30 Menit Melihat Masa Lalu

by - 2/09/2017 04:57:00 AM

weheartit.com
Ril, kalau lo bisa jawab pertanyaan gue nanti gue kasih hadiah ini loh,” ujar Karin sambil mengacungkan sebuah kacamata bewarna merah muda kepada gadis yang berada di hadapannya.
Rila tersenyum jail. “Gue pasti bisa jawab! Emang apaan pertanyaannya?” balas Rila penuh percaya diri. Melihat Karin yang memutar bola matanya, Rila hanya menepuk bahu temannya pelan.
“Ini teka-teki. Coba dengarkan baik-baik!” Karin menyimpan kembali kacamatanya ke dalam tas. Melihat Rila yang mengangguk paham, Karin menambahkan, “Jangan sampai ada yang terlewat di telinga!”
Rila memutar bola mata. “Iya iya. lanjutkan!”
Sejenak Karin mengambil jus mangga yang sudah disiapkan Bi Minah tadi. Ia kemudian menyesapnya lalu kembali memandang Rila dengan pandangan menggelitik. Kemudian ia menjelaskan, “Pak Beni pulang kerja sambil membawa map berisi segepok uang. Karena masih ada urusan, dia menaruh uang tersebut di atas meja ruang tamu. Tapi yang pas dia pulang ke rumahnya lagi uangnya udah gak ada, yang ada cuma amplop coklat yang ngebungkus itu uang...”
Karin menghela nafas lalu hendak kembali membuka mulutnya, namun Rila dengan cepat memotong ucapannya. “Kalau gue jadi Pak Beni gak bakal taruh uang di atas meja gitu aja.”
“Sttt!” Karin mendengus lalu kembali menjelaskan, ada tiga orang di rumah itu. Supirnya bilang dia nemuin amplop coklat di atas meja. Karena tahu itu pasti penting, pak supir taruh uang itu di atas meja kerja Pak Beni. Istri Pak Beni bilang kalau dia nemuin amplop berisi uang itu di atas meja kerja Pak Beni lalu dia taruh di laci meja dan dia bilang uangnya masih ada. Sedangkan satu orang lagi adalah pembantunya. Dia nemuin amplop itu di majalah pada halaman 63-64, dan dia bilang uangnya udah gak ada, jadi dia buang amplopnya. Nah diantara ketiga terduga siapa yang berbohong dan siapa tersangkanya?”
Rila berpikir sebentar. Ia mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk. Beberapa menit berlalu tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Hingga sepuluh menit terakhir ia bergumam lebih kepada dirinya sendiri. “Gue nggak bisa dapetin kacamatanya deh.”
Karin tersenyum menang. “Tuh kan lo gak tahu.” Ia menunjuk-nunjuk Rila dengan jus mangganya.
Rila tak menjawab. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga sampai akhirnya ia bergumam, “Kayanya gue tahu!” Melihat wajah Karin yang penasaran ia cepat-cepat menambahkan, “Pasti pembantunya yang menjadi tersangka. Pembantunya bilang menaruh amplop di halaman 63-64 tapi coba dilihat. Memang halaman itu bisa untuk menyelipkan amplop? Pada halaman buku, angka ganjil terletak di kanan, sedangkan genap terletak di kiri. Jika 63 di kanan, sedang 64 mau tak mau di lembar baliknya.”
Karin tertegun lalu sedetik kemudian bertepuk tangan. Tak menyangka bahwa ia mempunyai teman yang begitu pintar. “Hebat lo Ril! Ckck..” pujinya tulus seraya memberikan kacamata merah muda tersebut kepada Rila.
“Haha. Gue gitu!” Rila mengambil kacamata merah muda tersebut. Belum sempat ia mencoba hadiahnya, tangan Karin langsung mencengkramnya. Rila menatap Karin dengan kening dikerutkan.
“Eh, ini bukan kacamata biasa. Dengan ini lo bisa baca masa lalu orang lain selama 30 menit.” ujar Karin serius.
“Tahayul, Rin!” elak Rila sambil melepaskan genggaman tangan Karin lalu menyesap segelas jus mangganya. Melihat Karin yang mendengus kesal ia cepat-cepat menambahkan, “Ayolah Rin, bangun gih jangan mimpi mulu!”
Karin langsung merebut kacamata merah muda yang berada di tangan Rila. Melihat Rila yang membolakan mata, Karin berkata, “lo kan gak percaya, yaudah buat gue aja.”
“Oke deh! Gue percaya sama lo Rin. Yah, Karin cantik? Hahaha...” bujuk Rila sementara yang dibujuk hanya senyum sapi sambil mengembalikan lagi kacamata merah muda tersebut ke Rila.
***
            Jam istirahat sebenarnya sudah berbunyi sepuluh menit tadi. Namun baik Rila dan Karin masih malas untuk beranjak dari tempat duduknya.
Rila sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri sementara Karin malah asyik berkutat dengan novelnya. Keadaan kelas yang cukup sepi sangat mendukung kegiatan keduanya.
“Rin!” Tiba-tiba panggilan Rila memecahkan keheningan di antara keduanya.
Karin menengok ke samping kirinya lalu menaikkan alis. “Apa?”
“Kacamata merah muda itu beneran bisa baca pikiran orang?”
Karin menutup novelnya, menatap Rila dengan perasaan terluka lalu mengambil nafas pelan. “Terserah lo percaya sama gue atau nggak yang pasti ini beneran. Gue udah pernah coba.”
“Lo punya juga? Terus cuma 30 menit doang?” tanya Rila lagi.
Karin mengangguk. “Paman gue kasih dua doang. Makanya itu kesempatan besar Ril. Sekali lo pake langsung bisa kelihatan, tapi setelah 30 menit, kacamatanya jadi kacamata biasa aja.”
Tepat pada saat Karin menutup mulutnya, bel masuk kelas kembali berbunyi. Serentak dari arah luar banyak gerombolan anak-anak yang masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba terbesit ide di kepala Rila.
Ia sontak mengeluarkan kacamata merah muda pemberian Karin lalu memakainya. Mungkin kelas memang tempat paling cocok untuk melihat masa lalu orang-orang ditambah sekarang pelajaran tengah kosong.
Rila mengedarkan pandangannya. Lalu pandangannya jatuh pada sosok manusia dingin yang berada di bangku paling pojok belakang yaitu Raga. Dengan jelas Rila dapat melihat balon hitam yang tiba-tiba muncul dari atas kepalanya. Tiba-tiba balon itu makin membesar lalu meletus. Tepat pada saat itu keluar gas-gas hitam yang membentuk menjadi gumpalan kapas dan memutar kejadian masa lalu yang sepertinya tak pernah Raga lupakan.
Rila sempat tercekat saat melihat putaran film tersebut terdapat sosok kecil Raga yang kira-kira berumur sembilan tahun tengah berdiri di depan pria paruh baya dengan tangan kiri mengepal kuat dan tangan kanan yang memegang pisau belati.
Saat itu Raga hampir membunuh ayahnya yang melakukan kekerasan kepada ibunya yang sekarang tengah sekarat dengan kepala penuh darah. Namun karena tenaga Raga yang kalah dengan tenaga ayahnya, Raga tak mampu menahan dorongan keras ayahnya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah lalu tak sadarkan diri.
Tiba-tiba saja film tersebut menjadi gelap lalu gumpalan kapas itu tiba-tiba saja menghilang.
Rila mengedarkan pandangannya lagi hingga Sella yang tengah bercanda dengan teman-temannya menarik perhatiannya. Ia memandang Sella beberapa detik lalu tiba-tiba saja keluar balon bewarna merah muda dari atas kepala Sella yang terus membesar lalu meletus dan menampilkan putaran memori masa lalunya.
Rila dapat melihat wajah Sella yang merah saat seseorang pemuda yang tak kelihatan wajahnya karena membelakangi pandangan mata Rila tengah memberikan setangkai mawar ke arah Sella. Tiba-tiba saja pemuda tersebut berbalik badan dan membuat dada Rila terasa nyeri ketika mengetahui bahwa pemuda itu adalah Dion, pemuda yang sudah lama ia sukai.
Film belum usai namun Rila memutuskan untuk melepaskan kacamatanya sebentar lalu mengusap ujung matanya yang sudah mulai basah oleh air matanya. Tanpa disadarinya, Karin sedari tadi memerhatikannya dengan tatapan nanar.
“Ril, lo kenapa?” tanya Karin kemudian.
Rila tersenyum tipis lalu mulai memakai kacamatanya lagi. “Tidak apa-apa. Hanya kelilipan saja.”
Karin sebenarnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rila namun ia tak berniat membantah. Tapi melihat Rila yang kembali memakai kacamata yang sudah tak asing lagi ia pun mengelak, “Hei, hei, jangan bilang lo mau lihat masa lalu gue!”
Rila yang awalnya tak pernah terpikir seperti itu langsung tersenyum cerah. Ia melihat jam tangannya dan mendapati waktu yang tersisa tinggal sepuluh menit lagi. Seakan tak mau kehilangan kesempatan besar karena adegan film konyol Sella, ia lantas berkata, “Ide bagus Rin.”
Rila tak melihat Karin mengelak lebih jauh, tapi ia dapat melihat Karin yang mengerucutkan bibir sambil terus membaca novelnya.
Rila dapat melihat balon yang keluar dari kepala Karin bewarna hijau. Balon tersebut terus membesar lalu meletus seperti yang ia lihat ketika melihat masa lalu Raga dan Sella. Oh, tidak! Seharusnya ia tidak memikirkan Sella lagi.
Melihat Karin dilayar film tersebut membuat dirinya senyum-senyum sendiri terlebih saat Karin yang iseng sedang memata-matai dua orang sejoli yang sepertinya berjalan menuju taman belakang sekolah. Sampai taman tersebut, Karin langsung mengumpat di balik tembok dan itu membuat senyuman Rila semakin melebar disertai tawa gelinya.
Namun senyumannya langsung sirna ketika ia melihat Karin yang gelisah meremas-remas baju seragamnya lalu pergi meninggalkan dua orang sejoli itu. Bukan karena ia khawatir dengan keadaan Karin tapi ia sempat melihat wajah cowok yang sedang memberikan mawar kepada cewek yang berada di hadapannya. Cowok itu adalah Dion!
Pandangan Rila mulai kabur karena banyaknya air mata yang mulai bergerumul lagi di ujung matanya. Seharusnya ia tak menonton adegan konyol itu lagi.
Niat Rila yang ingin melepaskan kacamatanya langsung ia urungkan begitu melihat sosok Karin yang berada di film tersebut tengah berlari ke arah kelasnya. Dan di situ ada dirinya! Ia melihat Karin tengah berbicara kepada Rila, tapi usaha Karin meyakinkan Rila gagal karena Rila meninggalkan dirinya.
Rila tahu kejadian itu. Tepatnya dua minggu yang lalu ketika Karin menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal dan memberi tahu kalau Dion bukan yang terbaik untuk Rila.
Tentu saja Rila tak percaya dengan perkataan Karin kalau Karin sendiri tak memberi bukti yang layak. Tapi kini bukti itu sudah jelas. Sempat terpikir oleh Rila, bahwa Karin memang sengaja memberikan kacamata ini agar ia tahu omongan Karin itu sepenuhnya benar.
Waktu habis. Film yang tadi dilihat Rila pun tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Rila langsung melepas kacamatanya dan memeluk Karin erat. Hal yang pertama jika kau melakukan kesalahan adalah meminta maaf.
Sebenarnya, Rila tak bersalah namun Rila sedikit ceroboh. Yah, mungkin itu kata yang pas. Tapi tetap saja ia harus meminta maaf kepada Karin. Setelah meminta maaf? Tentunya ia kini harus mempercayai Karin. Tak semua orang yang kau lihat adalah pembohong bukan?
Karin yang awalnya tersentak kini tak mau mencoba melepaskan pelukan temannya. Ia sudah menduga Rila akan melihat sendiri film-film jadul yang cukup menyakitkan itu.
“Maaf..” lirih Rila sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Jujur saja ia menangis bukan karena sakit hatinya kepada Dion, tapi lebih kepada rasa bersalahnya yang sudah tak memepercayai temannya sendiri.
Karin tersenyum tipis. “Lo gak salah oke? Mungkin gue juga gak ngasih buktinya.”
“Nggak.” Rila menggeleng pelan. “Lo udah kasih buktinya kok.”
“Tenang Ril, cowok di luar sana banyak. Lo bisa dapet yang lebih baik dari Dion,” hibur Karin masih dengan senyuman tipis.
“Gue emang sakit hati, tapi gue lebih sakit hati kalau gue masih merasa bersalah karena gak mempercayai temen gue sendiri.” Rila berusaha menyunggingkan seulas senyum dan akhirnya ia berhasil.
Karin merangkul bahu Rila lalu melompat dari tempat duduknya seraya berkata, “ke kantin aja yuk! Lo butuh refresing. Lagi pula sekarang masih jam pelajaran kosong.”
Rila terkekeh. “Ayolah! Gue juga laper duluan. Kegiatan gak patut dicontoh kayak gini nih. Haha..” ujarnya santai. Beberapa detik kemudian ia berdeham lalu melanjutkan, “Thanks Karin!”
Karin tersenyum simpul. “Traktir gue kali ini ya?” guraunya. Melihat raut wajah Rila yang berubah drastis, ia menambahkan, “Bercanda doang. Hahaha.”


Selesai

You May Also Like

0 comments