30 Menit Melihat Masa Lalu
![]() |
| weheartit.com |
“Ril, kalau lo bisa jawab pertanyaan gue
nanti gue kasih hadiah ini loh,”
ujar Karin sambil mengacungkan sebuah kacamata bewarna merah muda kepada gadis
yang berada di hadapannya.
Rila
tersenyum jail. “Gue pasti bisa jawab! Emang apaan pertanyaannya?” balas Rila penuh percaya diri.
Melihat Karin yang memutar bola matanya, Rila hanya menepuk bahu temannya
pelan.
“Ini
teka-teki. Coba dengarkan baik-baik!” Karin menyimpan kembali kacamatanya ke
dalam tas. Melihat Rila yang mengangguk paham, Karin menambahkan, “Jangan
sampai ada yang terlewat di telinga!”
Rila
memutar bola mata. “Iya iya. lanjutkan!”
Sejenak
Karin mengambil jus mangga yang sudah disiapkan Bi Minah tadi. Ia kemudian menyesapnya
lalu kembali memandang Rila dengan pandangan menggelitik. Kemudian ia
menjelaskan, “Pak Beni pulang kerja sambil membawa map berisi segepok uang.
Karena masih ada urusan, dia menaruh uang tersebut di atas meja ruang tamu.
Tapi yang pas dia pulang ke rumahnya lagi uangnya udah gak ada, yang ada cuma amplop coklat yang ngebungkus itu uang...”
Karin
menghela nafas lalu hendak kembali membuka mulutnya, namun Rila dengan cepat
memotong ucapannya. “Kalau gue jadi Pak Beni gak bakal taruh uang di atas meja
gitu aja.”
“Sttt!” Karin mendengus lalu kembali
menjelaskan,
“ada tiga orang di rumah itu. Supirnya
bilang dia nemuin amplop coklat
di atas meja.
Karena
tahu itu pasti penting, pak supir taruh uang itu di atas meja kerja Pak Beni.
Istri Pak Beni bilang kalau dia nemuin amplop berisi uang itu di atas meja
kerja Pak Beni lalu dia taruh
di laci meja dan dia bilang
uangnya masih ada. Sedangkan satu orang lagi adalah pembantunya. Dia nemuin
amplop itu di majalah
pada halaman 63-64, dan dia bilang uangnya udah gak ada, jadi dia buang amplopnya. Nah diantara
ketiga terduga siapa yang berbohong
dan siapa tersangkanya?”
Rila
berpikir sebentar. Ia mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk. Beberapa
menit berlalu tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Hingga sepuluh menit
terakhir ia bergumam lebih kepada dirinya sendiri. “Gue nggak bisa dapetin
kacamatanya deh.”
Karin
tersenyum menang. “Tuh kan lo gak tahu.” Ia menunjuk-nunjuk Rila dengan jus
mangganya.
Rila
tak menjawab. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga sampai akhirnya ia
bergumam, “Kayanya gue tahu!” Melihat wajah Karin yang penasaran ia cepat-cepat
menambahkan, “Pasti pembantunya yang menjadi tersangka. Pembantunya bilang
menaruh amplop di halaman 63-64 tapi coba dilihat. Memang halaman itu bisa
untuk menyelipkan amplop? Pada halaman buku, angka ganjil terletak di kanan,
sedangkan genap terletak di kiri. Jika 63 di kanan, sedang 64 mau tak mau di lembar
baliknya.”
Karin
tertegun lalu sedetik kemudian bertepuk tangan. Tak menyangka bahwa ia
mempunyai teman yang begitu pintar. “Hebat lo Ril! Ckck..” pujinya tulus seraya
memberikan kacamata merah muda tersebut kepada Rila.
“Haha.
Gue gitu!” Rila mengambil kacamata merah muda tersebut. Belum sempat ia mencoba
hadiahnya, tangan Karin langsung mencengkramnya. Rila
menatap Karin dengan kening dikerutkan.
“Eh,
ini bukan kacamata biasa. Dengan ini lo bisa baca masa lalu orang lain selama 30
menit.” ujar Karin serius.
“Tahayul, Rin!” elak Rila
sambil melepaskan genggaman tangan Karin
lalu menyesap segelas jus mangganya. Melihat Karin yang mendengus kesal ia
cepat-cepat menambahkan, “Ayolah Rin, bangun gih jangan mimpi mulu!”
Karin
langsung merebut kacamata merah muda yang berada di tangan Rila. Melihat Rila
yang membolakan mata,
Karin
berkata, “lo
kan gak percaya, yaudah buat gue aja.”
“Oke
deh! Gue percaya sama lo Rin. Yah,
Karin
cantik? Hahaha...” bujuk Rila sementara yang dibujuk
hanya senyum sapi sambil mengembalikan lagi kacamata merah muda tersebut ke Rila.
***
Jam istirahat sebenarnya sudah
berbunyi sepuluh menit tadi. Namun baik Rila dan Karin masih malas untuk
beranjak dari tempat duduknya.
Rila
sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri sementara Karin malah asyik berkutat
dengan novelnya. Keadaan kelas yang cukup sepi sangat mendukung kegiatan
keduanya.
“Rin!”
Tiba-tiba panggilan Rila memecahkan
keheningan di antara keduanya.
Karin
menengok ke samping kirinya lalu menaikkan alis. “Apa?”
“Kacamata
merah muda itu beneran bisa baca pikiran orang?”
Karin
menutup novelnya, menatap Rila dengan perasaan terluka lalu mengambil nafas
pelan. “Terserah lo percaya sama gue atau nggak yang pasti ini beneran. Gue
udah pernah coba.”
“Lo
punya juga? Terus cuma 30 menit doang?” tanya Rila lagi.
Karin
mengangguk. “Paman gue kasih dua doang. Makanya itu kesempatan besar Ril.
Sekali lo pake langsung bisa kelihatan, tapi setelah 30 menit, kacamatanya jadi
kacamata biasa aja.”
Tepat
pada saat Karin menutup mulutnya, bel masuk kelas kembali berbunyi. Serentak
dari arah luar banyak gerombolan anak-anak yang masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba
terbesit ide di kepala Rila.
Ia
sontak mengeluarkan kacamata merah muda pemberian Karin lalu memakainya.
Mungkin kelas memang tempat paling cocok untuk melihat masa lalu orang-orang
ditambah sekarang pelajaran tengah kosong.
Rila
mengedarkan pandangannya. Lalu pandangannya jatuh pada sosok manusia dingin
yang berada di bangku paling pojok belakang yaitu Raga. Dengan jelas Rila dapat
melihat balon hitam yang tiba-tiba muncul dari atas kepalanya. Tiba-tiba balon
itu makin membesar lalu meletus. Tepat pada saat itu keluar gas-gas hitam yang
membentuk menjadi gumpalan kapas dan memutar kejadian masa lalu yang sepertinya
tak pernah Raga lupakan.
Rila
sempat tercekat saat melihat putaran film tersebut terdapat sosok kecil Raga
yang kira-kira berumur sembilan tahun tengah berdiri di depan pria paruh baya
dengan tangan kiri mengepal kuat dan tangan kanan yang memegang pisau belati.
Saat itu Raga hampir membunuh ayahnya yang melakukan
kekerasan kepada ibunya yang sekarang tengah sekarat dengan kepala penuh darah.
Namun karena tenaga Raga yang kalah dengan tenaga ayahnya, Raga tak mampu
menahan dorongan keras ayahnya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah lalu tak
sadarkan diri.
Tiba-tiba
saja film tersebut menjadi gelap lalu gumpalan kapas itu tiba-tiba saja
menghilang.
Rila
mengedarkan pandangannya lagi hingga Sella yang tengah bercanda dengan
teman-temannya menarik perhatiannya. Ia memandang Sella beberapa detik lalu
tiba-tiba saja keluar balon bewarna merah muda dari atas kepala Sella yang
terus membesar lalu meletus dan menampilkan putaran memori masa lalunya.
Rila
dapat melihat wajah Sella yang merah saat seseorang pemuda yang tak kelihatan
wajahnya karena membelakangi pandangan mata Rila tengah memberikan setangkai
mawar ke arah Sella. Tiba-tiba saja pemuda tersebut berbalik badan dan membuat
dada Rila terasa nyeri ketika mengetahui bahwa pemuda itu adalah Dion, pemuda
yang sudah lama ia sukai.
Film
belum usai namun Rila memutuskan untuk melepaskan kacamatanya sebentar lalu
mengusap ujung matanya yang sudah mulai basah oleh air matanya. Tanpa
disadarinya, Karin sedari tadi memerhatikannya dengan tatapan nanar.
“Ril,
lo kenapa?” tanya Karin kemudian.
Rila
tersenyum tipis lalu mulai memakai kacamatanya lagi. “Tidak apa-apa. Hanya
kelilipan saja.”
Karin
sebenarnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rila namun ia tak
berniat membantah. Tapi melihat Rila yang kembali memakai kacamata yang sudah
tak asing lagi ia pun mengelak, “Hei, hei,
jangan bilang lo mau lihat masa lalu gue!”
Rila
yang awalnya tak pernah terpikir seperti itu langsung tersenyum cerah. Ia melihat
jam tangannya dan mendapati waktu yang tersisa tinggal sepuluh menit lagi.
Seakan tak mau kehilangan kesempatan besar karena adegan film konyol Sella, ia
lantas berkata, “Ide bagus Rin.”
Rila
tak melihat Karin mengelak lebih jauh, tapi ia dapat melihat Karin yang
mengerucutkan bibir sambil terus membaca novelnya.
Rila
dapat melihat balon yang keluar dari kepala Karin bewarna hijau. Balon tersebut
terus membesar lalu meletus seperti yang ia lihat ketika melihat masa lalu Raga
dan Sella. Oh, tidak! Seharusnya ia tidak memikirkan Sella lagi.
Melihat
Karin dilayar film tersebut membuat dirinya senyum-senyum sendiri terlebih saat
Karin yang iseng sedang memata-matai dua orang sejoli yang sepertinya berjalan
menuju taman belakang sekolah. Sampai taman tersebut, Karin langsung mengumpat
di balik tembok dan itu membuat senyuman Rila semakin melebar disertai tawa
gelinya.
Namun
senyumannya langsung sirna ketika ia melihat Karin yang gelisah meremas-remas
baju seragamnya lalu pergi meninggalkan dua orang sejoli itu. Bukan karena ia
khawatir dengan keadaan Karin tapi ia sempat melihat wajah cowok yang sedang
memberikan mawar kepada cewek yang berada di hadapannya. Cowok itu adalah Dion!
Pandangan
Rila mulai kabur karena banyaknya air mata yang mulai bergerumul lagi di ujung
matanya. Seharusnya ia tak menonton adegan konyol itu lagi.
Niat
Rila yang ingin melepaskan kacamatanya langsung ia urungkan begitu melihat
sosok Karin yang berada di film tersebut tengah berlari ke arah kelasnya. Dan
di situ ada dirinya! Ia melihat Karin tengah berbicara kepada Rila, tapi usaha Karin
meyakinkan Rila gagal karena Rila meninggalkan dirinya.
Rila
tahu kejadian itu. Tepatnya dua minggu yang lalu ketika Karin menghampirinya
dengan nafas tersengal-sengal dan memberi tahu kalau Dion bukan yang terbaik
untuk Rila.
Tentu
saja Rila tak percaya dengan perkataan Karin kalau Karin sendiri tak memberi
bukti yang layak. Tapi kini bukti itu sudah jelas. Sempat terpikir oleh Rila, bahwa Karin memang sengaja memberikan
kacamata ini agar ia tahu omongan Karin itu sepenuhnya benar.
Waktu
habis. Film yang tadi dilihat Rila pun tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Rila
langsung melepas kacamatanya dan memeluk Karin erat. Hal yang pertama jika kau
melakukan kesalahan adalah meminta maaf.
Sebenarnya, Rila tak bersalah namun
Rila sedikit ceroboh. Yah,
mungkin itu kata yang pas. Tapi tetap saja ia harus meminta maaf kepada Karin.
Setelah meminta maaf? Tentunya ia kini harus mempercayai Karin. Tak semua orang
yang kau lihat adalah pembohong bukan?
Karin
yang awalnya tersentak kini tak mau mencoba melepaskan pelukan temannya. Ia
sudah menduga Rila akan melihat sendiri film-film jadul yang cukup menyakitkan
itu.
“Maaf..”
lirih Rila sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Jujur saja ia
menangis bukan karena sakit hatinya kepada Dion, tapi lebih kepada rasa
bersalahnya yang sudah tak memepercayai temannya sendiri.
Karin
tersenyum tipis. “Lo gak salah oke? Mungkin gue juga gak ngasih buktinya.”
“Nggak.”
Rila menggeleng pelan. “Lo udah kasih buktinya kok.”
“Tenang
Ril, cowok di luar sana banyak. Lo bisa dapet yang lebih baik dari Dion,” hibur Karin masih dengan senyuman
tipis.
“Gue
emang sakit hati, tapi gue lebih sakit hati kalau gue masih merasa bersalah
karena gak mempercayai temen gue sendiri.” Rila berusaha menyunggingkan seulas senyum dan akhirnya ia berhasil.
Karin merangkul bahu Rila lalu melompat dari tempat
duduknya seraya berkata, “ke kantin aja yuk! Lo butuh refresing.
Lagi pula sekarang masih jam pelajaran kosong.”
Rila
terkekeh. “Ayolah! Gue juga laper duluan. Kegiatan gak patut dicontoh kayak gini nih. Haha..”
ujarnya santai. Beberapa detik kemudian ia berdeham lalu melanjutkan, “Thanks Karin!”
Karin tersenyum simpul. “Traktir gue kali ini ya?”
guraunya. Melihat raut wajah Rila yang berubah drastis, ia menambahkan,
“Bercanda doang. Hahaha.”
Selesai



0 comments