Kereta Kelabu
![]() |
| weheartit.com |
Laki-laki itu duduk di sana, di deretan
bangku di peron jalur dua dengan kamera di tangan. Seragam SMA-nya masih
menempel di tubuhnya, dilapisi jaket bewarna abu-abu tua. Ketika kereta muncul
dari bentangan rel di ujung kanannya, ia mulai mengambil posisi. Ia berdiri
agak membungkuk di sisi peron sambil menjaga tubuhnya agar tidak terjauh. Ia
mengatur fokus lalu mulai membidik. Beberapa bidikan sekaligus.
Suara bising kereta diikuti lajunya yang
melambat membuat hati laki-laki itu tenang. Entah kenapa. Ia kembali dari
posisinya, duduk di bangku deret itu lagi kala orang-orang di sekitarnya
memasuki kereta.
Pikirannya merebak. Suasana di stasiun itu
tampak buram dalam sekejap. Lalu seperti diputar-putar, bayang-bayang itu
datang lagi bagai film yang tak kunjung habis.
Ketika ia memfokuskan matanya, bayang
wajah itu muncul lagi. Tersenyum hangat saat keluar dari gerbong delapan dan
berlari kecil ke arahnya. Lalu tubuh itu merengkuh tubuhnya, membisikkan
kata-kata kerinduan yang amat dalam.
“Alden.” Suara itu begitu nyata,
menghempasnya ke realita. Segala putaran film masa lalu itu hilang dalam
sekejap. “Kok ngelamun?”
Alden berbalik setelah ia sadar sepenuhnya
dan mendapati teman sekelasnya mendekatinya dengan buku di tangan. Bukannya
menjawab pertanyaan Reva, Alden malah fokus memperhatikan buku di tangannya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Alden
kemudian.
Reva duduk di sebelahnya, menyerahkan
setumpuk buku paket yang daritadi diperhatikan Alden. “Aku mau kasih ini. Kamu
lupa dua hari lalu nitip buku tes masuk perguruan tinggi ke aku?”
“Eh iya ya?” Mata Alden mengerjap. Ia
menerima buku itu dengan perasaan bersalah. “Aku minta maaf. Aku benar-benar
lupa, tapi makasih ya bukunya!”
Reva mengibaskan tangannya. “Santai aja.”
Dia memandang sekeliling stasiun, lalu bersandar lagi pada bangku deret. “Kamu
kenapa suka di stasiun sih?”
“Yaa, kan kamu tahu aku suka kereta.
Kereta ada di stasiun kereta kan, bukan di bandara?”
Reva tergelak. Ia tertawa kecil. “Aku
serius ih, Alden. Aku heran kok kamu bisa suka kereta, padahal remaja seumuran
kita biasanya ‘kan suka motor atau mobil.”
“Karena kereta cepat dan tangguh seperti
aku.”
Reva memukul pelan lengan Alden. “Dasar!”
gerutunya, namun ia tertawa kecil.
“Itu aku serius loh.” Alden memandang rel
memandang di hadapannya. “Alasan lainnya karena kereta selalu mempertemukan aku
dengan Ibuku. Lalu kita akan menghabiskan waktu berjam-jam di stasiun sampai
kereta terakhir ke tempatnya tiba.”
Reva sempat diam beberapa saat. Lagi.
Entah sudah yang keberapa kalinya Alden mengenang Ibunya. Reva paham, karena ia
tahu perempuan penuh pendar hangat itu telah meninggalkan Alden selamanya
setahun yang lalu. Selamanya, seolah maut tega mengambil satu orang terkasih
Alden setelah ia mengambil Ayahnya.
“Kamu tahu ‘kan kalau Nenek kurang
menyukai Ibu. Apalagi setelah Ayah meninggal, Nenek makin berusaha menjauhkanku
dengan Ibu.” Suaranya tidak bergetar menahan tangis seperti dulu saat ia
pertama kali menceritakan keluarganya kepada Reva. Tapi Reva tahu di dalam
suara datar kelam itu terselip perasaan rindu yang menggebu.
Seolah tersadar sesuatu, Alden tidak
membiarkan bibirnya lebih banyak berucap. Dia memejamkan mata, mencoba
menikmati lagi suara bising kereta yang lewat dan semilir angin yang
dihasilkannya. Perlahan, tangan kecil merengkuh bahunya, mengusap punggungnya
menenangkan. Lalu tanpa suara, Reva seolah berkata, “Semuanya akan baik-baik
saja.”
Masalahnya adalah laki-laki itu tidak
begitu yakin. Reva tidak tahu
keseluruhan cerita yang membuat Alden begitu terpuruk hingga merangkak pun tak
bisa. Reva tidak tahu bagaimana kematian Ibunya. Reva tidak tahu bahwa kematian
Ibunya disebabkan oleh transportasi kesukaan Alden. Reva tidak tahu bahwa
kematian Ibunya juga disebabkan oleh Alden sendiri, yang secara tidak sengaja
mendorong Sang Ibu jatuh dari rel kala kereta lewat saat dirinya ditarik oleh
Nenek untuk segera pulang.
Padahal laki-laki itu tak sengaja. Ia
hanya ingin lari kepelukan Sang Ibu, meminta pertolongan, meminta bahu untuk
disandarkan. Tapi kereta tetap merenggut nyawanya dengan gagah.
-Fin



0 comments