Jurnal dari Ayah

by - 8/03/2016 11:06:00 AM


weheartit.com
Matahari hampir terbenam kala Rio kembali sambil membawa sebungkus roti bakar. Ia duduk di sebelah Ria yang tengah menuliskan sesuatu di buku jurnal miliknya, buku hitam pemberian almarhum ayah mereka.

"Kali ini cerita apa?" tanya Rio sambil mengambil potongan roti bakarnya.

"Tentang anak ayah yang usil dan suka jahil sama kembarannya."

Rio tertawa. Ia mencolek pipi Ria dengan tangan penuh selai stroberi.

"Tuh 'kan usil!" Ria cemberut, membalas perlakuan Rio dengan pukulan ringan di lengan.

"Aku mau nanya deh. Kenapa kamu suka nulis?" tanya Rio.

Ria terlihat berpikir. Kedua alisnya bertaut. Ia menimbang-nimbang jawaban yang akan ia berikan pada Rio. Tidak pernah menyangka Rio akan menanyakan sesuatu yang Ria sembunyikan.

"Jangan bohong sama kembaranmu ya. Aku soalnya tahu kapan kamu bohong," kata Rio tiba-tiba, menyentak Ria yang tengah mencari-cari alasan.

Ria menghela napas. "Besok aku kasih tahu ya."

Anak laki-laki itu mengerutkan kening, tapi setelahnya ia tersenyum tanda mengerti. Ia mengambil sepotong roti lagi, menikmati rasa manis yang mengalir. Sambil menatap senja, ia menghabiskan roti bakarnya bersama anak perempuan yang duduk di sebelahnya.

***

Keesokan harinya, Ria lekas menarik tangan kembarannya, membawanya ke salah satu gang yang ada di komplek rumahnya. Hingga sampai di satu rumah yang langsung membangkitkan memori Rio beberapa saat lalu.

Itu rumah Gea, sepupunya yang selamat dari kecelakaan mobil yang dikendarain oleh ayah Rio. Kecelakaan mobil yang menewaskan kedua orang tua Gea dan ayah Si Kembar dua minggu lalu.

Ria menekan bel dua kali sebelum kakak perempuan Gea keluar dan membuka pintu pagar, sementara di sebelahnya Rio menahan napas sesaat.

"Eh, Ria. Gea ada di dalem, masuk saja," ujar Mbak Tita, lalu menyadari ada orang lain di sebelah Ria. "Rio, tumben kamu kesini? masuk yuk!"

Mbak Tita mempersilakan mereka untuk duduk di ruang keluarga sementara ia memanggil Gea yang berada di kamar.

"Kenapa ajak aku kesini?" bisik Rio pelan.

Ria hanya tersenyum, tidak membalas karena Gea bersama Mbak Tita sudah turun dari tangga yang tersambung ruang keluarga.

Gea tersenyum cerah pada Ria sementara Mbak Tita pamit sebentar untuk membeli camilan. Ia berlari lalu tangan-tangan kecilnya memeluk Ria. Baru ketika ia melepas rangkulannya, ia menyadari ada orang lain di ruangan ini.

Gea menatap Rio, lalu kembali ke Ria. Wajahnya menyiratkan rasa bingung dan takut. "Mbak, itu Mas Rio kok kesini?" tanya Gea dengan suara pelan.

Ria tersenyum. Ia menulis sesuatu di buku jurnal yang ia bawa lalu memperlihatkannya ke Gea untuk dibaca.

Tenang aja Gea, Mas Rio nggak akan meledek kamu. Mbak janji!


Gea mengangguk, tersenyum secerah matahari. "Siap deh, Mbak. Lanjutan ceritanya sudah selesai 'kan?"

Ria tersenyum lalu menulis sesuatu lagi dan menyerahkan buku yang digenggamnya kepada Gea.

Habis baca langsung minta Mbak Tirta buat kasih bukunya ke aku ya. Jadi aku cepat tulis kelanjutannya.


Gea mengangguk lagi. Ia duduk di hadapan mereka dengan jurnal Ria di pangkuannya. Tangan kecilnya membuka lembaran-lembaran jurnal tersebut, memperhatikannya dengan seksama.

Seolah menyadari sesuatu, Rio sempat kaget tapi secepat mungkin ia normalkan ekspresinya. Ia memandang dalam diam.

"Gea kehilangan pendengarannya saat kecelakaan mobil, Yo," gumam Ria tiba-tiba seolah membaca dugaan-dugaan yang muncul di kepala Rio.

"Gea sedih. Dia malu buat ketemu orang-orang. Gea nggak bisa menyimak film kartun lagi, tapi Gea pintar membaca dan membayangkannya."

"Makanya kamu suka menulis cerita biar Gea bisa baca dan jadi hiburan untuknya?" sahut Rio.

Ria mengangguk. "Awalnya begitulah. Tapi setelahnya itu menjadi hobi baru. Aku senang sekaligus lega ketika menulis. Apalagi mempunyai pembaca setia seperti Gea." Ia tersenyum memandang anak berusia sepuluh tahun itu.

"Maaf aku baru tahu soal Gea."

"Bukan salahmu. Aku dan Gea cuma butuh waktu untuk kasih tahu kamu."

Rio hanya balas tersenyum. Mereka berdua tengah memandang Gea yang membalikkan halaman demi halaman. Beberapa kali senyum kecilnya muncul, menimbulkan perasaan hangat di dalam diri Ria dan Rio.

Semoga Ayah senang karena buku jurnal Ayah bisa menghibur orang lain, batin Ria.

-e.d.

You May Also Like

0 comments