Kereta Kelabu

by - 10/03/2017 11:44:00 AM

weheartit.com

Laki-laki itu duduk di sana, di deretan bangku di peron jalur dua dengan kamera di tangan. Seragam SMA-nya masih menempel di tubuhnya, dilapisi jaket bewarna abu-abu tua. Ketika kereta muncul dari bentangan rel di ujung kanannya, ia mulai mengambil posisi. Ia berdiri agak membungkuk di sisi peron sambil menjaga tubuhnya agar tidak terjauh. Ia mengatur fokus lalu mulai membidik. Beberapa bidikan sekaligus.
Suara bising kereta diikuti lajunya yang melambat membuat hati laki-laki itu tenang. Entah kenapa. Ia kembali dari posisinya, duduk di bangku deret itu lagi kala orang-orang di sekitarnya memasuki kereta.
Pikirannya merebak. Suasana di stasiun itu tampak buram dalam sekejap. Lalu seperti diputar-putar, bayang-bayang itu datang lagi bagai film yang tak kunjung habis.
Ketika ia memfokuskan matanya, bayang wajah itu muncul lagi. Tersenyum hangat saat keluar dari gerbong delapan dan berlari kecil ke arahnya. Lalu tubuh itu merengkuh tubuhnya, membisikkan kata-kata kerinduan yang amat dalam.
“Alden.” Suara itu begitu nyata, menghempasnya ke realita. Segala putaran film masa lalu itu hilang dalam sekejap. “Kok ngelamun?”
Alden berbalik setelah ia sadar sepenuhnya dan mendapati teman sekelasnya mendekatinya dengan buku di tangan. Bukannya menjawab pertanyaan Reva, Alden malah fokus memperhatikan buku di tangannya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Alden kemudian.
Reva duduk di sebelahnya, menyerahkan setumpuk buku paket yang daritadi diperhatikan Alden. “Aku mau kasih ini. Kamu lupa dua hari lalu nitip buku tes masuk perguruan tinggi ke aku?”
“Eh iya ya?” Mata Alden mengerjap. Ia menerima buku itu dengan perasaan bersalah. “Aku minta maaf. Aku benar-benar lupa, tapi makasih ya bukunya!”
Reva mengibaskan tangannya. “Santai aja.” Dia memandang sekeliling stasiun, lalu bersandar lagi pada bangku deret. “Kamu kenapa suka di stasiun sih?”
“Yaa, kan kamu tahu aku suka kereta. Kereta ada di stasiun kereta kan, bukan di bandara?”
Reva tergelak. Ia tertawa kecil. “Aku serius ih, Alden. Aku heran kok kamu bisa suka kereta, padahal remaja seumuran kita biasanya ‘kan suka motor atau mobil.”
“Karena kereta cepat dan tangguh seperti aku.”
Reva memukul pelan lengan Alden. “Dasar!” gerutunya, namun ia tertawa kecil.
“Itu aku serius loh.” Alden memandang rel memandang di hadapannya. “Alasan lainnya karena kereta selalu mempertemukan aku dengan Ibuku. Lalu kita akan menghabiskan waktu berjam-jam di stasiun sampai kereta terakhir ke tempatnya tiba.”
Reva sempat diam beberapa saat. Lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya Alden mengenang Ibunya. Reva paham, karena ia tahu perempuan penuh pendar hangat itu telah meninggalkan Alden selamanya setahun yang lalu. Selamanya, seolah maut tega mengambil satu orang terkasih Alden setelah ia mengambil Ayahnya.
“Kamu tahu ‘kan kalau Nenek kurang menyukai Ibu. Apalagi setelah Ayah meninggal, Nenek makin berusaha menjauhkanku dengan Ibu.” Suaranya tidak bergetar menahan tangis seperti dulu saat ia pertama kali menceritakan keluarganya kepada Reva. Tapi Reva tahu di dalam suara datar kelam itu terselip perasaan rindu yang menggebu.
Seolah tersadar sesuatu, Alden tidak membiarkan bibirnya lebih banyak berucap. Dia memejamkan mata, mencoba menikmati lagi suara bising kereta yang lewat dan semilir angin yang dihasilkannya. Perlahan, tangan kecil merengkuh bahunya, mengusap punggungnya menenangkan. Lalu tanpa suara, Reva seolah berkata, “Semuanya akan baik-baik saja.”
Masalahnya adalah laki-laki itu tidak begitu yakin.  Reva tidak tahu keseluruhan cerita yang membuat Alden begitu terpuruk hingga merangkak pun tak bisa. Reva tidak tahu bagaimana kematian Ibunya. Reva tidak tahu bahwa kematian Ibunya disebabkan oleh transportasi kesukaan Alden. Reva tidak tahu bahwa kematian Ibunya juga disebabkan oleh Alden sendiri, yang secara tidak sengaja mendorong Sang Ibu jatuh dari rel kala kereta lewat saat dirinya ditarik oleh Nenek untuk segera pulang.

Padahal laki-laki itu tak sengaja. Ia hanya ingin lari kepelukan Sang Ibu, meminta pertolongan, meminta bahu untuk disandarkan. Tapi kereta tetap merenggut nyawanya dengan gagah.

-Fin

You May Also Like

0 comments