Remeh Temeh

by - 1/24/2017 12:13:00 AM

6/10 Ceritakan tentang hal di mana kamu pernah membanggakan sesuatu sementara orang lain justru meremehkan.

weheartit.com
Hai! Aku nulis ini menjelang deadline dan habis makan sepiring nasi goring tapi tetap lapar.

Bodohnya aku nggak sedia stok mie instan.

Oke lanjut ke tema ini, aslinya banyak hal-hal yang menurutku patut untuk dibanggakan tapi ternyata diremehkan luar biasa sama orang lain. Siapa orang lain itu? Ya, orang selain diriku sendiri. Ehehe~

Tapi yang akan kuceritakan padamu di sini adalah hal yang sangat sederhana yang mungkin saja kamu juga berpikir remeh untuk hal ini.

Aku bangga bisa mengendarai motor dan menempuh kemacetan lalu lintas Bekasi dengan selamat.

Iya, aku tahu bagi sebagian orang, atau bahkan seluruhnya, ini nggak terlalu penting. Tapi bagiku yang punya trauma sendiri dalam mengendarai kendaraan dan sudah kenyang menaiki angkutan kota selama bertahun-tahun, bisa mengendarai motor itu punya esensi tersendiri.

Sebelum bisa mengendarai motor, aku naik angkutan kota untuk mencapai sekolah selama 6 tahun. 3 tahun SMP dan 3 tahun masa SMA. Sedangkan jarak dari naik/turun angkot ke rumahku bisa membutuhkan waktu 15-20 menit berjalan kaki.

Jarak dari rumahku ke SMP sekitar 30-40 menit naik angkot. Ditambah berjalan kaki, jadi bisa menghabiskan hampir 1 jam perjalanan. Sementara aku hanya menghabiskan 20 menit kalau mengendarai motor.

Sementara jarak dari rumahku ke SMA sekitar 1 jam untuk naik angkot. Ditambah berjalan kaki jadi bisa menghabiskan 1 jam 15 menit. Sementara aku hanya menghabiskan 40 menit kalau mengendarai motor.

Bisa dibayangkan berapa waktu yang kubuang percuma untuk diperjalanan? Banyak.
Bisa dibayangkan alasan kulitku kelam? Karena setiap hari berjemur di bawah terik matahari dan polusi udara kota Bekasi selama 15 menit.

Kenapa aku bangga bisa mengendarai motor selain menghemat waktu?

Aku bisa kemana-mana tanpa perlu terpaku pada jurusan angkot. Dan pastinya, aku lebih irit diongkos karena sekali naik angkot dengan seragam sekolah kamu akan dikenai biaya 3-5 ribu. Setiap hari aku harus merogoh kocek 8 ribu untuk naik angkot, hampir setengah uang jajanku.

Dan kamu tahu apa alasan lain aku membanggakan diriku karena bisa mengendarai motor?

Aku bisa menolong temanku yang butuh tebengan. Aku bisa nganter mereka pulang dengan selamat kalau sudat larut. Aku tahu rasanya pulang naik angkutan kota sendirian di malam hari  karena nggak dapet tebengan serta nggak ada ongkos ojek dan hampir mengalami sexual harassment.

Untungnya hampir, karena aku menyelamatkan diri. Itu mengerikan. Aku nggak mau itu terjadi pada teman perempuanku.

Sekali lagi. Jangan sampai.

Sayangnya memang apa yang kita lihat sebagai sebuah kebanggaan, nggak selalu terlihat seperti itu di mata orang lain. Beberapa orang malah bilang itu hal wajar kalau aku bisa mengendarainya, dan aku juga mengakui sudah sepatutnya aku bisa mengendarai motor terlepas dari trauma.

Di antara mereka malah menggunakan kata-kata seperti: “Halah, gitu doang.”

Tapi aku tetaplah diriku yang bodo amat dan tetap merasa kalau hal itu patut dibanggakan dan dirayakan oleh diriku sendiri.

Karena itu adalah salah satu cara bagaimana aku bisa mencintai diriku sendiri, yaitu menghargai setiap kemajuan yang terjadi pada diri sendiri.

You May Also Like

0 comments