Remeh Temeh
6/10 Ceritakan tentang hal di mana kamu pernah membanggakan
sesuatu sementara orang lain justru meremehkan.
![]() |
| weheartit.com |
Hai! Aku nulis ini menjelang deadline dan habis makan
sepiring nasi goring tapi tetap lapar.
Bodohnya aku nggak sedia stok mie instan.
Oke lanjut ke tema ini, aslinya banyak hal-hal yang
menurutku patut untuk dibanggakan tapi ternyata diremehkan luar biasa sama
orang lain. Siapa orang lain itu? Ya, orang selain diriku sendiri. Ehehe~
Tapi yang akan kuceritakan padamu di sini adalah hal yang
sangat sederhana yang mungkin saja kamu juga berpikir remeh untuk hal ini.
Aku bangga bisa mengendarai motor dan menempuh kemacetan lalu lintas Bekasi dengan selamat.
Iya, aku tahu bagi sebagian orang, atau bahkan seluruhnya,
ini nggak terlalu penting. Tapi bagiku yang punya trauma sendiri dalam
mengendarai kendaraan dan sudah kenyang menaiki angkutan kota selama
bertahun-tahun, bisa mengendarai motor itu punya esensi tersendiri.
Sebelum bisa mengendarai motor, aku naik angkutan kota untuk
mencapai sekolah selama 6 tahun. 3 tahun SMP dan 3 tahun masa SMA. Sedangkan jarak
dari naik/turun angkot ke rumahku bisa membutuhkan waktu 15-20 menit berjalan
kaki.
Jarak dari rumahku ke SMP sekitar 30-40 menit naik angkot.
Ditambah berjalan kaki, jadi bisa menghabiskan hampir 1 jam perjalanan.
Sementara aku hanya menghabiskan 20 menit kalau mengendarai motor.
Sementara jarak dari rumahku ke SMA sekitar 1 jam untuk naik
angkot. Ditambah berjalan kaki jadi bisa menghabiskan 1 jam 15 menit. Sementara
aku hanya menghabiskan 40 menit kalau mengendarai motor.
Bisa dibayangkan berapa waktu yang kubuang percuma untuk
diperjalanan? Banyak.
Bisa dibayangkan alasan kulitku kelam? Karena setiap hari
berjemur di bawah terik matahari dan polusi udara kota Bekasi selama 15 menit.
Kenapa aku bangga bisa mengendarai motor selain menghemat
waktu?
Aku bisa kemana-mana tanpa perlu terpaku pada jurusan
angkot. Dan pastinya, aku lebih irit diongkos karena sekali naik angkot dengan
seragam sekolah kamu akan dikenai biaya 3-5 ribu. Setiap hari aku harus merogoh
kocek 8 ribu untuk naik angkot, hampir setengah uang jajanku.
Dan kamu tahu apa alasan lain aku membanggakan diriku karena
bisa mengendarai motor?
Aku bisa menolong temanku yang butuh tebengan. Aku bisa
nganter mereka pulang dengan selamat kalau sudat larut. Aku tahu rasanya pulang
naik angkutan kota sendirian di malam hari karena nggak dapet tebengan serta nggak ada
ongkos ojek dan hampir mengalami sexual harassment.
Untungnya hampir, karena aku menyelamatkan diri. Itu
mengerikan. Aku nggak mau itu terjadi pada teman perempuanku.
Sekali lagi. Jangan sampai.
Sayangnya memang apa yang kita lihat sebagai sebuah
kebanggaan, nggak selalu terlihat seperti itu di mata orang lain. Beberapa
orang malah bilang itu hal wajar kalau aku bisa mengendarainya, dan aku juga
mengakui sudah sepatutnya aku bisa mengendarai motor terlepas dari trauma.
Di antara mereka malah menggunakan kata-kata seperti: “Halah,
gitu doang.”
Tapi aku tetaplah diriku yang bodo amat dan tetap merasa
kalau hal itu patut dibanggakan dan dirayakan oleh diriku sendiri.
Karena itu adalah salah satu cara bagaimana aku bisa
mencintai diriku sendiri, yaitu menghargai setiap kemajuan yang terjadi pada
diri sendiri.



0 comments