sih
lo?!” Yudo hendak menjitak perempuan itu sebelum Ralin mengangkat ponselnya di
hadapan Yudo.
“Baca buru!
Aneh banget!”
Yudo mengambil
ponsel Ralin yang di layarnya terpampang group
chat XXX. Matanya melebar, ia melirik Ralin yang dibalas wajah khawatir dan
angkat bahu dari perempuan itu.
Nyonya Ely left the chat
Rio.FL. : lah kenapa left si Ely?
Deo : invite lagi lah!
Deo left the chat
Rangga Putra Pradana : deo tolol
Rangga Putra Pradana : ini pada kenapa sih
Farela, Hani Hanimun, Gio JL left the
chat
ARIMAta Harimau : BUSET PADA MAU BUBAR KALI
YA
Abiyasa : ga ada kontak mereka di hp gue
masa
Ken the Lightning Thief : pada jaga-jaga gih
A.R Elyoga : pada ngapa sih
Ken the Lightning Thief : msh read by 18, buru!!!!!!
Airin larasati : ini kenapa._.
Rio.FL. : maksud lo apaan sih Ken? Nggak
lucu becanda lo!
Rio.FL. : kontaknya pada ilang juga di gue.
Tiba-tiba Yudo
menarik Ralin untuk berdiri. Ia melangkah ke dapur dengan cepat sambil terus
mengawasi Ralin ada di sisinya.
“Do, ngapain
Do?” Tanya Ralin di belakangnya.
Yudo mengambil
dua buah pisau yang ada di dapur, memberikannya satu pada Ralin. “Lo ambil ini
buat jaga-jaga.”
Ralin
menerimanya dengan bingung, tapi ia tak mau membantah. “Pasti ini gara-gara
perkataan Ken ya?”
Yudo
mengangguk. Ia tak banyak bicara lagi dan terus menarik Ralin hingga ke teras
rumahnya. Sampai di teras, Yudo melirik jam tangannya. Sudah jam dua belas
malam, komplek perumahan Ralin sudah sepi. Angin berhembus, membuat Ralin
bergidik seketika.
“Tahan dulu
oke, sampai dirasa aman,” kata Yudo saat merasa Ralin semakin mengeratkan
pelukan di lengan Yudo.
Ralin
mengangguk. Yudo masih melihat ponselnya, mengusap layarnya untuk beberapa
saat. Dalam hati ia meyakini pasti ada sesuatu hal terjadi. Suatu hal yang
berkaitan dengan kemunculan anggota grup mereka yang ke sembilan belas dan
keluarnya teman-teman mereka dari group
chat XXX.
Entah kenapa
ia jadi percaya pada Ken yang selalu mempunyai imajinasi tinggi di luar logika.
“Kita di sini
dulu ya. Seenggaknya banyak jalan untuk kabur.”
Dan perkataan
Yudo membuat hatinya tambah yakin kalau ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
***
Airin larasati, Rio.FL.,Giselaaaaa left
the chat
ARIMAta Harimau : eh ini udah serius
ARIMAta Harimau : kontak mereka udah ga ada
di gue, GIMANA SI
ARIMAta Harimau left the chat
Rangga Putra Pradana : bercanda lo pada ga
lucu jir
Bima Setya : anjing XXX bubar aja
A.R Elyoga : anjing XXX bubar aja(2)
Abiyasa : ini ngga bercanda, gue rasa ada yg
aneh
Ken the Lightning Thief : GUE UDAH BILANG JAGA-JAGA, GUE DARITADI
NGERASA DI INTAI ANJING! GUE SERIUS
Bima Setya : Gue masih di tol. Macem-macem
ntar gue tabrak.
Rangga Putra Pradana : gaya mulu lo setan
Bima Setya left the chat
Rangga Putra Pradana : EH GUE PARNO
Abiyasa : oke, gue nurut lo Ken
Rangga Putra Pradana left the chat
Mr. Zoe : zie mati.Gueliat ad orng td nusuk
dia d dpur. Gue panik, gue lg ngmpet dilemari. Lo pd panggilpolisi,ini serius!
Mr.Zoe : pls gue panik bgt
Mr.Zoe : slmtin diri
Mr.Zoe : pls prcaya
Mr. Zie, Mr.Zoe left the chat
A.R Elyoga : tinggal berlima
A.R Elyoga : gue bener-bener siapin senjata
Yudo Manusia Piton left the chat
Ken the Lightning Thief :
bangsat
Abiyasa : sial. Ada yg ngintai
Ralindya Nurmana : gue aman, lg sm
ralin.yudo
Ken the Lightning Thief : dimana lo Do?
Ken the Lightning Thief : gue susul
Ralindya Nurmana : di Warung Asem, buru.
Abiyasa : gue ikut
Abiyasa left the chat
Ken the Lightning Thief : anjng
***
Ralin merasa
kakinya lemas seketika. Tadi saat gerimis mengguyur, samar-samar Ralin melihat
seseorang –atau tepatnya sesuatu– berlari dari satu semak ke semak lainnya. Dan
ketika cahaya kilat menyambar, Ralin bisa melihat jelas siapa pemilik wajah
bercodet yang hanya beberapa meter dari mereka. Di tangannya terdapat sebilah
pisau penuh darah.
Ingatannya
samar, tapi Ralin yakin pasti orang ini yang telah meneror mereka. Seseorang
tujuh tahun lalu yang membuat mereka menyesal telah berbuat semaunya.
Yudo yang juga
menyadari keberadaannya langsung menarik Ralin cepat, membawanya ke jalan
komplek setelah dirasa rumah sudah tidak aman lagi. Mereka berlari, tak sanggup
berteriak karena energi sudah habis dipakai.
Ralin ingin
menangis, sementara Yudo lupa membawa ponselnya. Peringatan dari Zoe membuat
laki-laki ini tidak mau membuang waktu. Ia benar-benar was-was, dalam lubuk
hatinya berteriak ketakutan. Keringat dingin mengucur di pelipis mengingat
Ralin menjadi tanggungannya.
Ketika Yudo
melihat ponsel Ralin lagi dalam tetesan hujan, Yudo tahu si pelaku sudah
mengambil alih ponsel miliknya. Atau bahkan sudah memporak-porandakan rumah
Ralin.
“Kita berhenti
di sini dulu,” kata Yudo membawa Ralin masuk ke dalam warung kosong di sisi
gang.
Ralin menurut.
Ia masuk dengan tubuh menggigil. Untuk sementara mereka bersembunyi sembari
mengatur napas dan beistirahat.
“Gue minta maaf,”
gumam Yudo tiba-tiba. Ia menatap Ralin. Perempuan itu menggigil karena basah
kuyup kehujanan tapi Yudo tidak bisa berbuat apa-apa.
Yudo mendekat.
Ia duduk di hadapan Ralin. “Gue bener-bener minta maaf sama kejadian tujuh
tahun lalu.” Wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
“Kita semua
salah sama dia… kita semua….”
Lalu
setelahnya Yudo mengusap rambut dan memeluk Ralin diiringi isak tangis
perempuan itu.
Tiba-tiba
pintu kayu warung kosong itu terbuka. Ralin hampir menjerit kalau saja Ken tidak
langsung menyingkap tudung jaketnya. Ken langsung buru-buru masuk dan menutup
pintu, meninggalkan tetesan air hujan dari luar.
“Tinggal kita
yang tersisa?”
Tak ada yang
bisa menjawab pertanyaan Ken.
“Aslinya gue
tau ini bakal terjadi.” Laki-laki itu kembali buka suara.
Yudo sontak
mengerutkan kening. “Maksud lo?”
“Inget nggak
dulu gue bilang ada orang aneh yang ngikutin kita di bis? Bertudung dan
bercodet, tapi tiba-tiba ilang cepet banget. Itu orangnya, Do!” katanya geram.
“Gue udah bilang tapi lo pada lagi-lagi anggap gue cuma berimajinasi.”
Yudo tak bisa
membalas. Kenyataannya itu semua benar.
“Dan begonya gue percaya itu imajinasi.” Ken duduk di lantai dengan
lemas. Ia menaruh tongkat baseballnya di lantai.
“Dia Nathan,” gumam Yudo pelan.
“Ha?”
“Dia Nathan,” ulangnya.
“Maksud lo Nathan yang....”
Yudo mengangguk. “Yang kita bully tujuh tahun lalu.”
***
Yudo bingung. Saking bingungnya ia bisa saja tidak
sadar kalau anggota ke 19 di grup chat XXX sudah berjarak beberapa meter di
ujung gang. Ken yang memberitahunya dengan panik. Tubuh gempalnya penuh dengan
peluh.
“Kita harus gimana?” bisik Ken.
Yudo menarik nafas, melirik Ken dan Ralin secara
bergantian. “Ayo kita omongin dan minta maaf dengan baik-baik ke dia.” Yudo
terdengar ragu dengan kalimatnya.
“Minta maaf? Telat! Telat banget kita. Mana mau
dia maafin kita. Dan baik-baik lo bilang? Apa yang baik-baik kalau tujuannya
mau bales dendam?!” balas Ken emosi. Ia bangkit berdiri.
“Oke oke gini aja. Kita keluar. Gue ngomong sama
dia, lo jaga Ralin di belakang gue. Kalau ada apa-apa, lari duluan bareng––“
Ucapan Yudo terhenti oleh suara pintu di dobrak
paksa. Ketika ia mengintip dari balik etalase, Si Anggota ke 19 sudah ada di ambang
pintu, menggenggap kapak di balik rintikan hujan.
“Dia cepet banget,” bisik Ken. “Mampus kita.”
Ralin menggenggam lengan Yudo kuat. “Do, jangan
keluar. Plisss.”
“Kita harus selesaiin ini,” balas Yudo. Ia
menyingkirkan tangan Ralin dengan lembut. “Lo sembunyi di bawah meja atau deket
cucian piring. Plis, lo harus hidup.” Lalu tatapannya beralih ke arah Ken.
“Jaga Ralin.”
Mereka tak bisa menjawab karena Yudo langsung
bangkit berdiri, berjalan dengan langkah yang dibuat seyakin mungkin.
Di depannya kini ada Nathan berdiri, tatapannya
tajam tapi satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Dalam hati Yudo mati-matian
melawan rasa takutnya.
“Hai, ‘kawan’ lama. Duh nggak sia-sia juga gue
ngebobol group chat kalian dan
akhirnya menjadi bagian dari keluarga XXX.” Nathan menekankan kata kawan.
“Walau nggak pernah dianggap,” lanjutnya.
“Gue sama yang lain minta maaf,” kata Yudo pelan.
“Minta maaf? Basi.” Nathan mengangkat kapaknya,
menaruhnya di pundak.
“Kita serius minta maaf, Nath.”
Lalu Nathan mengayunkan kapaknya, hampir mengenai
Yudo kalau dia tidak refleks menghindar ke sisi kiri. Kapak menghantam meja
kayu, menyangkut di sana tapi Nathan dengan mudah mencabutnya kembali.
Dengan pisau kecil di tangan, Yudo tidak bisa
berbuat apa-apa selain terus menghindar dari terjangan Nathan. Berkali-kali
Yudo meminta maaf, berkali-kali pula ia hampir terkena tebasan kapak. Tapi Yudo
punya akal. Ia memancing Nathan agar keluar dari warung kumuh tersebut.
Mereka sampai di ambang pintu ketika Yudo berpikir
dia bisa memancing Nathan. Tapi dugaannya salah tatkala melihat Nathan
berbalik. Badannya yang besar dan tegap dengan mudah membalikkan meja tempat
Ralin dan Ken bersembunyi.
“Kena kalian.” Nathan tersenyum sinis, mengayunkan
kapaknya tapi gagal karena kapak tiba-tiba saja terjatuh di lantai.
Menghasilkan bunyi yang keras.
Ralin menjerit ketika kapak itu hampir mengenai
kepalanya. Ketika ia menengadahkan kepala, Ralin melihat pisau kecil yang
dibawa Yudo menancap di lengan kanan Nathan. Nathan mengerang kesakitan, darah
bercucuran. Yudo yang melihat itu langsung menerjang Nathan dari belakang. Ia
menjepit leher Yudo dengan lengannya, memberi waktu Ken dan Ralin untuk
melarikan diri.
“Buru keluar!” teriak Yudo.
Ken segera menyeret Ralin karena gadis itu meronta
tidak ingin meninggalkan Yudo.
“Nurut ama gue kali ini aja, Lin,” kata Ken ketika
mereka sudah berada di luar warung.
“Tapi... Yudo di dalem Ken! Gue nggak bisa
ninggalin dia!”
“GUE KALAU BISA BERANTEM JUGA BAKAL BANTU! Dan
penghambat lainnya adalah ELO! Yudo nitip elo ke gue, tanggung jawab gue buat
lo tetep hidup.”
Hujan tidak lagi mengguyur, tapi pipi Ralin basah.
Bukan karena hujan, tapi karena air matanya yang mengalir. Ketika ia melihat
jalanan yang gelap, Ralin seolah menemukan laki-laki berlari ke arahnya membawa
tongkat kayu. Tinggi. Lagi-lagi mengingatkannya pada Yudo.
“Yoga?” tanya Ken lebih kepada dirinya sendiri.
Ralin mengusap matanya, memastikan kalau perkataan
Ken benar.
“YOGA! LO MASIH HIDUP?!” Kali ini Ken berteriak
ketika Yoga sudah berjarak kurang dari sepuluh meter.
“Di mana––”
Ken menatap aspal yang dipijaknya. “Yudo di dalem itu
warung... sama Nathan. Gue bener-bener nggak tau nasibnya.”
“Maksud lo?”
“Nathan tujuh tahun lalu.”
“Anjing.” Lalu Yoga langsung berlari ke arah
warung tanpa aba-aba.
Ken yang melihat itu tergerak hatinya untuk
membantu Yudo, tapi lagi-lagi ia diingatkan oleh janji bahwa ada perempuan yang
harus dijaganya. Ia melirik Ralin sekilas lalu menghela nafas.
“Bantu mereka ya,” gumam Ralin pelan.
“Ha? Apa?”
Ralin menatap manik mata Ken. “Bantu mereka Ken,
tolong. Gue tau lo bisa.”
“Tapi gue udah janji–”
“Gue bakal baik-baik aja.” Ralin tersenyum.
Ken berpikir beberapa saat, lalu menyerahkan
tongkat baseball yang sempat dibawanya tadi kepada Ralin. “Bawa ini, pukul
orang yang macem-macem. Jangan kemana-mana, oke? Kalau gue dan yang lain nggak
keluar dalam waktu lima belas menit, lari ke rumah gue! Temuin bokap nyokap
gue.”
Ralin hampir menangis lagi tapi sebisa mungkin
ditahannya. Kalau ia lemah, kalau ia tidak bisa membantu temannya, paling tidak
ia harus bisa memenuhi janjinya untuk tetap hidup. Dalam hati Ralin seolah
bersumpah untuk menyelesaikan kasus ini, membawanya ke ranah hukum dan menuntut
Nathan agar mendapat balasan yang sangat berat.
***
Yoga hampir tidak mengenali warung yang dulu
sempat menjadi tempat tongkrongannya waktu SMA. Semua berantakan. Kayu-kayu
berceceran dengan bekas tebasan kasar dan besar. Tapi yang membuat mata mereka
membulat adalah sosok Yudo yang tergeletak di tengah ruangan dengan kepala
berdarah.
Ken langsung berlari menghampiri Yudo yang
tergeletak tak berdaya, memeriksa apakah masih ada jiwa dalam raga itu.
Sementara Yoga mengitari warung, tapi sayangnya ia tidak menemukan Nathan.
Tiba-tiba seperti diingatkan sesuatu, Yoga langsung berlari ke luar. Dugaannya
benar, Nathan mengincar Ralin yang duduk di bawah pohon sambil memegang tongkat
baseball.
Yoga langsung berlari sekuat tenaga, disusulnya
Nathan yang sudah babak belur. Meski dalam keadaan tubuh yang buruk, Nathan
dapat langsung menghindar ketika Yoga mengayunkan tongkat kayunya. Tapi Yoga
dengan cepat menyandung kaki Nathan, membuatnya terjatuh. Yoga bangkit, hendak
menerjang Nathan sebelum Nathan menerjangnya balik, menabraknya sampai Yoga
limbung dan terjatuh.
Nathan berada di atas tubuh Yoga. Mereka bergulat.
Saling tonjok menonjok. Yoga hampir pingsan tapi untuk kesekian kalinya ia
salut dengan stamina Nathan. Nathan jauh lebih kuat daripada tujuh tahun lalu,
itu yang Yoga dapati dari pengamatannya.
Yoga benar-benar hampir pingsan terlebih saat
Nathan berada di atasnya, ia meninju ulu hati Yoga, membuat nyeri yang tak
tertahankan. Hampir saja Yoga merasa ia menyerah sebelum Nathan tiba-tiba
ambruk di atas badannya. Barulah ketika Yoga menyingkirkan tubuh besar Nathan,
ia melihat Ralin tengah berdiri di hadapannya dengan muka pucat sambil
mengacungkan tongkat baseball.
“Lo hebat, Lin,” ujar Yoga sebelum kegelapan
menyelimutinya.
***
Siapa yang tidak kenal Nathan? Laki-laki dari
kelas IPA 3 yang rela melakukan apa saja demi masuk ke grup XXX, salah satu
grup yang cukup disegani di sekolah. Apapun akan ia lakukan. Apapun. Termasuk
memalukan sahabatnya sendiri. Satu ambisi Nathan yang ia pegang dari dulu tanpa
memakai otak adalah: menjadi salah satu siswa populer di sekolah, dan masuk ke
grup XXX adalah salah satunya. Ini masa SMA, masa yang indah dengan
kepopuleran, begitu katanya.
Tapi untuk kasus ini Nathan benar-benar tidak bisa
terima. Kasus yang memunculkan dendamnya bertahun-tahun.
Gisela, salah satu anggota grup tersebut
memintanya untuk mempermalukan Gita di depan umum dengan cara merobek pakaian
seragamnya. Tentu saja Nathan menolak dan meminta permintaan lain yang diajukan
dari masing-masing anggota XXX karena tanpa mereka tahu, Nathan telah menaruh
hati pada Gita sejak MOS hari pertama.
Tapi bukan Gisela namanya kalau tidak keras
kepala. Ia langsung mendepak Nathan yang hampir diterima dalam grup itu dan
hendak mempermalukan Gita sendiri. Nathan dengan sigap menolong gita,
menghalangi Gita saat gunting Gisela hendak menyerang seragamnya saat itu.
Naasnya, benda tajam itulah yang membuat Nathan
memiliki codet permanen di wajah dan menghabiskan sisa SMA-nya di bawah olokan
teman satu sekolah.
***
-Fin



0 comments