Review Novel Let Go

by - 4/13/2015 10:48:00 PM

Judul : Let Go
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gagas Media                                                    
Tahun terbit : 2009
Halaman : 244 halaman

Ini salah satu karya Windhy Puspitadewi yang menarik banyak minat di kalangan pembaca, termaksud aku sendiri. Jujur saja saat pertama kali melihat cover novel ini yang terlintas di otak adalah cerita-romansa-khas-anak-muda-yang-penuh-tragedi. Ya walau memang benar, aku masih nggak nyangka ceritanya bakal dibawa sesantai ini.

Caraka, atau biasa dipanggil Raka, murid yang sudah berkelahi dua kali dalam waktu 4 bulan sejak ia pertama kali masuk sekolah. Akhirnya karena mengikuti anjuran Bu Ratna (daripada harus menanggung resiko dikeluarkan dari sekolah), ia harus menjalani hukuman yang menurutnya nggak banget : Bergabung dengan tim majalah sekolah bernama Veritas dengan tiga manusia aneh di dalamnya (setidaknya itulah yang Raka pikirkan). Nadya, Nathan dan Sarah tiga anak kelas X yang berasal dari kelas yang sama dengan Raka menjadi teman tim-nya dalam upaya mengembangkan majalah sekolah. Dari yang awalnya tidak mengenal satu sama lain (meski sekelas) melalui Veritas, keempat orang ini akhirnya menggalang persahabatan bersama-sama.
Raka si otak bebal yang keras kepala, peduli terhadap orang lain, tapi sering menggunakan otot daripada otaknya ini harus bekerja sama dengan tiga orang lainnya : Nathan, cowok pintar, kaya, tampan, dan jago dalam segala bidang tapi mempunyai sikap sinis dan dinginnya ; Nadya, cewek cantik, pintar, aktif dan mandiri hingga ia lupa untuk meminta tolong kepada orang lain ; dan Sarah, cewek cantik, pemalu, ramah, suka menolong hingga lupa bagaimana caranya untuk mengatakan “tidak” kepada orang lain.
Persahabatan mereka terbentuk tanpa mereka sadari. Termasuk kisah cinta sederhana dari  keempat orang itu, memilih dan kehilangan. Berbagai cobaan menghadang, mengajarkan mereka bagaimana menjadi dewasa, tegas dan teguh pada pendirian, menyayangi dan disayangi, bahkan meninggalkan dan ditinggalkan, khususnya antara Raka dengan cowok yang sering membuat amarahnya naik, Nathan. Tentang dua orang sahabat yang pura-pura nggak peduli padahal sangat peduli. Tentang cewek yang akhirnya bisa mengucapkan kata “tolong”, Nadya. Juga tentang cewek berambut ikal sebahu yang akhirnya bisa mengucapkan kata “nggak”. Ini semua tentang Raka, Nathan, Nadya dan Sarah yang akhirnya menjadi pribadi yang lebih baik karena masuk ke dalam Veritas.
Alur novel ini cukup sederhana dengan konflik yang dibuat masih berdasarkan logika. Permainan kata yang berada pada dialog membuat novel ini menjadi lebih berbobot dan terlihat cerdas. Apalagi ciri khas mbak Windhy yang suka mengutip kata-kata mutiara dari film, komik ataupun lagu. Itu benar-benar mengagumkan.
Gaya penulisan bahasa ini remaja banget, walau tanpa embel-embel “bahasa gaul” yang lagi ngetrend. Penulisannya nggak berbelit-belit dan poin tambahan dalam hal ini adalah bagaimana cara mbak Windhy dalam meng-karakterisasi si tokoh lewat dialog yang dia buat. Sederhana tapi dipoles dengan apik sehingga menimbulkan kesan hidup. Semua karakter dibuat berbeda-beda, menimbulkan kesan hidup dan stabil dari awal cerita hingga akhir cerita.

Singkat cerita novel ini sangat direkomendasikan buat kamu yang suka teenlit berbobot untuk dibaca apalagi dikoleksi!^^

You May Also Like

0 comments