Review Novel Let Go
Judul : Let
Go
Penulis :
Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2009
Halaman : 244 halaman
Ini salah satu karya
Windhy Puspitadewi yang menarik banyak minat di kalangan pembaca, termaksud aku
sendiri. Jujur saja saat pertama kali melihat cover novel ini yang terlintas di
otak adalah cerita-romansa-khas-anak-muda-yang-penuh-tragedi. Ya walau memang
benar, aku masih nggak nyangka ceritanya bakal dibawa sesantai ini.
Caraka, atau biasa
dipanggil Raka, murid yang sudah berkelahi dua kali dalam waktu 4 bulan sejak
ia pertama kali masuk sekolah. Akhirnya karena mengikuti anjuran Bu Ratna
(daripada harus menanggung resiko dikeluarkan dari sekolah), ia harus menjalani
hukuman yang menurutnya nggak banget : Bergabung dengan tim majalah sekolah
bernama Veritas dengan tiga manusia aneh di dalamnya (setidaknya itulah yang
Raka pikirkan). Nadya, Nathan dan Sarah tiga anak kelas X yang berasal dari
kelas yang sama dengan Raka menjadi teman tim-nya dalam upaya mengembangkan
majalah sekolah. Dari yang awalnya tidak mengenal satu sama lain (meski
sekelas) melalui Veritas, keempat orang ini akhirnya menggalang persahabatan
bersama-sama.
Raka si otak bebal
yang keras kepala, peduli terhadap orang lain, tapi sering menggunakan otot
daripada otaknya ini harus bekerja sama dengan tiga orang lainnya : Nathan,
cowok pintar, kaya, tampan, dan jago dalam segala bidang tapi mempunyai sikap
sinis dan dinginnya ; Nadya, cewek cantik, pintar, aktif dan mandiri hingga ia
lupa untuk meminta tolong kepada orang lain ; dan Sarah, cewek cantik, pemalu,
ramah, suka menolong hingga lupa bagaimana caranya untuk mengatakan “tidak”
kepada orang lain.
Persahabatan mereka
terbentuk tanpa mereka sadari. Termasuk kisah cinta sederhana dari keempat orang itu, memilih dan kehilangan. Berbagai
cobaan menghadang, mengajarkan mereka bagaimana menjadi dewasa, tegas dan teguh
pada pendirian, menyayangi dan disayangi, bahkan meninggalkan dan ditinggalkan,
khususnya antara Raka dengan cowok yang sering membuat amarahnya naik, Nathan. Tentang
dua orang sahabat yang pura-pura nggak peduli padahal sangat peduli. Tentang cewek
yang akhirnya bisa mengucapkan kata “tolong”, Nadya. Juga tentang cewek
berambut ikal sebahu yang akhirnya bisa mengucapkan kata “nggak”. Ini semua
tentang Raka, Nathan, Nadya dan Sarah yang akhirnya menjadi pribadi yang lebih
baik karena masuk ke dalam Veritas.
Alur novel ini cukup
sederhana dengan konflik yang dibuat masih berdasarkan logika. Permainan kata
yang berada pada dialog membuat novel ini menjadi lebih berbobot dan terlihat
cerdas. Apalagi ciri khas mbak Windhy yang suka mengutip kata-kata mutiara dari
film, komik ataupun lagu. Itu benar-benar mengagumkan.
Gaya penulisan bahasa
ini remaja banget, walau tanpa embel-embel “bahasa gaul” yang lagi ngetrend. Penulisannya
nggak berbelit-belit dan poin tambahan dalam hal ini adalah bagaimana cara mbak
Windhy dalam meng-karakterisasi si tokoh lewat dialog yang dia buat. Sederhana tapi
dipoles dengan apik sehingga menimbulkan kesan hidup. Semua karakter dibuat
berbeda-beda, menimbulkan kesan hidup dan stabil dari awal cerita hingga akhir
cerita.
Singkat cerita novel
ini sangat direkomendasikan buat kamu yang suka teenlit berbobot untuk dibaca
apalagi dikoleksi!^^


0 comments